JawaPos.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak terhadap wilayah di sekitar Selat Sunda tetapi juga sangat berbahaya bagi transportasi udara bila memaksakan diri untuk terbang.
Pengamat penerbangan, Alvin Lie, mengatakan abu vulkanik memiliki karakteristik tajam dan keras sehingga dapat merusak sejumlah komponen pesawat yang bersentuhan langsung dengan partikel tersebut.
Menurutnya, dampak dari abu vulkanik terhadap pesawat dapat menyebabkan goresan pada kaca pesawat hingga rusaknya sistem pitot yang sangat sangat berdampak pada sistem sensor.
“Yang biasanya bening karena kena benda tajam itu menjadi buram tidak bisa melihat keluar nah itu ketika terjadi pada kaca di kokpit pilot tidak akan bisa melihat keluar karena pandangannya terhalang,” ujar Alvin kepada JawaPos.com, Minggu (6/9).
Alvin mengatakan, abu vulkanik juga dapat menyumbat tabung pitot. Komponen tersebut merupakan sensor penting yang digunakan untuk mengukur kecepatan dan ketinggian pesawat.
Penyumbatan pada sistem tersebut, dapat mengacaukan informasi yang diterima pilot dan pada akhirnya mengganggu navigasi penerbangan.
Abu vulkanik juga berpotensi mengganggu sejumlah komponen yang memiliki bagian bergerak pada pesawat. Salah satunya attitude indicator yang membantu menunjukkan posisi pesawat, termasuk apakah pesawat sedang menanjak atau menukik.
Ia menjelaskan, komponen lain seperti flap dan aileron pada sayap pesawat juga berpotensi terdampak. Aileron berfungsi membantu pesawat melakukan gerakan berguling ke kanan atau kiri.
Sementara itu, bagian ekor pesawat seperti rudder dan elevator berfungsi membantu mengarahkan pesawat ke kanan atau kiri serta mengendalikan gerakan menanjak dan menukik.
“Abu vulkanik ini dapat menghambat pergerakan pesawat tidak bisa bergerak dikendalikan secara normal,” jelasnya.
Dapat Membuat Mesin Pesawat Mati
Alvin menjelaskan, bahaya paling serius dari abu vulkanik adalah ketika partikel tersebut masuk ke dalam mesin pesawat.
Pasalnya, abu vulkanik dapat merusak komponen di dalam mesin, termasuk bagian turbin. Partikel tersebut juga dapat mengganggu proses pembakaran karena udara yang masuk ke mesin telah terkontaminasi abu vulkanik.
“Abu vulkanik terbukti sudah pernah membuat mesin-mesin pesawat ini mati karena masuk ke dalam mesin,” ucapnya.
Ia mencontohkan, mencontohkan insiden British Airways 007 saat pesawat tersebut menghadapi awan abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Krakatau pada masa lalu.
Dalam kejadian tersebut, empat mesin pesawat sempat mati. Beruntung, ketika pesawat berhasil turun ke ketinggian sekitar 10 ribu kaki, mesin dapat kembali dihidupkan sehingga pesawat bisa melakukan pendaratan di Bandara Halim Perdanakusuma.
“Kita ingat peristiwa British Airways 007 yang pada saat Gunung Rakatau meletus tahun 70-an itu empat mesinnya semua mati beruntung ketika turun pada ketinggian 10 ribu dimana udara itu sudah lebih pekat masih bisa menghidupkan mesinnya dan bisa mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma,” ujarnya.
Alvin melanjutkan, ancaman terhadap penerbangan semakin besar karena berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini dilaporkan mencapai ketinggian hingga 50 ribu kaki.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau, 459 Penerbangan Terdampak Penutupan 3 Bandara Utama
Menurutnya, ketinggian tersebut berada jauh di atas ketinggian jelajah penerbangan komersial pada umumnya.
“Padahal ketinggian terbang pesawat normal itu hanya antara 30 hingga 35 ribu kaki dan yang tertinggi adalah 40 ribu kaki jelas ini merupakan ancaman bagi penerbangan,” pungkasnya.