JawaPos.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap sejumlah penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Bahkan, sebanyak 33 jadwal penerbangan disebut terdampak.
Sebaran abu vulkanik pada ketinggian tertentu perlu mendapat pemantauan serius. Ini karena abu dapat memengaruhi jalur penerbangan jika memasuki ruang udara pesawat.
Pengamat penerbangan Vincent Herdison mengatakan arah pergerakan abu vulkanik dipengaruhi kondisi angin pada ketinggian tertentu. Menurutnya, sebagian besar abu terdorong ke wilayah laut sehingga dampak ke daratan kurang signifikan.
"Disisi penerbangan, awan abu vulkanik ini memang cukup tinggi, dengan angin yang bertiup ke barat pada ketinggian tertentu, turut menyapu abu kesisi laut dan tidak berimbas ke daratan," kata Vincent dalam unggahan pada media sosial Threads, Minggu (6/9).
Meski demikian, Vincent menyebut masih ada kemungkinan sebagian abu terbawa angin ke daratan. Kondisi itu menjadi aspek yang terus dipantau pihak terkait untuk menjaga keselamatan penerbangan.
"Tetapi pada ketinggian tertentu, ada angin yang masih membawa sedikit abu ke daratan juga. Sudah dipetakan, diamati dan dihitung juga oleh pihak terkait, bahwa sebaran abunya ini mengarah kemana, & area mana yang boleh diterbangi pesawat dan tidak," ujarnya.
Vincent menjelaskan abu vulkanik memiliki karakter berbeda dari debu biasa. Kandungan partikel silika dapat menimbulkan risiko serius saat masuk sistem pesawat, terutama jika melintasi konsentrasi abu tinggi.
Abu vulkanik yang mengandung partikel silika juga bersifat abrasif. Pada mesin pesawat, partikel meleleh karena temperatur tinggi di ruang pembakaran dan menempel pada turbin, ganggu aliran udara.
Kondisi ini berpotensi sebabkan gangguan kinerja mesin seperti engine surge, daya dorong berkurang, hingga flameout atau mesin kehilangan tenaga. Karena itu, awan abu vulkanik jadi faktor penting dalam menentukan jalur penerbangan.
Selain mesin, abu vulkanik juga dapat ganggu sistem instrumen pesawat. Partikel menyumbat sistem Pitot-Static dan menyebabkan data kecepatan pesawat tidak akurat atau tampilkan informasi unreliable airspeed di kokpit.
Dampak lain adalah efek abrasif pada bagian pesawat. Partikel abu yang tajam seperti material pengikis dapat membuat kaca kokpit buram dan merusak bagian airframe.
Vincent juga mengingatkan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau bisa sampai ke sebagian wilayah Jawa Barat. Ini harus diperhatikan karena jalur penerbangan di sana cukup aktif.
"Setelah dilihat, ada probabilitas bahwa sebaran abu vulkanik dari Anak Krakatau ini bisa berimbas jg sedikit ke area Jawa Barat," ucap Vincent.
Ia berharap perkembangan sebaran abu vulkanik tidak sampai mengganggu operasional penerbangan nasional. Menurut Vincent, posisi Bandara Soekarno-Hatta (CGK) sebagai pusat utama penerbangan Indonesia membuat ruang udara di sekitar sangat penting diperhatikan.
Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Picu Penutupan Bandara Soetta, InJourney Aktifkan Layanan SRA
"Semoga tidak mempengaruhi penerbangan Indonesia ya. Karena Indonesia cukup bergantung dengan CGK sebagai bandara utama di Indonesia. Semoga jelas apa yang saya jelaskan diatas ya. Salam Audio dan Aviasi," terang dia. (*)