← Beranda
Antisipasi Dampak Asap Karhutla, Pemerintah Perkuat Satgas Penyelamatan Satwa Liar
Muhammad RidwanMinggu, 6 September 2026 | 14.39 WIB
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (kanan) menggendong orangutan di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. (Humas Kemenhut)

 

 

JawaPos.com - Pemerintah memperkuat Satgas Penyelamatan Satwa Liar di Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama bagi populasi orangutan.

Upaya tersebut dilakukan dengan mempererat koordinasi antara Kementerian Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng. Sejumlah lembaga konservasi lama juga terlibat dalam perlindungan satwa liar.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan, penguatan satgas bukan berarti membentuk organisasi baru. Pemerintah memilih memperkuat sistem kerja sama yang telah berjalan antara Kementerian Kehutanan, BKSDA Kalteng, BOSF, OFI, dan OFI UK.

“Dampak Karhutla ini adalah selain kepada manusia, tentu adalah kepada satwa liar. Satgas yang ada selama ini kita perkuat kembali, jadi Satgas Penyelamatan Satwa Liar di Kalimantan Tengah. Jadi ini bukan Satgas baru, kerja sama seperti yang saya katakan tadi sudah lama terjadi, tapi kita perkuat,” kata Raja Juli Antoni, usai melakukan pengecekkan orang utan di Nyaru Menteng, Kalsel, Sabtu (5/9).

Menurutnya, kesiapan penanganan satwa juga harus diperkuat dari aspek kesehatan. Salah satunya dengan memastikan ketersediaan dokter hewan yang siap menangani satwa terdampak karhutla.

Pemerintah, kata dia, juga membuka kemungkinan mendatangkan dokter hewan dari luar Kalteng bila tenaga medis di daerah tidak cukup. Ini untuk menangani kondisi darurat yang mungkin terjadi.

“Peralatan medis ya. Pertama, ketersediaan dokter hewan. Kita sudah cek, masing-masing punya dokter hewan ya. Kalau kurang nanti kita juga bisa kirimkan, di-BKO-kan dari Jawa ya, dari Jawa atau dari tempat lain untuk membantu teman-teman di sini, kalau seandainya naudzubillah terjadi sesuatu yang tidak lagi mampu ditangani oleh dokter hewan yang ada di Kalimantan Tengah,” tegasnya.

Selain tenaga medis, kebutuhan peralatan kesehatan turut menjadi perhatian penting. Beberapa perlengkapan, termasuk tabung oksigen dan nebulizer, disiapkan untuk membantu orangutan yang mengalami gangguan pernapasan akibat asap karhutla.

Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena ancaman karhutla pada satwa tidak hanya saat api membakar habitat. Asap pekat dan menurunnya kualitas udara juga berdampak buruk pada kesehatan satwa liar.

Karena itu, penguatan satgas diarahkan tidak hanya untuk menyelamatkan satwa yang terdampak. Koordinasi antara pemerintah dan organisasi konservasi juga diperkuat selama situasi karhutla berlangsung.

Raja Juli menegaskan, upaya perlindungan satwa harus berjalan beriringan dengan penanganan kebakaran. Pemadaman api dan pencegahan penyebaran asap adalah langkah utama mengurangi risiko bagi masyarakat dan satwa.

Melalui penguatan kerja sama tersebut, pemerintah berharap penanganan satwa liar terdampak karhutla di Kalteng dapat lebih cepat dan terkoordinasi. Harapannya, dapat meminimalkan ancaman pada populasi orangutan dan satwa liar lainnya.

Baca Juga: 5.865 Hektare Lahan di Riau Terbakar, Polri Perketat Pencegahan Karhutla

“Selain berusaha memadamkan apinya, mencegah asapnya, tentu ini tadi, bekerja sama lebih erat lagi, berkolaborasi lagi, agar tadi tidak menimpa banyak orangutan kita di Kalimantan Tengah,” urainya. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan