JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan terpukul atas Rentetan kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kondisi itu terjadi ketika lembaga tersebut tengah berupaya membenahi tata kelola program yang selama ini menjadi sorotan.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, persoalan keracunan makanan menjadi tantangan baru di tengah berbagai pembenahan yang sedang dilakukan lembaganya.
Mulai dari sistem, aturan, teknologi informasi, pelaporan, hingga pengawasan.
Baca Juga: SPPG Soditan Lasem Rembang Tanggung Biaya Pengobatan Siswa Diduga Keracunan MBG
"Tapi kemudian di atas itu semua tiba-tiba ada keracunan makanan itu kemudian kami aduh cukup sangat prihatin dan drop ya. Tapi ini menjadi tantangan kami pastikan kami berusaha keras, ya," kata Sudaryono di DPR, Kamis (3/9) malam.
Sudaryono menyebut, berdasarkan pemetaan terhadap kasus keracunan MBG yang terjadi di sejumlah wilayah, sekitar 80-90 persen di antaranya berkaitan dengan pelanggaran SOP.
Ketidaktaatan itu ditemukan mulai dari proses penyimpanan makanan hingga pengaturan suhu dan batas waktu konsumsi.
"Bagaimana kami tadi sudah sudah jelaskan juga dalam dari kasus keracunan yang ada itu kalau kita breakdown itu 80-90% itu karena tidak taat SOP," kata dia.
Menurut dia, persoalan tersebut menjadi tantangan besar bagi BGN di tengah upaya lembaga tersebut membenahi tata kelola program MBG.
Baca Juga: 5 Fakta Kasus Dugaan Keracunan MBG di SMPN 1 Kabuh Jombang, Menu Udang jadi Sorotan Siswa
Terlebih, BGN saat ini juga tengah melakukan pembenahan terhadap sistem, regulasi, teknologi informasi, pelaporan hingga pengawasan.
"Tentu saja kendala terbesar kami adalah di saat kami kemudian memperbaiki tata kelola, sistem, peraturan, IT, pelaporan, pengawasan, zoom meeting, jam kerja, lain-lain yang kami kerjakan ini selama sebulanan ini," sambung Sudaryono.
Sudaryono menyebut sejumlah kasus keracunan yang menjadi perhatian BGN terjadi di Sidoarjo, Agam, hingga Lasem, Rembang.
BGN, kata dia, tidak ingin persoalan tersebut membuat pembenahan program terhenti.
"Ini tentu saja kami sangat sangat terpukul sebetulnya tapi ini dan kami tidak boleh menyerah," tutur Sudaryono.
Baca Juga: Banyak Kasus Keracunan, BGN Tetap Kejar Target 72,46 Juta Penerima Manfaat MBG pada 2027
Dia memastikan pembenahan tata kelola MBG akan terus dilakukan, termasuk memperbaiki aturan dan alur pengelolaan keuangan.
Koordinasi antar-kementerian dan lembaga terkait juga diperkuat untuk memastikan pelaksanaan program tidak sekadar berorientasi pada pembagian makanan.
"Insya Allah ini kami kita perbaiki semua tata kelolanya, aturannya, flow flow penataan keuangannya dan lain sebagainya, ya kami kemudian terus berkoordinasi data. Antar kementerian lembaga yang terkait terkait MBG ini juga sudah saling ngobrol, sehingga BGN ini tidak hanya ngasih makan orang kemudian kenyang selesai, nggak," pungkasnya.