← Beranda
Dalam 3 Hari 2.269 Orang Diduga Keracunan MBG di 6 Daerah
Dimas ChoirulJumat, 4 September 2026 | 04.22 WIB
Siswa SMPN 1 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dilaporkan keracunan massal, Kamis (3/9/). Mereka diduga keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan sehari sebelumnya. (Harian Fajar)

 

JawaPos.com – Dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah daerah. Dalam tiga hari, sejak 1 hingga 3 September 2026, sedikitnya 2.269 siswa dan warga sekolah dilaporkan mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi MBG.

Angka tersebut dihimpun dari laporan sejumlah media jaringan Jawa Pos Group dan JawaPos.com serta berbagai sumber hingga Kamis (3/9) malam. Enam daerah yang mencatat kejadian tersebut yakni Rembang, Sidoarjo, Jombang, Nganjuk, Tana Toraja, dan Agam.

Jumlah tersebut bisa jadi bertambah seiring laporan dari Dinas Kesehatan setempat yang terus diperbarui.

Kasus dengan jumlah korban terbesar terjadi di Rembang, Jawa Tengah. Sebanyak 752 siswa dan 25 guru SMAN 1 Lasem, atau total 777 orang, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG. Aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut bahkan dihentikan dan siswa dipulangkan lebih awal.

Baca Juga: Bertambah, Dinkes Jombang Sebut 256 Siswa SMPN 1 Kabuh yang Diduga Keracunan MBG

Kasus dengan jumlah korban terbesar berikutnya terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. JawaPos.com melaporkan jumlah korban dugaan keracunan MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam mencapai 666 orang hingga Kamis (3/9). Dari jumlah tersebut, 581 orang telah pulang, sedangkan lainnya masih menjalani perawatan atau observasi.

Di Agam, Sumatera Barat, dilaporkan 334 siswa di Kecamatan Palupuh diduga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap MBG dari satu dapur SPPG. Dua siswa di antaranya dirujuk ke rumah sakit.

Di Jombang, jumlah korban dugaan keracunan MBG di SMPN 1 Kabuh juga mengalami peningkatan tajam. Radar Jombang melaporkan Dinas Kesehatan setempat mencatat 256 orang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG.

Kasus serupa muncul di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sebanyak 136 siswa SMPN 1 dan SMPN 2 Makale mendapat perawatan di tiga rumah sakit setelah mengalami keluhan kesehatan usai menerima MBG. Pemerintah daerah masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.

Sementara di Nganjuk, jumlah korban yang semula dilaporkan puluhan orang kemudian berkembang menjadi 100 siswa. Angka tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak pada Kamis (3/9). Korban tidak hanya berasal dari SMAN 3 Nganjuk, tetapi juga siswa dari jenjang pendidikan lain.

Jika dijumlahkan, terdapat 2.269 orang yang dilaporkan terdampak dugaan keracunan atau gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG sepanjang periode 1–3 September 2026.

Namun, angka tersebut masih bersifat sementara. Sebab, sejumlah pemerintah daerah masih melakukan pendataan terhadap korban dan pemeriksaan terhadap sampel makanan untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan.

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyampaikan permintaan maaf atas kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan santri di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (1/9). Dia mengakui adanya kelalaian yang menyebabkan gangguan kesehatan terhadap penerima manfaat.

Baca Juga: BK DPD RI Bakal Panggil Arya Wedakarna Buntut Hadiri Acara LGBT di Thailand

"Saya juga menyampaikan di tempat ini, keracunan makanan yang ada di Sidoarjo kemarin, permohonan maaf saya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional atas kelalaian dan hal-hal yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan di Sidoarjo, di pondok pesantren yang sampai saat ini datanya terekap di tempat kami," kata Sudaryono dikutip dari video di instagram @sudaru_sudaryono, Kamis (3/9).

Dia mengatakan, BGN masih melakukan pemantauan terhadap penerima manfaat yang terdampak. Selain memonitor korban yang menjalani perawatan dan yang telah kembali, BGN juga menelusuri penerima manfaat yang tidak mendatangi fasilitas kesehatan.

"Kami terus monitor berapa yang dirawat, berapa yang sudah kembali, dan kami terus menyisir juga penerima-penerima manfaat lain yang barangkali tidak berangkat ke Puskesmas atau ke rumah sakit itu kami juga sisir, siapa tahu ada yang kemudian sakit ada di rumah dan seterusnya," ujarnya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan