JawaPos.com - Inovasi tepung berbahan ubi dan singkong dinilai berpotensi membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi bukan solusi utama untuk mengatasi persoalan karhutla di Kalimantan.
Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Agustino Zulys menilai strategi pencegahan dan penanganan penyebab kebakaran harus menjadi prioritas agar bencana serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Menurut Zulys, penggunaan tepung ubi atau singkong sebagai bahan pemadam memang memungkinkan secara kimia. Tepung tersebut kaya polisakarida yang dapat dikembangkan menjadi biopolimer, termasuk melalui formulasi hidrogel yang berpotensi membantu mempertahankan air lebih lama, sehingga proses pendinginan api menjadi lebih efektif.
“Menariknya, bisa juga menggunakan biopolimer berbasis tepung, seperti ubi dan singkong. Bahan itu berpotensi menjadi bahan baku karena kaya polisakarida. Tetapi efektivitasnya tergantung pada formulasinya dan perlu diuji khusus,” kata Zulys dalam video Behind The Science yang dikutip pada Sabtu (29/8).
Ia menjelaskan prinsip pemadaman api pada dasarnya dapat dilihat melalui konsep segitiga api. Api membutuhkan tiga unsur utama, yakni bahan bakar, oksigen, dan panas. Karena itu, pemadaman dilakukan dengan menghilangkan salah satu unsur tersebut.
Baca Juga: Polda Kalsel Gunakan Cairan Tepung Ubi untuk Padamkan Karhutla Gambut
“Kurangi bahan bakarnya atau usir oksigennya dengan gas CO2, atau turunkan panasnya menggunakan air,” jelasnya.
Dalam konteks tepung ubi dan singkong, Zulys menyebut material tersebut berpotensi diformulasikan menjadi hidrogel. Teknologi ini dapat membantu menahan air lebih lama sehingga pendinginan berlangsung lebih efektif untuk menghilangkan api.
“Secara kimia, dimungkinkan menggunakan formulasi hidrogel yang tepat dalam membantu menahan air lebih lama, sehingga terjadi pendinginan yang efektif menghilangkan api,” jelasnya.
Gambut Kalimantan Punya Risiko Api Bawah Permukaan
Karakteristik lahan gambut di Kalimantan membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat dari permukaan.
“Gambut menyimpan material organik dalam jumlah yang sangat besar. Ketika mengering, api tidak hanya membakar apa yang kita lihat di permukaan, api dapat bertahan di lapisan dalamnya,” katanya.
Oleh karena itu, pendekatan penanganan karhutla harus dilakukan secara berkelanjutan. Pemadaman api tetap penting, tetapi harus dibarengi dengan sistem yang mampu mendeteksi, mencegah, dan menindak faktor penyebab kebakaran.
“Penanganan kebakaran hutan bukan hanya memadamkan apinya. Harus ada strategi yang berkelanjutan agar tidak terulang kembali, yaitu memberlakukan penguatan sistem prediksi, sistem pencegahan, sistem audit, dan sistem hukum,” tegasnya.
Baca Juga: Bukan dari Tepung Ubi, Pakar IPB Ini Pernah Uji Coba Pemadaman Api dengan Tepung Jagung
Teknologi Pencegahan Karhutla Sudah Tersedia
Prof. Zulys menyebut teknologi untuk memperkuat pencegahan karhutla sebenarnya sudah tersedia. Pemerintah dapat memanfaatkan data satelit untuk mendeteksi hotspot, peta konsesi lahan gambut, hingga kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan wilayah yang memiliki risiko kebakaran.
“Teknologinya sebenarnya sudah ada: satelit hotspot, peta konsesi lahan gambut, bahkan ada AI untuk memetakan risiko,” ungkapnya.
Menurutnya, data tersebut perlu dimanfaatkan secara lebih serius untuk melakukan analisis dan audit terhadap wilayah yang mengalami kebakaran berulang. Data mengenai wilayah yang terbakar juga dinilai perlu dibuka kepada publik sehingga pengawasan dapat dilakukan secara lebih luas.
“Analisis dan audit wilayah yang terbakar berulang, buka datanya kepada publik, dan kalau ditemukan pelanggaran, siapa pun pelakunya harus diproses,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya penegakan hukum tanpa pandang bulu terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran terkait pengelolaan hutan dan lahan.
“Hukum jangan tajam ke bawah tumpul ke atas. Pengelola yang punya integritas, jangan sampai pula kucing lapar yang menjaga ikan,” tegas. Prof. Zulys.
Dia menegaskan, upaya menjaga hutan tidak berarti harus menolak investasi. Namun, kegiatan investasi harus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan dampaknya terhadap masyarakat.
Baca Juga: Mahfud MD Heran Karhutla Bisa Dipadamkan dengan Tepung Singkong
“Kita tidak anti investasi, tetapi investasi tidak boleh dibayar dengan kerusakan hutan, kesehatan masyarakat. Kalimantan adalah paru-paru dunia, titipan untuk generasi berikutnya,” tuturnya.
Perlu diingat, fenomena kemarau tidak terus dijadikan alasan utama setiap kali karhutla terjadi. Faktor alam memang ada, tetapi tata kelola hutan berada dalam tanggung jawab manusia.
“Kemarau adalah fenomena alam, tetapi tata kelola hutan adalah tanggung jawab manusia. Jika setiap kemarau hutan terbakar kita bilang kemarau, kasihan dong kemarau selalu jadi kambing hitam,” pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meminta agar teknologi tepung pemadam api berbahan ubi atau singkong tersebut diuji coba dalam skala besar. Prabowo bahkan membayangkan teknologi itu dapat digunakan dalam operasi pemadaman melalui helikopter.
“Menarik sekali itu bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Wah coba diproduksi dalam skala besar ya. Ajukan biaya untuk produksinya ya, kita usahakan semua upaya,” kata Prabowo saat memimpin rapat penanganan karhutla di Palembang, Senin (24/8).
Prabowo juga meminta dilakukan pengujian untuk mengetahui efektivitas penggunaan tepung tersebut jika diterapkan dalam operasi water bombing menggunakan helikopter.
“Berarti yang kita water bomb bukan water bomb ya ubi bombing. Hah? Ya kalau satu heli MI-17 bisa berapa ton? 4 ton water bombing. Mungkin 4 ton ubi serbuk atau ubi apa tepung ini kita uji coba efektif luasnya berapa ya,” imbuhnya.
Inovasi tersebut sebelumnya diperkenalkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam rapat yang sama. Menurut Listyo, terdapat zat berbahan utama tepung yang dapat digunakan untuk membantu mencegah dan memadamkan api.
“Ada sejenis zat yang menggunakan bahan baku utama dari tepung yang bisa digunakan untuk mencegah, Pak. Jadi kalau disemprot dengan alat dengan zat tersebut itu dia bisa mencegah agar antara api, O2 dan CO2 itu bisa terpisah, Pak,” ujar Listyo.
Listyo menyebut teknologi tersebut berpeluang diproduksi dalam jumlah besar, meski masih membutuhkan riset lebih lanjut untuk memastikan efektivitasnya. Selain membantu pemadaman, bahan tersebut juga dinilai dapat digunakan untuk mencegah sekaligus menangani api pada tahap awal.