JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mengkaji pemanfaatan sensor yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat pengecekan potensi racun makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Teknologi yang masih berupa prototipe itu bekerja dengan menangkap uap kimia dari makanan untuk kemudian dianalisis.
Kepala BGN Sudaryono mendorong agar teknologi itu dapat dikembangkan hingga bisa diproduksi secara massal.
Baca Juga: Pengendara Harap Waspada, Ini Skema Rekayasa Lalu Lintas di Sekitar DPR RI Hari Ini
"Mereka (BRIN) butuh waktu beberapa waktu, Itu kan yang disampaikan ke saya prototipe. Itu bagaimana caranya supaya bisa diproduksi massal," kata Sudaryono di Kemenko Pangan, Rabu (26/8).
Sudaryono menjelaskan, teknologi tersebut bekerja dengan memanfaatkan sensor uap. Uap yang dihasilkan makanan ditangkap untuk kemudian dianalisis secara kimia.
"Jadi uapnya itu kemudian di-catch eh kimianya, kemudian dianalisis, kemudian ada dan itu satu inovasi yang baik ya," ujarnya.
Baca Juga: Zainudin Amali Mundur, Yunus Nusi Ditunjuk Jadi Komisaris Utama I.League
Menurut Sudaryono, BGN mendorong agar pengembangan alat tersebut dapat dilakukan lebih cepat. Tujuannya agar teknologi itu nantinya dapat dimanfaatkan dalam pengawasan makanan.
"Aku udah challenge ke beliau-beliau yang penemu itu (peneliti BRIN). Kita pengennya sih ikan sepat ikan gabus ya kan. Pengennya makin cepat makin bagus gitu kan," kata Sudaryono.