← Beranda
Masyarakat Diimbau Tak Panik Hadapi Ancaman Karhutla, Minta Pemerintah Bersikap Tegas
Muhammad RidwanMinggu, 23 Agustus 2026 | 16.31 WIB
Presiden Prabowo Subianto meninjau lokasi karhutla di Kalimantan Barat pada Sabtu (22/8). (YouTube Setpres)

 

JawaPos.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian masyarakat.

Maraknya informasi mengenai titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah memunculkan kekhawatiran di tengah publik.

Penanganan karhutla turut mendapat perhatian Presiden Prabowo Subianto. Kepala Negara melakukan peninjauan langsung ke Kalimantan Barat, pada Sabtu (22/8).

Guru Besar Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Prof. H. Gusti Hardiansyah, meminta masyarakat tidak panik menyikapi persoalan karhutla. Ia mengingatkan pentingnya membedakan data hotspot dengan kejadian kebakaran yang benar-benar ditemukan di lapangan.

“Kalau saya lihat nih, kita harus bedakanlah dengan data ya. Saya merasa seminggu ini terlalu panik. Pemberitaan-pemberitaan itu panik kesannya,” kata Gusti kepada wartawan, Minggu (23/8).

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu menjelaskan, informasi mengenai hotspot yang bersumber dari Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) milik Kementerian Kehutanan maupun data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tetap harus diverifikasi melalui pengecekan langsung di lapangan atau ground truthing.

“Padahal di lapangan ya, yang paling perlu itu kan, data tadi dibilang data hotspot dari SiPongi, dari BMKG, itu kan perlu di ground truthing ya,” ucapnya.

Menurutnya, ground truthing merupakan proses memeriksa atau mengumpulkan informasi secara langsung di lokasi untuk mencocokkan data pemantauan dengan kondisi sebenarnya.

Ia mencontohkan, laporan mengenai sejumlah hotspot sempat muncul di Kalimantan Barat. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di Kalimantan Tengah.

Namun, setelah BNPB bersama tim melakukan pemeriksaan langsung, jumlah titik yang benar-benar menunjukkan adanya kebakaran ternyata tidak sebanyak data awal yang terdeteksi.

Ia juga menyinggung dampak kabut asap di wilayah Malaysia yang berada di Pulau Kalimantan. Menurutnya, sempat muncul pemberitaan mengenai sekitar 600 sekolah di Malaysia yang diliburkan akibat kondisi kabut asap.

“Saya juga cek teman-teman. Saya pikir memang kebetulan anginnya ke arah sana,” ungkapnya.

Sementara di Kalimantan Barat, kabut asap juga sempat mengganggu aktivitas penerbangan. Gusti menyebut Bandara Internasional Supadio Pontianak mengalami penundaan sejumlah penerbangan.

“Kalbar juga kemarin di Supadio ada delay sebentar ya, ada kurang lebih 20 penerbangan,” bebernya.

Menurut Gusti, kondisi tersebut seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla. Ia pun mengapresiasi keputusan Presiden Prabowo yang datang langsung ke Kalimantan Barat untuk melihat kondisi serta penanganan karhutla.

Kesiapsiagaan, kata dia, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dunia usaha juga perlu mengambil langkah pencegahan. Ia menyebut para pengusaha melalui Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) telah mengeluarkan edaran dan melakukan persiapan di lapangan.

Gusti menilai tingginya risiko karhutla, termasuk yang dipengaruhi kondisi El Nino, harus diimbangi dengan kesiapan yang sama kuatnya. Dengan begitu, masyarakat dan pemangku kepentingan tidak perlu menghadapi situasi tersebut dengan kepanikan.

“Artinya apa? Risiko karhutla yang tinggi, betul, El Nino yang tinggi, itu kita lawan juga dengan kesiapan kita yang tinggi. Sehingga tidak panik,” bebernya.

Ia mengingatkan, kepanikan justru dapat menghambat penanganan karena berpotensi mendorong berbagai pihak untuk saling menyalahkan.

“Karena kesannya kalau kita panik, kita sesama kita mencari kesalahan, kesalahan ini jadi saling salah,” ujar dia.

Gusti juga menekankan pentingnya konsistensi pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanganan karhutla. Menurutnya, langkah tegas pemerintah pada era Presiden Joko Widodo terhadap aparat keamanan dalam persoalan karhutla dapat menjadi pembelajaran.

Selain kesiapan personel dan peralatan, ia menilai masyarakat perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC). Menurut Gusti, BMKG bersama TNI dan Polri telah menyiapkan pesawat untuk mendukung operasi tersebut. Dukungan pendanaan dari Kementerian Sekretariat Negara juga disebut telah tersedia.

Kendati demikian, pelaksanaan OMC masih menghadapi kendala karena kondisi awan yang dinilai terlalu tipis untuk mendukung operasi secara optimal.

“Dan yang paling penting ini, penjelasan masyarakat bahwa operasi modifikasi cuaca, artinya apa? Kita lihat kesiapan BMKG, TNI, Polri, pesawat-pesawat sudah siap, pendanaan dari Kementerian Sekretariat Negara juga sudah siap, tapi karena awannya tipis ya, tipis sekali. Jadi ini juga perlu kita jelaskan,” tuturnya.

Gusti menekankan, perguruan tinggi juga dapat mengambil peran dengan mengembangkan teknologi maupun pendekatan baru untuk membantu pemerintah dalam menangani karhutla.

Ia menegaskan persoalan karhutla tidak mungkin diselesaikan oleh satu lembaga saja. Pemerintah, perusahaan, masyarakat, aparat keamanan, perguruan tinggi, hingga media memiliki peran masing-masing dalam pencegahan dan penanganannya.

“Dan tentunya ini nggak bisa kerja satu institusi sendiri. Dan saya pikir juga media berperan untuk mengevaluasi ini,” jelasnya.

Di sisi lain, Gusti mendukung penegakan hukum apabila ditemukan pembakaran lahan secara sengaja atau adanya pihak yang mengabaikan prosedur pencegahan karhutla.

“Kalau memang kejadiannya sengaja dibakar atau tidak melakukan SOP yang dilakukan, saya pikir penindakan hukum harus juga dilakukan,” urainya.

Selain pendekatan teknologi dan upaya penanganan di lapangan, Gusti mengajak masyarakat menggunakan pendekatan keagamaan serta kearifan lokal untuk menghadapi kekeringan dan ancaman karhutla.

“Ada hal yang terakhir mungkin karena sebagai umat beragama, bagi umat Islam, kita harus laksanakan shalat istisqa, minta hujanlah,” ucap dia.

Ia juga mengingatkan adanya berbagai kearifan lokal yang selama ini berkembang di tengah masyarakat untuk dapat dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi kekeringan.

“Dan mungkin dari kearifan lokal, kearifan lokal, pahong-pahong hujan kita minta adakan,” ucapnya.

Gusti berharap seluruh elemen dapat bergerak bersama menghadapi potensi karhutla yang masih mengancam dalam beberapa pekan mendatang. Menurutnya, upaya pencegahan, kesiapsiagaan, penegakan hukum, serta dukungan masyarakat perlu berjalan beriringan.

Baca Juga: Atasi Karhutla Kalimantan, Kemenhub Izinkan 35 Pesawat Asing Masuk Indonesia

“Mungkin ini ya, karena ini adalah bencana ya, jadi kita juga ada tangan-tangan Tuhan yang memang kita harapkan memberikan rahmat dan hidayah untuk kita menjaga lingkungan kita ini,” paparnya. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan