← Beranda
Menhut Raja Juli Antoni: Dukungan BNPB Perkuat Penanganan Karhutla
AntaraRabu, 19 Agustus 2026 | 02.54 WIB
Menhut Raja Juli Antoni dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (18/8). (Istimewa)

 

JawaPos.com - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengapresiasi dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah.

Dukungan tersebut dilakukan melalui operasi darat maupun udara, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan water bombing.

”Karhutla merupakan persoalan serius yang memerlukan penanganan secara kolaboratif, terpadu, terukur, dan berkelanjutan. BNPB bersama-sama Kementerian Kehutanan melakukan upaya penanggulangan karhutla di lapangan,” kata Raja Juli Antoni dilansir dari Antara, Selasa (18/8).

Baca Juga: 2 Cara Cek Desil di Situs BPS dan Kemensos, Cukup Pakai NIK

Kerja sama Kemenhut dan BNPB melalui OMC untuk mitigasi karhutla dilakukan secara berkesinambungan sejak Februari hingga Juli 2026, di sejumlah provinsi rawan kebakaran.

Khusus untuk mitigasi karhutla, telah dilakukan 17 operasi selama 169 hari dengan 291 sorti penerbangan. Kerja sama juga melibatkan mitra swasta.

”Kerja sama dengan BNPB ini sangat penting, karena penanganan karhutla membutuhkan respons yang cepat, baik melalui pencegahan maupun pemadaman. OMC menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang kami lakukan untuk mengurangi risiko dan dampak kebakaran,” ujar Raja Juli Antoni.

Baca Juga: Anak Gajah Sumatera Lahir Tepat 17 Agustus, Jadi Kado Kemerdekaan

Selain OMC, BNPB juga mengerahkan 40 armada udara yang terdiri atas 10 pesawat patroli, 27 helikopter water bombing, dan tiga pesawat OMC.

Untuk enam provinsi prioritas, BNPB mengerahkan 36 armada udara yang terdiri atas 12 armada patroli, 21 helikopter water bombing, dan tiga pesawat OMC.

Dukungan BNPB juga terlihat dalam penanganan kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Dalam operasi tersebut, tim terpadu yang melibatkan Manggala Agni, Balai TNBTS, BPBD, BNPB, masyarakat, TNI, dan Polri didukung dua unit helikopter water bombing BNPB untuk menjangkau lokasi lereng yang sulit diakses.

Kebakaran yang diketahui sejak 3 Agustus 2026 akhirnya dapat dipadamkan melalui kerja sama seluruh kementerian/lembaga yang terlibat.

”Sekali lagi, saya menyampaikan apresiasi kepada BNPB dan seluruh pihak yang bersama-sama bergerak menangani karhutla. Kolaborasi seperti ini akan terus kami perkuat agar setiap ancaman karhutla dapat direspons secepat mungkin dan dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat bisa ditekan,” tegas Raja Antoni.

Baca Juga: Kapolri Tinjau Dampak Gempa NTT, 27.700 Warga Masih Mengungsi di 107 Titik

Raja Antoni juga kembali mengingatkan ancaman El Nino tahun ini yang memiliki kemiripan dengan fenomena El Nino pada 2015.

Dia mengatakan, pemerintah terus memantau perkembangan kondisi iklim bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), termasuk untuk mengantisipasi dampaknya terhadap potensi karhutla.

”Per hari ini lebih tinggi dari 2015. Ini data dari BMKG yang kami selalu koordinasi. Saya terus berkoordinasi dengan BMKG,” kata Raja Juli.

Baca Juga: Amran Copot 14 Pejabat Kementan, Ada Dugaan Penyimpangan Uang Miliaran

Menurut Menhut, fenomena El Nino yang datang lebih awal membuat kondisi cuaca menjadi lebih panas dan kering serta berlangsung lebih lama. Situasi ini meningkatkan potensi terjadinya karhutla dan memperbesar risiko munculnya asap.

Menhut mengatakan, pada 16 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB, asap terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan.

Menhut Raja Juli Antoni mengingatkan masyarakat maupun korporasi agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi cuaca yang panas dan kering.

Baca Juga: BGN Pertimbangkan SPPG Pakai Test Kit untuk Deteksi Kandungan Berbahaya MBG

”Jangan membakar lahan. Masyarakat dan korporasi harus sama-sama waspada. Bahkan puntung rokok pun jangan sampai dibuang sembarangan, karena dalam kondisi kering seperti ini bisa menjadi sumber api,” tandas Raja Juli Antoni.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah