← Beranda
Pesan Putra Sayuti Melik untuk Indonesia: Merdeka Itu Damai, Bukan Bermusuhan
Ryandi ZahdomoSenin, 17 Agustus 2026 | 17.16 WIB
Heru Baskoro, putra bungsu pengetik naskah proklamasi, Sayuti Melik, memberi pesan kemerdekaan yang dimaknai sebagai perdamaian abadi. (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)

JawaPos.com – Generasi perintis telah berjuang memerdekakan bangsa Indonesia, hingga sepenuhnya lepas dari belenggu penjajahan bangsa asing.

Maka setelah kemerdekaan itu berhasil diraih, tugas generasi selanjutnya lebih berat, karena merekalah yang harus merawat Indonesia yang telah merdeka dari penjajahan di tahun-tahun ke depan.

Heru Baskoro, Putra bungsu dari sosok perintis kemerdekaan sekaligus pengetik naskah proklamasi, Sayuti Melik, mengamini tugas itu.

Menurut dia, inti mendasar dari kemerdekaan suatu bangsa bukan sebatas terbebas dari cengkeraman penjajah, melainkan hadirnya kedamaian sejati serta semangat gotong royong antarmanusia dan antarnegara.

Baca Juga: Suara Kemerdekaan "Tong Sampah": Rp 5 Ribu untuk Makan Hari Ini dan Sekolah Anak

"Merdeka itu artinya negara yang tidak terjajah, aman, saling bantu-membantu dengan negara lain. Jadi era peperangan mudah-mudahan sudah tidak ada. Karena merdeka itu damai," ujar Heru saat berbincang dengan JawaPos.com, Jumat (13/8).

Perdamaian itu juga termaktub dalam naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Frasa yang digunakan adalah Perdamaian Abadi, yang artinya tidak ada lagi permusuhan di antara sesama manusia di manapun ia berada, selamanya.

Pria 84 tahun itu adalah salah satu generasi yang lahir di sekitar tahun kemerdekaan. Ia lahir di Semarang pada 1 Juni 1942, putra bungsu Sayuti Melik dan tokoh pers Indonesia, SK Trimurti.

Heru saat ini tinggal di sebuah kamar di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi milik Kementerian Sosial.

Baca Juga: Eksklusif! Herry Kiswanto: Makna Kemerdekaan Kapten Timnas Indonesia Era 1980-an

Sebelum mendapat fasilitasi dari pemerintah, Heru bersama sang istri sempat menyewa rumah kontrakan sempit dengan biaya Rp 560.000 per bulan.

Meski tidak hidup bergelimang harta di usia senjanya, cara pandang Heru terhadap kemerdekaan tetap jernih.

Pria yang kini menjalani masa tuanya bersama sang istri, Treyzia Noviani, 65, mengungkap bahwa Indonesia terus belajar dan bergerak menuju arah yang baik. Meski belum sepenuhnya sempurna.

Ia memahami betul bahwa menjaga perdamaian bukanlan hal yang mudah, terutama bagi generasi muda, yang tahun ini merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Indonesia.

Ia berpesan agar generasi muda tidak berhenti belajar, termasuk memahami kebudayaan dan karakter bangsa-bangsa tetangga demi menjaga perdamaian global.

Baca Juga: Eksklusif! Fakhri Husaini: Makna Kemerdekaan Kapten Timnas Indonesia Era 1990-an

"Arti merdeka itu artinya negara yang kita tidak terjajah, merdeka, aman, saling bantu-membantu dengan negara lain. Jadi era peperangan mudah-mudahan sudah enggak ada. Karena merdeka tapi damai," ucap Heru.

Ia juga menekankan pentingnya mengikis sifat memusuhi pihak lain dengan alasan apapun.

Menurut Heru, persahabatan internasional dan kerja sama global, seperti yang diwadahi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), merupakan kunci kemajuan bersama.

Korupsi Bisa Merusak Perdamaian Bangsa

Merawat perdamaian di era Merdeka, lanjut Heru, juga berarti tidak melakukan hal-hal yang dapat memecah belah bangsa, baik antara sesama anak bangsa maupun antara masyarakat dengan pemerintahnya.

Salah satu perbuatan yang bisa menimbulkan perpecahan dan merusak perdamaian menurut Heru adalah korupsi.

Baca Juga: Refleksi Kemerdekaan Indonesia ke-81 dari Gen Z: Kebebasan Berpendapat-Bertarung dengan Algoritma

Bukan hanya korupsi sebagaimana berbagai kasus yang kini tengah ditangani oleh para penegak hukum, tapi juga mental koruptif yang justru masih sangat lekat di sebagian masyarakat.

"Ya sebetulnya terlalu banyak orang korupsi apa segala. Nah, itu yang harus dikurangi. Lebih banyak orang-orang pemerintah dan rakyat itu bekerja keras dan jujur untuk kepentingan bersama, teman, atau sesama," tegasnya.

Mendidik Melalui Logika dan Catur

Mengenang sosok sang ayah, Heru mengingat Sayuti Melik bukan hanya sebagai sosok pelaku Sejarah yang mengetik naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Bagi Geru, Sayuti merupakan figur orang tua yang mengayomi dan selalu memberikan teladan nyata dibanding melontarkan teguran verbal.

Kesibukan Sayuti Melik dalam melayani masyarakat tidak melunturkan perhatiannya terhadap pendidikan karakter anak-anaknya di rumah.

Baca Juga: Prabowo: Kemerdekaan Belum Selesai Hanya Karena Merah Putih Berkibar

Salah satu metode pengajaran unik yang diterapkan Sayuti Melik adalah rutin mengajak anak-anaknya bermain catur.

Melalui permainan papan tersebut, pahlawan nasional itu menanamkan cara berpikir yang runtut dan bijaksana.

"Dia memberi contoh. Salah contohnya itu, walaupun dia enggak memaksakan, anak-anaknya diajari main catur supaya sambil bermain berpikir yang logis karena berpikir logis itu bermanfaat untuk seluruh manusia di dunia ini," kenang Heru.

Istri Heru, Treyzia Noviani, turut membenarkan disiplin tinggi yang dicontohkan oleh mertuanya tersebut.

Menurut dia, Sayuti Melik lebih banyak mendidik lewat tindakan nyata yang dapat dilihat langsung oleh anak-anaknya.

Baca Juga: Refleksi HUT Ke-81 RI, Arief Hidayat Singgung Pembangunan Semakin Jauh dari Cita-cita Kemerdekaan

"Dia (Heru Baskoro) sangat mirip dengan bapaknya, sangat disiplin," kata Treyzia.

Perjalanan Hidup dan Kepulangan ke Tanah Air

Perjalanan hidup Heru Baskoro penuh dengan pengalaman pendidikan dan karir lintas negara.

Sejak berstatus mahasiswa S2 dan aktif sebagai Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia-Amerika (Permias), ia menghabiskan puluhan tahun berkarir di Amerika Serikat sebagai Senior Analyst di perusahaan minyak dan Senior Accountant di public health, hingga akhirnya pensiun di Kanada sebelum usianya menginjak 65 tahun.

Kanada dipilih Heru lantaran memiliki fasilitas kesehatan yang baik untuk menunjang kesehatannya.

Namun, beberapa tahun terakhir, kondisi kesehatan Heru menurun. Ia menderita glaukoma yang menyebabkan penglihatan mata kanannya tidak lagi berfungsi.

Baca Juga: HUT ke-81 RI, Janda Perintis Kemerdekaan di Surabaya Dapat Bingkisan Kebahagiaan

Setelah sempat menetap lama di Kanada, ia pulang ke Indonesia dan tinggal di rumah kontrakan sederhana di kawasan Rawalumbu, Kota Bekasi.

Namun kini, Heru dan istrinya kini mendapatkan perhatian dari pemerintah dalam menjalani masa senjanya.

Kementerian Sosial (Kemensos) telah mendampingi Heru dan Treyzia untuk mendapatkan pelayanan perumahan, rehabilitasi medis, serta bantuan sosial di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi, Jawa Jawa Barat.

Bagi Heru, seluruh perjalanan hidup dan kesempatan yang ia terima merupakan wujud keadilan Tuhan.

Ia percaya bahwa setiap manusia diberikan kesempatan yang sama untuk berbuat baik dan berkontribusi bagi kedamaian dunia.

Baca Juga: Jelang Hari Kemerdekaan, 7 Shio Ini Diramal Dapat Kejutan Rezeki

EDITOR: Bayu Putra