JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) meminta seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah terdampak gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengutamakan keselamatan dan menyesuaikan pelayanan dengan kondisi darurat.
Hal tersebut menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah NTT, pada Sabtu (15/8).
"SPPG yang terdampak bencana wajib mengutamakan keselamatan dan melaporkan kondisi kepada pihak terkait," kata Kepala BGN Sudaryono melalui akun instagram resmi @sudaru_sudaryono, Sabtu.
Baca Juga: Mampu Merasakan Hal Tak Terlihat? Ini 10 Weton yang Disebut Punya Kepekaan Batin
Menurut dia, SPPG di sekitar wilayah terdampak yang tidak mengalami gangguan operasional dapat menyesuaikan pelayanan. SPPG tersebut juga dapat membantu pemenuhan makanan bagi masyarakat yang terdampak bencana, termasuk kelompok rentan.
"Sementara SPPG terdekat yang operasionalnya tidak terdampak dapat menyesuaikan pelayanan, termasuk membantu pemenuhan makanan bagi masyarakat terdampak dan kelompok rentan di sekitar wilayah bencana," ujarnya.
Sudaryono juga menyebut Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2025 telah mengalami revisi. Perubahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan ketentuan dengan kondisi tanggap darurat terkini.
"Perubahan dokumen menyesuaikan kondisi tanggap darurat terkini," katanya.
Dia meminta seluruh pengelola SPPG berpedoman pada regulasi terbaru. Berkas revisi surat edaran tersebut, kata Sudaryono, tengah didistribusikan secara berjenjang melalui saluran email resmi ke berbagai daerah.
"Baca teliti (kepada pengelola SPPG) setiap poin krusial di dalamnya," ujarnya.
Sudaryono menegaskan jajaran BGN dan pengelola SPPG tidak boleh mengambil keputusan sendiri di tengah situasi bencana.
"Kita harus bergerak cepat, terkoordinasi, dan tetap memastikan pemenuhan gizi bagi saudara saudara kita yang terdampak bencana," tegasnya.