JawaPos.com - Psikolog Dian Wisnuwardhani mengingatkan pentingnya berhati-hati dalam bercanda terhadap orang lain.
Faktor ini kemungkinan alasan di balik tindakan ekstrem pegawai outsourcing Diskominfo Kutai Kartanegara (Kukar) berinisial MFA yang membakar kantornya karena mukanya sering dijadikan stiker WhatsApp sebagai bahan olokan.
"Memang kita perlu hati-hati kalau kita bercanda itu kita harus tahu batasnya. Bagaimana orang merespons terhadapnya atau bagaimana orang merespons itu berbeda-beda," ujar Dian saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (13/8).
"Jadi memang kita perlu hati-hati jangan sampai menyakiti orang lain. Kalau kita tahu itu menyakiti kan, ya kita sebaiknya minta maaf," sambungnya.
Baca Juga: 91 Persen Masyarakat Indonesia Mulai Prioritaskan Kesehatan Holistik, Tertinggi di Asia Pasifik
Jika seseorang seperti MFA sampai melakukan pelampiasan emosi sampai dengan membakar kantornya sendiri, Dian menyebut bahwa hal itu sudah termasuk dalam kategori agresivitas.
"Agresivitas itu bisa terjadi karena kondisi stres yang timbul, lalu menghadapi frustrasinya menjadi tidak bisa dengan regulasi emosi yang dimiliki," tuturnya.
Artinya, ia mengatakan bahwa kondisi MFA saat itu sudah tak bisa lagi menahan rasa frustrasi yang dialaminya.
"Akhirnya dia menjadi marah sekali gitu dan tidak bisa menahan emosi negatifnya untuk keluar," pungkas Dian.
Sebelumnya, Seorang pegawai outsourcing Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kutai Kartanegara berinisial MFA nekat membakar ruang rapat kantornya sendiri, Selasa (11/8) pagi.
Aksi nekat ini didasari rasa sakit hati karena kerap dijadikan bahan olokan dan stiker di grup percakapan internal kantor.
Pelaku yang bertugas sebagai Operator Command Center tersebut mendatangi lokasi sekitar pukul 06.30 WITA, dengan membawa Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang dimasukkan ke dalam galon air minum.
Di hadapan penyidik, pelaku mengaku telah merencanakan aksinya sejak malam sebelum kejadian.
Baca Juga: Senator AS Bernie Sanders Desak Silicon Valley 'Jeda' Pengembangan AI demi Kepentingan Umat Manusia
Motif di balik tindakan nekat tersebut dipicu oleh rasa sakit hati dan kekesalan yang menumpuk akibat perlakuan rekan-rekan kerjanya.
Pelaku mengaku sering difoto secara diam-diam. Foto-foto tersebut kemudian disebarkan ke dalam grup percakapan internal kantor untuk dijadikan bahan lelucon hingga diubah menjadi stiker.