← Beranda
Ingatkan Pangdam dan Kapolda, Menko Polkam Sebut Penanggulangan Karhutla Tentukan Karir ke Depan
Syahrul YunizarSelasa, 11 Agustus 2026 | 00.22 WIB
Menko Polkam Djamari Chaniago menjelaskan upaya penanggulangan karhutla yang sudah dilakukan di Indonesia sampai Senin (10/8). (Sahrul Yunizar/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengingatkan kembali para kapolda dan pangdam di seluruh Indonesia. Langkah penanggulangan kebakaran lahan dan hutan (karhutla) bakal menentukan nasib perjalanan karir mereka ke depan.

Sejak lama, pangdam dan kapolda yang dinilai tidak bekerja optimal dalam penanggulangan karhutla dimutasi atau dipindahtugaskan. Menurut Djamari, sampai saat ini hal itu masih berlanjut. Bahkan terus dia tekankan setiap kali kunjungan kerja ke daerah.

”Masih berlaku (sampai sekarang), pada saat saya berkeliling ke daerah, saya tekankan itu. Keberhasilan anda (kapolda dan pangdam) mengendalikan (karhutla) tadi adalah bagaimana karir anda ke depan,” kata dia pada Senin (10/8).

Djamari menyebut, yang menjadi tolok ukur penilaian adalah upaya mengendalikan dan menyelesaikan karhutla. Bukan ada atau tidaknya titik api. Sebab, titik api karhutla sudah membakar 107 ribu hektare lahan dan hutan di berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga: Kemenhut Padamkan Kebakaran 30 Hektare di Gunung Rinjani Bersama Tim Gabungan

”Artinya, dalam upaya mengendalikannya disebut, diukur berhasil atau tidak berhasil. Kalau tidak berhasil, dia punya konsekuensi. Begitu. Tetap itu berlaku,” tegasnya.

Djamari mengakui, dalam kondisi saat ini yang paling efektif adalah pelaksanaan operasi udara dan operasi modifikasi cuaca. Namun, operasi modifikasi cuaca butuh keberadaan awan hujan yang sejauh ini belum muncul. Sehingga langkah lain harus dilakukan.

”Tetapi, keadaan yang sekarang kita tidak bisa hanya menunggu operasi udara, menunggu awan hujan itu ada,” ujarnya.

Untuk itu, tim darat dan tim udara terus bekerja. Tim darat melakukan pemadaman karhutla dengan mengandalkan fleksibel tank, termasuk dengan membuat sumur-sumur di lokasi karhutla. Sementara tim udara melakukan water bombing menggunakan helikopter dan pesawat fix wing.

Berdasar catatan, sejauh ini ada 6 daerah yang dinilai paling kritis. Riau, Jambi, Sumatera Selatan (Sumsel), Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), hingga Kalimantan Selatan (Kalsel). Selain itu, beberapa titik karhutla menjadi atensi di Jawa Timur (Jatim), Jawa Barat (Jabar), Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kondisi itu terjadi karena fenomena El Nino tahun ini lebih kuat dari tahun-tahun sebelumnya. Fenomena tersebut menyebabkan terjadinya kekeringan dan kebakaran. Bahkan, kemarau tahun ini sudah diprediksi akan berlangsung jauh lebih panjang.

”Jadi, cuaca ini juga sangat-sangat menentukan keberhasilan upaya kita,” ucap Djamari.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan