JawaPos.com - Langkah Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan 114 titik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada wilayah yang tinggi stunting dan daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) mendapat sambutan positif.
Apresiasi salah satunya datang dari Ketua Umum Asosiasi Pangan Gizi Indonesia Daerah Tertinggal, Terluar, dan Terdepan (APGI 3T & Terpencil), Herwil J. Harefa.
Menurut dia, kebijakan tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat upaya peningkatan gizi masyarakat, terutama di daerah yang masih menghadapi persoalan stunting.
Ia menilai, percepatan operasional dapur MBG di wilayah stunting menunjukkan arah kebijakan yang tepat, karena memprioritaskan kelompok rentan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Baca Juga: BGN Alihkan MBG Sekolah Swasta Elite untuk Daerah Stunting Tinggi
Selain itu, program juga difokuskan pada daerah dengan angka stunting tinggi serta kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, dan Nias.
"Langkah percepatan operasional 114 dapur MBG ini merupakan keputusan strategis yang patut diapresiasi. Ini bukan hanya soal program, tetapi tentang memastikan negara hadir secara nyata dalam menjawab persoalan gizi di wilayah-wilayah yang paling membutuhkan," kata Herwil kepada wartawan, Jumat (7/8).
Herwil mengingatkan, langkah tersebut perlu diimbangi dengan percepatan operasional dapur MBG lainnya yang telah selesai dibangun.
Berdasarkan catatan APGI 3T & Terpencil, masih terdapat sejumlah dapur SPPG di kawasan terpencil yang hingga kini belum berfungsi secara optimal.
"Kami memandang penting adanya percepatan lanjutan agar dapur-dapur MBG yang sudah terbangun, khususnya di wilayah 3T dan terpencil lainnya, dapat segera difungsikan. Jangan sampai infrastruktur yang sudah siap justru tertunda pemanfaatannya," tegasnya.
Baca Juga: BGN Curigai 950 Dapur MBG Tak Higienis, Sudaryono Ancam Tutup Permanen!
Ia menambahkan, pengoperasian seluruh dapur MBG diyakini akan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat sekitar.
Tidak hanya mempercepat penurunan angka stunting, tetapi juga meningkatkan kualitas gizi masyarakat serta menggerakkan perekonomian daerah melalui penyerapan tenaga kerja dan penguatan rantai pasok pangan lokal.
Lebih lanjut, ia memastikan pihaknya terus mendukung pemerintah dalam mengawal implementasi Program MBG.
Terutama di wilayah-wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses dan distribusi.
"Komitmen kami jelas, mendukung penuh kebijakan pemerintah sekaligus memastikan bahwa seluruh wilayah 3T dan terpencil tidak tertinggal dalam implementasi program strategis ini," jelasnya.
Baca Juga: 1.700 Dapur MBG di Wilayah dengan Stunting Tertinggi Segera Beroperasi, BGN: Aktivasi Bertahap
114 dapur MBG di wilayah stunting dan 3T aktif pekan depan
Kepala BGN Sudaryono menyampaikan pihaknya akan mulai mengoperasikan 114 dapur SPPG baru, untuk mendukung pelaksanaan Program MBG mulai pekan depan.
Dapur-dapur tersebut diprioritaskan untuk melayani wilayah dengan angka stunting yang tinggi serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Kami minggu depan akan merilis, akan mengaktivasi 114 titik (dapur) yang sudah siap. Ini ada di Papua, Maluku, NTT," kata Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Jumat (7/8).
Sebanyak 114 dapur SPPG itu tersebar di lima wilayah, yakni 12 dapur di Maluku, 12 dapur di Maluku Utara, 54 dapur di Nusa Tenggara Timur (NTT), tujuh dapur di Papua, serta 29 dapur di Papua Barat.
Sudaryono menjelaskan, ratusan dapur tersebut merupakan bagian dari target pembangunan 1.700 dapur SPPG yang diprioritaskan untuk kawasan 3T.
Baca Juga: Kemendiktisaintek Ungkap Temuan Awal Paper Soal MBG di SSRN yang Catut Nama Prabowo
Sementara itu, program pengembangan tersebut juga menjadi bagian dari rencana keseluruhan penyediaan sekitar 13 ribu dapur SPPG yang saat ini masih berada dalam berbagai tahapan persiapan sebelum beroperasi.
Ia juga meluruskan informasi yang beredar di media sosial soal penutupan 800 dapur SPPG, yang dikaitkan dengan rencana pembukaan 13 ribu dapur baru. Menurut dia, kedua hal tersebut tidak saling menggantikan.
"Saya ingin meluruskan terkait di media sosial bahwa Kepala BGN telah menutup 800 dapur tapi membuka 13 ribu. Saya jelaskan, 13 ribu itu adalah dapur yang either titiknya sudah ada sudah selesai, tapi ada juga 1.700 yang sudah inline (sejalan) dengan angka stunting tinggi," pungkasnya.