← Beranda
Pendidikan Berkualitas Menjadi Fondasi Indonesia Emas 2045, Iwan Aflanie Soroti Penguatan Karakter
Dimas ChoirulJumat, 7 Agustus 2026 | 20.50 WIB
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. dr. Iwan Aflanie, M.Kes., Sp.FM., S.H/(Istimewa).

JawaPos.com - Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. dr. Iwan Aflanie, M.Kes., Sp.FM., S.H menilai pembangunan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan yang berkualitas, merata, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus berkarakter menjadi prasyarat utama bagi Indonesia untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. 

Menurut Iwan Aflanie, pendidikan merupakan investasi strategis yang menentukan kualitas peradaban bangsa di masa depan.

Karena itu, pembangunan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari meningkatnya angka partisipasi sekolah atau bertambahnya jumlah satuan pendidikan, melainkan harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual, berintegritas, serta memiliki karakter kebangsaan yang kuat.

"Kalau kita berbicara pendidikan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan. Wajah sebuah bangsa dan peradaban ditentukan oleh kualitas pendidikannya," ujar Iwan Aflanie dikutip Jumat (7/8).

Iwan menilai, tantangan pendidikan Indonesia saat ini masih berkaitan dengan pemerataan kualitas layanan pendidikan. 

Akses terhadap guru yang kompeten, fasilitas pembelajaran, laboratorium, perpustakaan, hingga konektivitas internet perlu dipastikan tersedia secara lebih merata agar setiap anak bangsa memperoleh kesempatan belajar yang setara, tanpa dipengaruhi kondisi geografis maupun sosial ekonomi.

Baca Juga: Pintu Gerbang IKN Nusantara, Menteri Bahlil Dorong Universitas Lambung Mangkurat Jadi Pusat Ketahanan Pangan

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Iwan menegaskan bahwa posisi guru dan dosen justru semakin strategis. 

Menurutnya, teknologi mampu mempercepat akses terhadap informasi, tetapi tidak dapat menggantikan fungsi pendidikan dalam membangun karakter, integritas, nilai moral, dan keteladanan.

"Artificial intelligence mampu memberikan informasi, tetapi tidak mampu mengajarkan karakter, integritas, maupun keteladanan. Itu hanya bisa diberikan oleh manusia," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa transformasi digital harus dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sebagai ancaman terhadap profesi pendidik. 

Oleh sebab itu, guru dan dosen dituntut terus meningkatkan kompetensi digital sekaligus memperkuat perannya sebagai fasilitator, pembimbing, dan teladan bagi peserta didik.

Selain itu, Iwan juga menyoroti pentingnya keterkaitan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. 

Menurutnya, sekolah maupun perguruan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia usaha, dunia industri, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Teknologi adalah pisau bermata dua. Jika dimanfaatkan secara bijaksana akan menjadi kekuatan besar bagi pembangunan. Namun tanpa pendampingan, khususnya bagi generasi muda, teknologi juga dapat menghadirkan berbagai risiko sosial maupun moral," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Iwan turut menekankan bahwa keluarga tetap menjadi fondasi utama pendidikan karakter. 

Pengalaman pribadinya yang tumbuh di lingkungan keluarga pendidik membuatnya meyakini bahwa budaya membaca, semangat belajar, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan pertama kali dibangun dari rumah.

"Sumber pendidikan pertama sesungguhnya bukan sekolah, tetapi keluarga. Minat belajar tumbuh dari rumah, dari teladan orang tua," ujarnya.

Karena itu, menurutnya, keberhasilan pembangunan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, dunia usaha, media, dan masyarakat.

Lebih jauh, Iwan mengemukakan bahwa Kalimantan Selatan memiliki modal sosial yang kuat untuk mendukung pembangunan SDM menuju Indonesia Emas 2045. 

Modal tersebut meliputi masyarakat yang religius, budaya gotong royong yang tercermin dalam semangat Waja Sampai Kaputing dan Kayuh Baimbai, kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, serta berkembangnya institusi pendidikan tinggi.

Namun, ia mengingatkan bahwa seluruh potensi tersebut hanya akan memberikan manfaat apabila dikelola melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia industri, komunitas, dan masyarakat.

"Kita sudah memiliki modal besar. Tinggal bagaimana mengolaborasikan seluruh potensi tersebut secara sinergis. Jika semua pihak bergerak bersama, saya optimistis Indonesia mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, adaptif terhadap perubahan, sekaligus tangguh secara moral menuju Indonesia Emas 2045," ungkapnya.

Iwan menambahkan, pembangunan pendidikan harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang bangsa. Menurutnya, pembangunan manusia tidak dapat hanya diukur melalui pembangunan infrastruktur pendidikan ataupun peningkatan angka partisipasi sekolah.

Keberhasilan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang mampu mengintegrasikan kecakapan akademik, literasi digital, karakter kebangsaan, dan kolaborasi lintas sektor. 

"Dengan pendidikan yang inklusif dan berkualitas, bonus demografi yang dimiliki Indonesia dapat diubah menjadi modal strategis untuk meningkatkan daya saing bangsa di tingkat global," pungkasnya.

__
Caption:
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. dr. Iwan Aflanie, M.Kes., Sp.FM., S.H/(Istimewa).

EDITOR: Mohamad Nur Asikin