← Beranda
Puncak Kemarau 2026 Tiba, BMKG: El Nino Besar Potensi Bertahan hingga Tahun Depan
Ryandi ZahdomoSabtu, 1 Agustus 2026 | 01.32 WIB
Kekeringan rawan terjadi akibat fenomena El Nino. (Sigid Kurniawan/Antara)

 

 

JawaPos.com - Ancaman kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan serta lahan membayangi Indonesia dalam jangka panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino kategori kuat masih akan bertahan hingga awal kuartal pertama 2027.

Kondisi ini diperkirakan kian mengkhawatirkan karena potensi aktifnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada September hingga Desember 2026. Fenomena ini dapat memperparah dampak kekeringan dan karhutla.

Menanggapi potensi krisis, BMKG mengambil langkah proaktif dengan mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah prioritas. Langkah ini bertujuan menekan lonjakan karhutla dan dampak kekeringan yang meluas.

"BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia," ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya.

Puncak Musim Kemarau dan Catatan Hari Tanpa Hujan

Data BMKG hingga pertengahan Juli 2026 mencatat 509 Zona Musim (ZOM) atau 54,5% dari total luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, 77 ZOM (11,8%) masih mengalami musim hujan dan 113 ZOM (33,7%) berada di area tipe satu musim.

Puncak musim kemarau diproyeksikan terjadi pada Agustus yang mencakup 48,84% wilayah, disusul September sebesar 25,41% wilayah daratan. Sebagian besar daerah diperkirakan menghadapi kemarau lebih kering dari kondisi normal.

Sebanyak 437 ZOM atau 48,77% luas daratan mengalami durasi kemarau lebih panjang dari biasanya. Sejumlah wilayah kini mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi berbeda-beda.

Catatan HTH terpanjang terdeteksi di PRH Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang tidak turun hujan selama 80 hari berturut-turut. Curah hujan kategori tinggi diprediksi mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.

Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Wilayah Rawan

Kondisi cuaca kering berbanding lurus dengan peningkatan titik panas (hotspot). Hingga 29 Juli 2026, BMKG telah mendeteksi 5.019 titik panas di wilayah Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.

Kewaspadaan penuh diimbau menjelang puncak kemarau Agustus hingga September. Kawasan rawan yaitu Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.

Di Kalimantan Barat, sebaran partikulat asap karhutla sudah mulai terdeteksi lewat pantauan satelit. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut indeks bulanan Nino 3.4 pada akhir Juni mencapai 1,56.

Angka tersebut menandakan intensitas El Nino sudah melewati ambang batas kategori kuat (>1,5). Di sisi lain, suhu permukaan laut Samudra Hindia tercatat -0,387, mengindikasikan peluang lahirnya IOD Positif.

"Namun, perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau. Meskipun El Niño terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia," jelas Ardhasena.

Modifikasi Cuaca dan Pengisian Waduk Strategis

Untuk memicu hujan di area rawan, penyemaian awan terus dipacu. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menegaskan OMC tengah berjalan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah.
Pelaksanaan OMC didukung oleh Kementerian Kehutanan dan BNPB. Posko OMC juga dibuka di Pekanbaru untuk mengamankan wilayah Riau serta di Bandung sebagai upaya menanggulangi kekeringan di Jawa Barat.

"Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi. Namun, ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan OMC, pemadaman titik api secara langsung di darat menjadi tumpuan utama," kata Seto.

Sepanjang 2026, BMKG telah melakukan 17 kali OMC guna mitigasi karhutla di berbagai area rawan, termasuk Aceh, Riau, Jambi, Sumsel, Kepulauan Riau, Kalbar, Kalteng, hingga Kalsel. Operasi serupa juga difokuskan untuk mengisi cadangan air di waduk dan danau strategis.
Beberapa waduk tersebut seperti Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, DAS Citarum, DAS Brantas, serta DAS Mamasa. Langkah ini penting untuk menjaga ketersediaan air di musim kemarau panjang.

Imbauan Sektor Pertanian, Kesehatan, hingga Ekonomi
Menghadapi keterbatasan pasokan air, BMKG menyarankan pelaku usaha tani menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman tahan kering. Pengelola sektor sumber daya air dan energi juga diimbau memperhitungkan ketersediaan air baku dan pola produksi listrik PLTA.

Dari sisi kesehatan, penurunan kualitas udara akibat minimnya hujan dapat meningkatkan risiko penyakit ISPA. Masyarakat diminta waspada dengan potensi lonjakan kasus DBD, malaria, dan risiko heat-stroke karena suhu panas meningkat.

Meski demikian, kondisi kemarau ini bisa dimanfaatkan oleh pelaku perikanan dan tambak garam. Produksi garam dapat meningkat dan fenomena upwelling membantu maksimal hasil tangkapan ikan. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan