← Beranda
Kalau Pemerintahan Prabowo Tetap Diam, Kritikan Mahasiswa Berpotensi Jadi Gerakan Kecoak Seperti di India
Muhammad Ridwan• Kamis, 30 Juli 2026 | 01.57 WIB
Massa aksi demonstrasi saat mengerumuni mobil polisi yang melintas di depan Polda DIY Jumat (29/8) petang. (Agung Dwi Prakoso/Radar Jogja)

 

 

JawaPos.com – Ruang demokrasi di Indonesia masih hidup. Itu ditandai dengan terus adanya gelombang demonstrasi dari kalangan mahasiswa di daerah Indonesia. Mereka tanpa lelah menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. 

Pemerhati demokrasi Laksamana Sukardi mengingatkan, jika suara kritikan tidak direspons dengan sejumlah kebijakan oleh pemerintah, bukan tidak mungkin gerakan suara kritis dari mahasiswa di Indonesia menjelma seperti gerakan "cockroach" atau kecoak di India. Gerakan itu sebetulnya bernama Cockroach Janta Party (CJP).

Cockroach Janta Party tidak lahir dari ruang politik formal, melainkan muncul sebagai respons atas stigma yang diterima generasi muda. Kelompok tersebut beranggotakan anak-anak muda yang kecewa terhadap tingginya angka pengangguran, kebocoran ujian nasional, hingga buruknya tata kelola pendidikan. Sehingga mereka dicap sebagai "cockroach" atau kecoak.

"Alih-alih tersinggung lalu diam, mereka mengambil istilah itu sebagai simbol perlawanan. Mereka mengubah ejekan menjadi identitas, dan identitas menjadi gerakan nasional," kata Laksamana Sukardi mengutip pemberitaan Reuters, Selasa (28/7).

Mantan Menteri BUMN era Presiden Megawati Soekarnoputri itu menyebut bahwa Indonesia dan India memiliki sejumlah kesamaan mendasar. Di antaranya negara demokrasi terbesar di dunia dan menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia muda yang sangat besar. 

Baca Juga: Aksi Demonstrasi KSPI Jabar di Kemendagri: 1.030 Polisi Disiagakan Tanpa Senjata Api

Perlu diingat bahwa bonus demografi bukanlah jaminan keberhasilan, melainkan peluang yang harus dimanfaatkan melalui kebijakan yang tepat. "Bonus demografi sering disebut sebagai hadiah sejarah. Padahal sesungguhnya hanyalah sebuah peluang," tuturnya.

Jika generasi muda memperoleh akses pendidikan yang berkualitas, kesempatan kerja yang luas, dan ruang berkembang, bonus demografi akan menjadi modal besar bagi kemajuan bangsa. Sebaliknya, jika anak muda kehilangan harapan dan sulit mendapatkan pekerjaan, kondisi tersebut berpotensi memunculkan persoalan sosial, ekonomi, bahkan politik. "Penduduk muda bukan sekadar statistik. Mereka adalah investasi nasional," ucapnya.

Pelajaran paling penting dari pengalaman India bukan semata keberhasilan gerakan Cockroach, melainkan pentingnya menyediakan saluran aspirasi yang dipercaya generasi muda. "Setiap masyarakat membutuhkan mekanisme untuk menyampaikan kritik secara damai, rasional, dan konstruktif," ungkapnya.

Ketika ruang dialog berjalan dengan baik, energi sosial dapat diarahkan menjadi solusi. Sebaliknya, apabila berbagai saluran aspirasi terasa tertutup, tekanan sosial akan mencari jalannya sendiri.

Sukardi menekankan bahwa sejarah menunjukkan aspirasi yang lama dipendam tidak pernah benar-benar hilang. Oleh karena itu, demokrasi tidak cukup diwujudkan hanya melalui pemilu setiap lima tahun, tetapi juga harus menghadirkan ruang dialog yang terbuka setiap hari.

Baca Juga: DPR Terima Audiensi Mahasiswa yang Demonstrasi, Pegiat HAM: Demonstran Diajak Dialog, Bukan Dilawan!

Dalam konteks tersebut, keberadaan parlemen yang efektif, media independen, masyarakat sipil yang kuat, perguruan tinggi yang kritis, hingga oposisi yang sehat menjadi elemen penting dalam menjaga kualitas demokrasi.

"Oposisi bukan musuh negara. Oposisi adalah salah satu mekanisme agar pemerintah tetap mendengar suara rakyat ketika mayoritas memilih diam," bebernya.

Kritik tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari proses penyempurnaan kebijakan publik. "Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi tanpa kritik. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang mampu mengubah kritik menjadi kebijakan yang lebih baik," tegasnya.

Belajar dari sejarah, Indonesia telah menunjukkan besarnya peran generasi muda dalam menentukan arah perjalanan bangsa ini. Salah satu tonggak penting, Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang berhasil menyatukan semangat kebangsaan dan menjadi fondasi menuju kemerdekaan Indonesia.

"Peristiwa itu menunjukkan satu hal penting: ketika generasi muda bersatu dalam gagasan, mereka mampu mengubah arah sejarah," urainya.

Kepada generasi muda, Sukardi berpesan agar agar terus mengambil peran dalam membangun masa depan Indonesia melalui gagasan dan partisipasi, bukan kebencian maupun kekerasan. Negara yang kuat bukanlah negara yang membungkam suara anak muda, melainkan negara yang bersedia mendengar dan melibatkan mereka dalam proses pembangunan. "Dan tugas setiap generasi bukan sekadar mewarisi masa depan. Tetapi ikut menciptakannya," pungkasnya.

Baca Juga: Punya Aroma Kuat, 7 Tanaman Hias Ini Efektif Mengusir Kecoak

Gerakan Kecoak

Mengutip The Guardian, "Gerakan Kecoak" merupakan gerakan dari ribuan mahasiswa dan anak muda di India. Kelompok itu disebut Cockroach Janta Party (CJP). Nama "Gerakan Kecoak" muncul setelah sekelompok anak muda mengadopsi istilah yang semula digunakan sebagai ejekan terhadap mereka. Julukan tersebut kemudian diubah menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada mahasiswa dan pelajar.

Aksi para mahasiswa dan anak muda itu berpusat di New Delhi. Gerakan mereka dipicu kemarahan publik terhadap berbagai persoalan di sektor pendidikan, terutama dugaan kebocoran soal ujian nasional yang dinilai merugikan jutaan pelajar dan lulusan.

Para demonstran menuntut reformasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, peningkatan transparansi dalam penyelenggaraan ujian nasional, serta penindakan tegas terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam skandal kebocoran soal.

Gelombang protes itu berujung pada pengunduran diri Menteri Pendidikan India. Selain itu, para demonstran juga melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi beserta rezim nasionalis Hindu yang dipimpinnya.

"Jika pemerintah tidak menghormati kesepakatan dan tidak membebaskan semua orang yang ditahan atau ditangkap, kami akan terpaksa melanjutkan aksi protes," kata juru bicara CJP, Ashutosh Ranka.

EDITOR: Ilham Safutra