← Beranda
Arti Londo Ireng, Istilah yang Disebut Presiden Prabowo saat Singgung Jurnalis, Pengamat, dan LSM
Nanda PrayogaJumat, 24 Juli 2026 | 23.16 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat pidato di mimbar pidato Harlah ke-28 PKB di Jakarta, Kamis (23/7/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi perbincangan publik lantaran melontarkan kalimat Londo Ireng yang menurutnya orang-orang Indonesia yang senang mengabdi kepada bangsa lain.

Bahkan, dia mengungkapkan bahwa Londo Ireng hingga kini masih ada. Hanya saja dengan tampilan yang berbeda seperti jurnalis, pengamat, hingga LSM.

Hal ini diungkapkannya saat memberikan sambutan dalam Peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, Kamis (23/7).

"Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Iya, yang ikut Belanda perang lawan kita, Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan," katanya.

Baca Juga: Penjelasan 4 Sprindik yang Menjerat Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Lengkap Dengan Status Hukumnya

"Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah, kita tahu kan?," tambahnya.

Penjelasan Londo Ireng

Istilah Londo Ireng masih cukup sering terdengar di tengah masyarakat, terutama di Jawa. Sebagian orang mengenalnya dari percakapan sehari-hari, sementara yang lain menemukannya dalam cerita sejarah, film, atau kisah-kisah yang berkembang di masyarakat. Meski begitu, tidak semua orang mengetahui asal-usul maupun makna sebenarnya dari istilah tersebut.

Secara harfiah, londo dalam bahasa Jawa berarti Belanda atau orang Barat, sedangkan ireng berarti hitam. Jika digabungkan, Londo Ireng memiliki arti "Belanda hitam". Sebutan ini lahir pada masa kolonial Hindia Belanda dan berkaitan dengan keberadaan tentara asal Afrika yang direkrut pemerintah kolonial untuk bertugas di Nusantara.

Pada abad ke-19, Belanda mendatangkan sejumlah prajurit dari Afrika Barat, terutama dari wilayah yang kini menjadi Ghana. Mereka direkrut untuk memperkuat pasukan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) setelah Belanda mengalami kekurangan personel militer di wilayah jajahannya. Karena bertugas di bawah pemerintahan Belanda, masyarakat menyebut mereka sebagai "londo", sementara kata "ireng" merujuk pada warna kulit mereka yang lebih gelap.

Para prajurit tersebut kemudian ditempatkan di berbagai daerah di Hindia Belanda untuk menjalankan tugas militer dan menjaga wilayah kekuasaan kolonial. Kehadiran mereka meninggalkan jejak dalam sejarah Indonesia, termasuk melalui istilah Londo Ireng yang masih dikenal hingga sekarang.

Seiring berjalannya waktu, makna Londo Ireng mengalami pergeseran. Selain dipahami sebagai istilah yang memiliki latar belakang sejarah, sebagian masyarakat juga menggunakannya sebagai julukan bagi orang yang berkulit gelap. Namun, penggunaan dalam konteks tersebut sebaiknya dihindari karena dapat dianggap menyinggung atau bernuansa rasis apabila ditujukan kepada seseorang.

Baca Juga: Tuntut Febrie Adriansyah Diadili Secepatnya, Massa Aksi Lempar Tikus ke Kejagung

Istilah Londo Ireng juga kerap muncul dalam budaya populer, seperti cerita rakyat, film, maupun kisah horor. Dalam sejumlah cerita, Londo Ireng digambarkan sebagai sosok misterius atau tokoh tertentu. Penggambaran tersebut merupakan bagian dari perkembangan budaya populer dan tidak selalu mencerminkan fakta sejarah.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan