← Beranda
Gempa Kembar Serupa di Venezuela Pernah Melanda Indonesia, Bagaimana Kejadiannya?
Syahrul YunizarSelasa, 7 Juli 2026 | 05.40 WIB
Orang-orang mencari korban di tengah reruntuhan bangunan yang hancur saat upaya penyelamatan terus berlanjut di Catia La Mar di La Guaira, Venezuela. (Edilzon Gamez/Getty Images)

 

 

 

JawaPos.com - Ribuan korban meninggal dunia akibat gempa bumi kembar di Venezuela pada Rabu, 24 Juni lalu. Dilihat dari sudut pandang seismologi, gempa yang terjadi pukul 18:04:33 dan 18:05:12 waktu setempat adalah fenomena tidak biasa. Gempa serupa bahkan pernah melanda Indonesia.

Menurut Dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina Iktri Madrinovella, gempa kembar terjadi di Indonesia pada 12 September 2007 silam. Saat itu, Bengkulu diguncang lindu dengan kekuatan magnitudo 8,4 dan 7,9 setelah berselang 12 jam. Guncangan terjadi di megathrust Mentawai.

”Indonesia juga pernah mengalami gempa kembar, diantaranya adalah gempa Bengkulu tanggal 12 September 2007 yang terjadi di megathrust Mentawai akibat subduksi Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Eurasia. Gempa ini terjadi dengan magnitudo 8.4 dan 7.9 yang berselang 12 jam,” ungkap dia pada Senin (6/7).

Selain itu, gempa yang terjadi di Lombok pada 2018 juga merupakan gempa besar yang terjadi 2 kali dalam jarak berdekatan. Namun demikian, jarak waktu gempa pertama dengan gempa kedua hampir satu pekan. Yakni gempa 29 Juli 2018 dengan magnitudo 6.4 dan 5 Agustus 2018 dengan magnitudo 7,0.

Sementara gempa pertama di Venezuela berkekuatan magnitudo 7.2, sedangkan gempa kedua berkekuatan lebih besar. Yakni magnitudo 7.5. Kedua gempa tersebut berpusat di wilayah Morón–Yumare, sekitar 160 kilometer sebelah barat Caracas, dengan kedalaman dangkal sekitar 10–20 kilometer.

”Secara tektonik, Venezuela utara berada pada batas antara Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan yang bergerak secara horizontal (strike-slip),” ujarnya.

Akademisi yang akrab dipanggil Vella itu menjelaskan bahwa The United States Geological Survey (USGS) mencatat bahwa Lempeng Karibia bergerak ke arah timur relatif terhadap Lempeng Amerika Selatan dengan kecepatan 20 milimeter per tahun, dengan mekanisme sesar geser menganan (right-lateral strike-slip) yang membentang di wilayah utara Venezuela.

Lokasi gempa, lanjut dia, berada pada kedalaman dangkal antara 21.9 kilometer dan 10 kilometer, konsisten dengan bidang patahan atau batas lempeng yang disebut sebagai Sistem Sesar San Sebastián, memanjang di sepanjang pesisir utara Venezuela.

Menurut Vella, Gempa pertama dipicu oleh pergerakan salah satu segmen sesar (Sesar Boconó pada segmen timur) yang kemudian memicu pergerakan segmen di sebelahnya (Sesar Morón), sehingga terjadi gempa kedua yang lebih besar. Fenomena itu disebut gempa kembar atau seismic doublet.

”Dimana 2 gempa besar dengan magnitudo yang hampir sama terjadi saling berdekatan dalam ruang dan waktu,” bebernya.

Akibat gempa tersebut, terjadi kerusakan di wilayah La Guaira dan Caracas. Sampai Hingga 29 Juni 2026, tercatat setidaknya 1.450 korban jiwa, 3.150 luka-luka dan sekitar 50 ribu masih dalam pencarian. Gempa tersebut ditakar setara dengan skala MMI IX (violent), dengan indikasi potensi kerugian dan korban jiwa yang sangat tinggi.

EDITOR: Estu Suryowati