JawaPos.com - Kementerian Agama (Kemenag) menyalurkan dana zakat dan wakaf sebesar Rp 26,8 miliar kepada penerima manfaat di 38 provinsi dalam rangka pelaksanaan Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas 2026.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Waryono Abdul Ghafur, mengatakan capaian tersebut mencerminkan pengelolaan dana sosial keagamaan yang semakin terukur dan akuntabel. Menurutnya, setiap dana yang dihimpun dari masyarakat harus dapat dipertanggungjawabkan secara transparan.
"Setiap rupiah yang terkumpul dari masyarakat harus bisa dipertanggungjawabkan secara jelas, sampai ke mana dan untuk apa. Tahun ini kami memastikan seluruh proses penyaluran terdokumentasi dengan baik, sehingga publik dapat melihat sendiri bagaimana dana zakat dan wakaf benar-benar bekerja untuk masa depan anak-anak yatim dan penyandang disabilitas," kata Waryono, Senin (29/6).
Ia menjelaskan, dari total dana yang disalurkan, sebesar Rp 11,8 miliar diberikan dalam bentuk santunan tunai untuk memenuhi kebutuhan dasar para penerima manfaat. Sementara, Rp 5,4 miliar dialokasikan untuk paket sembako dan perlengkapan sekolah.
Baca Juga: KPK Dikabarkan OTT Pejabat di Kabupaten Kuansing Riau
Adapun sisanya digunakan untuk mendukung program pemberdayaan, seperti bantuan modal usaha melalui Barokah Market, pelatihan kapasitas, serta beasiswa pendidikan yang tersebar di seluruh provinsi.
Waryono menjelaskan, pola penyaluran tersebut merupakan bagian dari transformasi pengelolaan filantropi Islam yang kini lebih menitikberatkan pada pemberdayaan jangka panjang dibandingkan bantuan yang bersifat konsumtif.
"Kami ingin anak-anak binaan ini punya bekal untuk berdiri di atas kaki mereka sendiri di masa depan," jelasnya.
Konsep pemberdayaan itu juga diwujudkan melalui penyelenggaraan lima zona festival yang menjadi bagian dari acara. Kelima zona tersebut meliputi Zona Tumbuh sebagai ruang edukasi interaktif, Zona Berdaya untuk pengembangan keterampilan, Barokah Market sebagai etalase produk hasil karya anak binaan, Zona Ekspresi untuk kegiatan seni dan kreativitas, serta Zona Cahaya yang menampilkan pelelangan karya terbaik peserta.
Menurut Waryono, setiap zona dirancang untuk mendukung proses pemberdayaan secara berkelanjutan, mulai dari peningkatan kapasitas hingga membuka akses terhadap peluang ekonomi kreatif.
"Barokah Market misalnya, menjadi etalase nyata bahwa karya anak yatim dan penyandang disabilitas punya nilai jual dan layak diapresiasi secara ekonomi, bukan hanya secara emosional," ujar Waryono.
Keberhasilan penyaluran dana tersebut juga didukung kolaborasi lebih dari 31 lembaga mitra, di antaranya BAZNAS, Badan Wakaf Indonesia (BWI), perbankan syariah, serta berbagai Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS). Sinergi itu diperkuat melalui jaringan 34 Kantor Wilayah Kemenag Provinsi dan 509 Kantor Kemenag Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Jakarta Masuk 5 Besar Kasus TBC, Wagub Rano: Ada Rumah Tak Pernah Kena Matahari
Lebih lanjut, Waryono berharap sistem penyaluran dan pelaporan yang transparan dapat terus dipertahankan sehingga meningkatkan kepercayaan publik terhadap pengelolaan zakat dan wakaf.
"Yang ingin kami bangun bukan hanya satu acara yang meriah, tapi sebuah sistem pertanggungjawaban yang bisa dipercaya publik, agar semangat berbagi di bulan Muharam ini terus tumbuh tanpa keraguan soal akuntabilitas," pungkasnya.