← Beranda
BGN Mulai Refocusing Penerima Manfaat, 76 Sekolah di Pulau Jawa Dicoret dari Daftar Penerima MBG
Dimas ChoirulJumat, 19 Juni 2026 | 03.56 WIB
Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari. (Dimas Choirul/Jawapos.com)

JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) mulai melakukan penajaman sasaran penerima manfaat atau refocusing program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghentikan distribusi MBG ke sekolah yang dianggap mandiri secara finansial.

Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan, hingga Kamis (18/6) pihaknya telah mencoret sebanyak 76 sekolah di Pulau Jawa dari daftar penerima MBG. Angka itu disebut masih akan bertambah.

"Sampai per hari ini 76 sekolah di Pulau Jawa dengan jumlah penerima manfaat 39.352 siswa itu juga akan kami efisienkan dengan memfokuskan nantinya anggaran yang tadinya untuk di situ, kita akan memfokuskan untuk program MBG kepada anak-anak yang memerlukan intervensi pemenuhan gizi," kata dia saat konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Kamis (18/6).

Baca Juga: Kehidupan Semakin Stabil dan Menjanjikan! 6 Weton Ini Disebut Berpotensi Meraih Kekayaan yang Berkelanjutan

Lebih lanjut, BGN akan mengalihkan distribusi MBG dari sekolah-sekolah tersebut ke sekolah lainnya, termasuk yang berada di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Selain itu, pihaknya juga akan memprioritaskan kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) dalam pendistribusian MBG.

"Nah Ibu dan Bapak semuanya, angka di atas masih terus akan kami perbaharui ya. Tadi saya sudah katakan angka itu sementara sampai dengan hari ini. Kami masih terus bekerja untuk apa ya memperbaharui kualitas data, karena data itu sangat penting untuk menjadi dasar bagi kami membuat kebijakan tentang refocusing penerima manfaat," kata dia.

Baca Juga: Psikologi Mengungkap, Mereka yang Besar dalam Kemapanan Finansial Sering Menunjukkan 6 Sifat Unik Ini saat Dewasa

Dia juga menjelaskan, terdapat beberapa indikator yang digunakan BGN dalam mencoret sekolah-sekolah itu. Beberapa di antaranya adalah kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi, akses terhadap pemenuhan gizi, dan lainnya.

"Bagi yang secara mandiri bisa memenuhi gizinya karena kondisi-kondisi yang tadi mungkin secara ekonomi berada di desil yang tinggi itu, maka tidak akan diberikan program Makan Bergizi Gratis ini," tandas dia.

EDITOR: Bintang Pradewo