JawaPos.com — Program Smart Kampung Banyuwangi kembali mendapat pengakuan internasional setelah diundang Kementerian Dalam Negeri untuk dipaparkan dalam rapat koordinasi persiapan The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting 2026.
Program yang mengintegrasikan layanan publik digital hingga tingkat desa dan pemberdayaan masyarakat ini dinilai berhasil mendorong kesejahteraan sosial-ekonomi warga serta mengantarkan Banyuwangi mencatat indeks SPBE 4,87, tertinggi di Indonesia.
Mengapa Smart Kampung Banyuwangi Dilirik Forum ASEAN?
Program Smart Kampung Banyuwangi diposisikan sebagai salah satu praktik baik penerapan kota cerdas dalam forum persiapan The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting 2026.
Pengakuan tersebut menjadi bukti keberhasilan Banyuwangi dalam membangun tata kelola pemerintahan modern yang berbasis teknologi sekaligus berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Kementerian Dalam Negeri secara khusus mengundang Banyuwangi untuk memaparkan perkembangan program tersebut di hadapan berbagai pemangku kepentingan.
Smart Kampung dinilai berbeda karena tidak hanya berfokus pada digitalisasi administrasi pemerintahan, tetapi juga menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat hingga ke tingkat desa.
Pengembangan Smart Kampung selama ini menjadi salah satu strategi utama Banyuwangi dalam menghadirkan layanan publik yang lebih cepat, mudah, dan transparan.
Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat peran desa sebagai pusat pelayanan sekaligus penggerak pembangunan ekonomi masyarakat.
Pengakuan dalam forum ASEAN menjadi pencapaian penting karena memperlihatkan inovasi yang lahir dari daerah mampu menjadi referensi bagi kota dan kabupaten lain, bahkan di tingkat regional Asia Tenggara.
Kehadiran Banyuwangi dalam forum tersebut juga membuka peluang pertukaran pengalaman terkait pembangunan kota cerdas yang berkelanjutan.
Apa yang Membuat Smart Kampung Berbeda dari Program Digitalisasi Lain?
Smart Kampung Banyuwangi tidak hanya berbicara tentang pemanfaatan teknologi dalam pelayanan publik.
Program ini dirancang sebagai ekosistem pembangunan yang menggabungkan digitalisasi layanan dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Asisten Administrasi Umum Setda Banyuwangi yang juga Plt Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Banyuwangi Budi Santoso menjelaskan Smart Kampung memiliki cakupan yang luas.
Program tersebut menyentuh pengembangan ekonomi produktif, ekonomi kreatif, pendidikan, kesehatan, hingga upaya pengentasan kemiskinan.
“Program Smart Kampung untuk memudahkan pelayanan publik hingga tingkat desa, yang dipadu dengan pemberdayaan. Ujungnya adalah meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi warga,” kata Budi.
Konsep tersebut membuat Smart Kampung tidak sekadar menjadi proyek digitalisasi pemerintahan.
Teknologi digunakan sebagai alat untuk mempercepat pelayanan sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi dan sosial di wilayahnya masing-masing.
Melalui pendekatan ini, warga desa dapat mengakses berbagai layanan pemerintahan secara lebih mudah tanpa harus datang ke pusat pemerintahan yang lebih jauh.
Di saat yang sama, pemerintah daerah mendorong lahirnya aktivitas ekonomi baru yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.
Bagaimana Smart Kampung Mendorong Pemberdayaan Masyarakat?
Keberhasilan Smart Kampung tidak lepas dari integrasi antara teknologi dan pembangunan manusia.
Banyuwangi memanfaatkan platform digital untuk mempercepat akses layanan sekaligus mendukung berbagai program yang berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Sektor pendidikan menjadi salah satu fokus yang terus diperkuat.
Pemanfaatan teknologi informasi membantu memperluas akses masyarakat terhadap layanan pendidikan serta berbagai program peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat desa.
Di bidang kesehatan, digitalisasi mempermudah koordinasi layanan dan akses informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Sementara pada sektor ekonomi, pemerintah daerah mendorong pengembangan usaha produktif dan ekonomi kreatif agar masyarakat memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan.
Program ini juga berkontribusi dalam berbagai upaya pengentasan kemiskinan melalui pendekatan yang lebih terintegrasi.
Data dan teknologi dimanfaatkan untuk mendukung pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran sehingga program-program bantuan dan pemberdayaan dapat berjalan lebih efektif.
Apa Hubungannya dengan Indeks SPBE 4,87 yang Tertinggi di Indonesia?
Keberhasilan Smart Kampung berjalan seiring dengan capaian Banyuwangi dalam penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
Kabupaten tersebut berhasil mencatat indeks SPBE sebesar 4,87, yang menempatkannya sebagai pemerintah daerah dengan capaian SPBE terbaik di Indonesia.
Indeks SPBE menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur tingkat kematangan transformasi digital pemerintahan.
Penilaian tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari tata kelola pemerintahan digital, integrasi layanan, keamanan sistem informasi, hingga efektivitas pelayanan publik berbasis elektronik.
Capaian skor 4,87 menunjukkan tingkat implementasi yang sangat tinggi dalam pemanfaatan teknologi pemerintahan.
Prestasi ini sekaligus memperkuat posisi Banyuwangi sebagai salah satu daerah yang konsisten melakukan inovasi pelayanan publik berbasis digital.
Pengakuan nasional melalui indeks SPBE dan apresiasi regional melalui forum ASEAN memperlihatkan konsistensi Banyuwangi dalam membangun pemerintahan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Model pembangunan yang menggabungkan digitalisasi dan pemberdayaan masyarakat tersebut kini menjadi contoh bagaimana transformasi digital dapat memberikan dampak nyata bagi kehidupan warga.
Ke depan, pengalaman Banyuwangi melalui Smart Kampung berpotensi menjadi referensi bagi daerah lain yang ingin memperkuat layanan publik sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan fondasi digital yang kuat dan pendekatan pembangunan yang inklusif, Smart Kampung terus berkembang sebagai salah satu inovasi unggulan yang membawa nama Banyuwangi ke panggung nasional maupun internasional.