JawaPos.com - Meski batal menggelar demonstasi di Bundaran HI, mahasiswa dan masyarakat sipil tetap menggelar orasi mereka di jalan MH Thamrin, Jumat (13/6). Massa berorasi secara bergantian. Meski hanya berbekal sebuah toa, mereka tetap menyuarakan pandangan mereka mengenai situasi Indonesia saat ini.
Massa aksi menyuarakan kritik tajam terhadap ketimpangan ekonomi dan kebijakan penataan jabatan publik yang dinilai mencederai keadilan.
Isu utama yang menjadi sorotan adalah kontrasnya nasib jutaan sarjana yang menganggur dengan kebijakan yang mempermudah aparat kepolisian untuk menduduki jabatan sipil.
Baca Juga: Pajang Poster PERINGATAN (SANGAT) DARURAT', Ini 5 Tuntutan BEM UI di Demo Hari Ini
Diketahui, melalui revisi Undang-Undang (UU) Polri, anggota polisi aktif kini diperbolehkan menduduki jabatan di institusi sipil tanpa harus pensiun atau mengundurkan diri terlebih dahulu.
Ironi 1 Juta Sarjana Menganggur vs Jabatan Sipil untuk Polisi
Salah satu perwakilan mahasiswa menggarisbawahi kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja, di tengah melonjaknya angka pengangguran terdidik di Indonesia.
Perwakilan mahasiswa tersebut dengan lantang memprotes kebijakan penempatan aparat TNI/Polri di sektor sipil yang dinilai tidak masuk akal.
"Kita tidak akan membiarkan kegagalan ini berlalur larut. Kawan-kawan, kita harus sepakat rezim saat ini hanya berpihak pada mereka yang punya uang. Sekarang masyarakat ditindas habis-habisan. Kawan-kawan yang pakai baju coklat ini (polisi) bisa mengisi jabatan jabatan sipil. Dimana otak rezim saat ini kawan-kawan," teriak orator.
Ia juga menyerukan agar seluruh elemen, mulai dari buruh hingga pelajar, merapatkan barisan guna menghadapi sistem politik yang dianggap hanya berpihak pada pemilik modal.
"Hari ini mereka yang bertarung di elektoral hanya membawa kepentingan pemodal. Mereka hanya ingin memperkaya partai mereka sendiri. Partai partai saat ini hanya mewakili apa yang mereka inginkan. Ada 1 juta orang sarjana yang tidak bekerja, tapi polisi bisa menduduki jabatan sipil, kan lucu," tambahnya.
Jeritan Santri dan Guru Ngaji Soal Kekayaan Alam
Tidak hanya dari kalangan mahasiswa umum, kritik pedas juga datang dari perwakilan santri yang ikut turun ke jalan. Ia menyayangkan sikap sebagian tokoh agama yang dinilai menutup mata terhadap realitas sosial dan kemiskinan yang terjadi di daerah-daerah kaya sumber daya alam.
Baca Juga: Penampakan Unik Bus Mini Jadul yang Angkut Massa Demo BEM UI
"Saya santri tapi tidak banyak santri turun ke jalan. Saya guru ngaji tapi banyak kyai yang menjilat Prabowo. Berapa banyak kyai dan santri yang tidak berani turun ke jalan. Kita punya nikel, batu bara, sawit tapi kenapa kita miskin," ucapnya.
Potret Suram Pengangguran Terdidik di Indonesia
Berdasarkan data terbaru, Indonesia membukukan 1 juta pengangguran terdidik alias lulusan sarjana dari total 7,24 juta Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026.
Fenomena ini menjadi ironi terbesar di tengah masifnya pertumbuhan akses pendidikan tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Gelar sarjana yang selama ini dielu-elukan sebagai tiket emas untuk mendapatkan kehidupan dan pekerjaan yang layak, kini justru belum mampu menjamin lulusan baru agar bisa terserap di bursa kerja nasional.