← Beranda
3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
Ilham Safutra• Selasa, 9 Juni 2026 | 16.17 WIB
Ilustrasi poster nobar film pesta babi. (IG/Watchdog).

 

JawaPos.com - Indonesia merupakan negara yang sangat menghormati kebebasan berekspresi. Namun, kebebasan itu jangan sampai berujung pada disintegrasi atau perpecahan bangsa dan mengganggu keutuhan NKRI.

Peringatan itu disampaikan oleh Pengamat politik Rico Marbun dalam melihat konsep produksi film Pesta Babi. Menurut dia, terdapat indikasi kuat upaya membonceng film Pesta Babi untuk menyebarkan propaganda disintegrasi Papua dari Indonesia. Hal itu terlihat dari tiga pola propaganda yang terlihat dalam film tersebut.

"Kehadiran film ini bukan lagi hanya menjadi kritik sosial. Ada pola komunikasi yang mengarah pada pembentukan narasi pemisahan Papua dari Indonesia," kata Rico, Selasa (9/6).

Modus pertama, penggunaan kata, simbol, dan visual yang secara konsisten memisahkan Papua dan Indonesia sebagai dua entitas yang berbeda. Modus kedua, menggunakan film Pesta Babi untuk menolak dialog serta menihilkan berbagai upaya pemerintah selama ini dalam membangun Papua.

Baca Juga: Tokoh Adat Papua Mama Yasinta Minta Perlindungan ke LPSK usai Buat Laporan Polisi soal Film Pesta Babi

"Apa pun yang dilakukan pemerintah dianggap salah. Ini bisa dikatakan upaya membangun ketidakpercayaan total terhadap negara," ujar direktur eksekutif Media Survei Nasional (MEDIAN) itu.

Sementara modus ketiga, membangun kebencian terhadap pemerintah untuk memperoleh legitimasi politik bagi agenda disintegrasi. Menurut dia, pola tersebut lazim digunakan dalam berbagai gerakan separatis di sejumlah negara. Yakni, menciptakan jarak psikologis antara masyarakat dan negara sebelum mendorong tuntutan pemisahan diri.

Baca Juga: (Masih) Pesta Babi

"Masyarakat Papua dan seluruh rakyat Indonesia harus waspada. Jangan sampai film ini dijadikan kendaraan propaganda politik yang mengancam persatuan nasional," tandas alumni Rajaratnam School of International Studies (RSIS) itu.

EDITOR: Ilham Safutra