← Beranda
Menag Nasaruddin Umar Dorong Pesantren Lahirkan Generasi Unggul Sekaliber Pendiri NU KH. Abdul Wahab Hasbullah
Dony Lesmana Eko PutraSabtu, 6 Juni 2026 | 00.13 WIB
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat menghadiri kegiatan Pindapata Nasional Gema Waisak 2570 Buddhist Era Tahun 2026 di sepanjang Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta, Minggu (10/5).

JawaPos.com - Di tengah derasnya sorotan terhadap berbagai kasus yang terjadi di pondok pesantren (ponpes), Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar terus mendorong pesantren untuk mencetak generasi unggul dan sosok pemimpin seperti KH. Abdul Wahab Hasbullah.

Sebagai ulama Kiai Wahab bukan hanya menjadi panutan, kiprahnya mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) yang turut serta dalam pergerakan bangsa Indonesia hingga kini masih menjadi teladan. Tidak heran, Menag Nasaruddin menjadikannya sebagai contoh.

Nasaruddin menyampaikan bahwa pesantren memiliki karakter keilmuan yang khas dan tidak dapat disamakan dengan lembaga pendidikan lain.

Karena itu, Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag harus terus memperkuat identitas, tradisi keilmuan, dan keunggulan pesantren dalam sistem pendidikan nasional.

”Pesantren memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang khas. Keunggulan itu harus terus diperkuat agar pesantren mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman,” kata dia dalam keterangan resmi pada Jumat (5/6).

Menurut Nasaruddin, Kiai Wahab merupakan sosok yang berhasil memadukan visi besar dengan kemampuan mengelola organisasi secara efektif.

Karena itu, tokoh yang sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional itu dikenal sebagai pemimpin pergerakan yang memiliki pengaruh luas dan profesional mengelola organisasi.

”Pesantren ke depan tidak cukup hanya melahirkan figur pemimpin yang kharismatik. Pesantren juga harus melahirkan pengelola yang profesional, adaptif, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kemajuan lembaga,” harapnya.

Nasaruddin melihat, model kepemimpinan Kiai Wahab harus menjadi inspirasi bagi pengembangan pesantren di Indonesia. Sebab, itu pula yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang memadukan kepemimpinan dan manajemen dalam satu pribadi.

Lebih lanjut, Nasaruddin juga menekankan pentingnya menjaga tradisi nasionalisme yang telah lama tumbuh di lingkungan pesantren.

Dia menyebut, pesantren memiliki kontribusi besar dalam menjaga keutuhan bangsa sekaligus membangun karakter kebangsaan masyarakat Indonesia.

”Sejak awal pesantren telah membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan komitmen kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam membangun Indonesia,” ujarnya.

Dalam keterangan yang sama, Direktur Pesantren Kemenag Basnang Said menyampaikan, pihaknya sudah melaksanakan bedah buku KH. Abdul Wahab Hasbullah (Pendiri NU, Penggerak NKRI) sebagai bagian dari ikhtiar menginspirasi pondok-pondok di Indonesia.

Menurut dia, pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di bawah Kemenag menjadi momentum dan tonggak penting dalam sejarah pengembangan pesantren di Indonesia.

Kehadiran Ditjen Pesantren Kemenag merupakan implementasi dari amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.

Tidak hanya itu, pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren adalah bentuk penguatan kelembagaan bagi lebih dari 42 ribu pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.

Harapannya, organisasi tersebut bisa mengawal pergerakan pesantren untuk melahirkan generasi unggul seperti telah disampaikan oleh menag.

”Ini merupakan capaian bersejarah bagi dunia pesantren. Kami bersyukur pesantren kini memiliki penguatan kelembagaan yang lebih kuat untuk mendukung pengembangan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Saat ini, lanjut dia, Direktorat Pesantren Kemenag tengah menyusun arah pengembangan pesantren untuk 10 tahun ke depan.

Fokus pengembangan diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan, penguatan ekosistem dakwah, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembenahan sistem pendataan pesantren secara nasional.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra