JawaPos.com - Kalangan masyarakat sipil, aktivis, akademisi, hingga tokoh intelektual dari berbagai daerah di Indonesia dijadwalkan berkumpul di Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarya, pada Sabtu (30/5). Pertemuan tersebut dikemas dalam forum bertajuk 'Konferensi Republik: Meneguhkan Civil Society Pilar Republik'.
Forum ini menjadi ajang konsolidasi nasional bagi berbagai elemen masyarakat sipil. Konferensi tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi bersama untuk menyatukan gagasan dan pandangan yang selama ini berkembang di berbagai lini gerakan masyarakat.
Ketua Umum Panitia Konferensi Republik, Sudirman Said, menilai forum tersebut memiliki makna historis penting dalam perjalanan bangsa. Menurutnya, civil society telah memainkan peran besar bahkan jauh sebelum negara terbentuk.
Baca Juga: RIDE Jadi Wajah Baru Harley-Davidson di Pasar Global
“Republik ini digerakkan kehadirannya oleh civil society jauh sebelum negara hadir. Makanya, kerapatan civil society harus kembali dihadirkan sebagai poros yang turut aktif berkontribusi bagi hitam-putihnya Republik," kata Sudirman Said, Jumat (29/5).
Ia menjelaskan, sejarah Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat sipil yang dipimpin kelompok intelektual dan kaum terdidik selalu berada di garis depan dalam mendorong perubahan sosial dan perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.
Menurutnya, kehadiran kelompok tersebut merupakan konsekuensi tidak langsung dari Politik Etis yang diterapkan pada masa kolonial. Meski jumlahnya kecil di tengah masyarakat yang kala itu masih memiliki tingkat literasi rendah, mereka mampu menjadi motor penggerak perubahan.
Ia menambahkan, kontribusi masyarakat sipil tidak hanya sebatas menjadi agen pencerahan, melainkan juga menghadirkan keteladanan melalui tindakan nyata dan pengabdian bagi bangsa.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Optimis Jawa Timur Terdepan Lumbung Gula Nasional
Sudirman menyebut, perjalanan bangsa Indonesia dapat dilihat melalui tonggak sejarah yang bergerak dalam siklus tertentu dari masa ke masa.
“Mari kita cermati. Sebermula adalah tonggak ‘Berbangsa’ (1908), diikuti ‘Bersatu’ (1928), lalu ‘Merdeka’ (1945), ‘Membangun’ (1966), hingga tiba saatnya ‘Berdemokrasi’ (1998). Setelah ‘Berdemokrasi’, sepantasnyalah negeri ini makin naik kelas. Pertanyaannya, apakah hari-hari ini negeri kita sedang naik kelas?” tuturnya.
Konferensi yang berlangsung sehari penuh di kampus UGM itu akan diawali pidato pembuka oleh Wakil Rektor UGM, Arie Sujito. Setelah itu, keynote adres akan disampaikan Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat yang akan membahas hubungan civil society dan kekuasaan di tengah situasi krisis demokrasi saat ini.
Selanjutnya, forum pleno akan membahas empat isu utama secara paralel, yakni krisis representasi demokrasi, ketimpangan ekonomi dan melemahnya basis sosial, pelemahan institusi strategis, serta fragmentasi sosial dan depolitisasi publik.
Selain sesi pleno, panitia juga menyiapkan tujuh panel paralel yang akan mendalami berbagai isu spesifik. Mulai dari model partisipasi publik, konsolidasi nasional civil society, demokrasi ekonomi, supremasi hukum dan antikorupsi, krisis ekologi, demokratisasi pengetahuan, hingga model kewargaan aktif dan deliberatif.
Baca Juga: Marcos Senesi Berhasil Direkrut, Tottenham Hotspur Makin Serius Perkuat Lini Belakang
Sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang dijadwalkan hadir sebagai pembicara. Di antaranya Jaleswari Pramodhawardani, Andi Widjajanto, Arie Sujito, Romo Leo Kleden, Alissa Wahid, Prof. Zainal Arifin Mochtar, Bhima Yudhistira, Titi Anggraini, Victoria Fanggidae, Chandra Hamzah, hingga Yanuar Nugroho.
Konferensi akan ditutup dengan sambutan Prof. Dr. Baiquni selaku Ketua Dewan Guru Besar UGM dan Gita Wirjawan yang saat ini menjadi Visiting Scholar Stanford University. Keduanya akan membahas pentingnya membangun komunitas epistemik masyarakat sipil lintas negara di kawasan Asia Tenggara.
Konferensi Republik diharapkan dapat menghasilkan dua capaian utama, yakni rumusan bersama mengenai posisi civil society sebagai pilar republik, serta langkah konkret yang dapat dijalankan setelah konferensi berakhir.