JawaPos.com - Praktik jual beli titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diungkap oleh Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sonjaya. Dia menyebut, ada berbagai modus yang dilakukan oleh para pelaku untuk menjerat korban sampai rugi miliaran rupiah.
Sony mengungkap itu setelah berkoordinasi dengan Satuan Tugas (Satgas) MBG Polri dan Bareskrim Polri pada Senin (25/5). Menurut dia, sejauh ini ada 3 modus yang sudah teridentifikasi oleh BGN. Modus itu kerap dilakukan untuk mengibuli pihak-pihak yang berniat membangun SPPG.
Modus pertama, para pelaku mendaftar lebih dulu secara resmi kepada BGN. Proses mereka lakukan sampai mendapatkan ID SPPG. Namun, setelah mendapat ID tersebut, mereka tidak melakukan pembangunan sebagaimana mestinya. Yang dilakukan justru mencari korban.
Baca Juga: Unesa Terima 8.292 Mahasiswa Baru Jalur UTBK-SNBT 2026, Keperawatan Jadi Prodi Paling Ketat
”Dia sebenarnya tidak membangun (SPPG), tetapi dia menawarkan diri seolah-olah dia pejabat BGN atau mempunyai relasi dengan BGN mengatakan ‘saya bisa membantu kamu, saya bisa membantu kamu,’ kemudian mengurus mendapatkan ini. Nah, terjadilah di situ transaksi,” ungkap Sony.
Kedua, modus yang belakangan sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian. Modus tersebut dilakukan oleh sekelompok orang dengan mengatasnamakan yayasan. Mereka menampung beberapa permohonan titik pembangunan SPPG. Setelah itu, mereka meminta uang berkisar Rp 25-Rp 50 juta dengan dalih akan dibantu.
”Namun kemudian tidak kunjung mendapatkan ID SPPG karena dia bukan orang yang mendaftarkan. Dia hanya menampung,” jelasnya.
Terakhir modus ketiga. Yakni sekelompok orang yang membentuk organisasi serupa lembaga swadaya masyarakat dan perusahaan. Mereka juga menjanjikan kepada masyarakat untuk mendapatkan titik pembangunan SPPG dari BGN. Para korban juga diiming-iming bisa mendapatkan ID.
Baca Juga: Luis de la Fuente Tegaskan Alasan Tak Panggil Pemain Real Madrid ke Skuad Spanyol Piala Dunia 2026
”BGN sekali lagi tidak pernah bekerja sama dengan organisasi, dengan kelompok perusahaan mana pun untuk pendaftaran titik-titik SPPG. Murni yayasan yang mendaftarkan,” terang dia.
Kepada awak media, Sonny mengaku sudah mendapat banyak laporan terkait dengan praktik jual beli titik SPPG di berbagai daerah. Para korban mengaku ditipu oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang mengaku kenal pejabat BGN atau menjanjikan mendapatkan titik pembangunan SPPG.
”Ada beberapa laporan polisi yang sekarang sedang ditangani, yang pertama di Polda Jawa Barat, ada 1 laporan polisi, itu sudah saya monitor kemarin sudah tertangkap pelakunya. Kemudian saya juga kemarin koordinasi dengan Polresta Barelang dan juga dengan Polres Lombok Timur,” terang dia.
Tidak sampai di situ, hari ini ada beberapa korban yang akan mengadu kepada BGN dengan keluhan yang sama. Lantaran maraknya informasi tersebut, dia berinisiatif berkoordinasi dengan Satgas MBG Polri serta pihak Bareskrim Polri. Tujuannya agar penanganan kasus tersebut bisa diatensi.
”Diharapkan mampu menginformasikan dan meminta kepada jajaran polres, membantu untuk menerima laporan-laporan tersebut, kemudian memproses, dan mudah-mudahan juga bisa mengungkap siapa sebetulnya di balik mereka-mereka yang menggunakan, yang memanfaatkan, dan mencoreng program ini,” ujarnya.
Baca Juga: Michael Owen Sebut Dua Klub Ini Bakal Jadi Ancaman Arsenal di Liga Inggris Musim Depan!
Sonny menegaskan, program MBG harus dijaga. Menurut dia, salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu adalah program yang mulia. Karena itu, dia tidak ingin pelaksanaannya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang hanya ingin mengambil keuntungan.
Apalagi, Sonny menyebut, kerugian masyarakat akibat praktik terlarang tersebut tidak sedikit. Menurut dia, kerugian korban jika diakumulasi sudah tembus miliaran rupiah. Bahkan ada satu laporan dengan beberapa korban nilai kerugiannya mencapai Rp 1,9 miliar.
”Yang di Polda Jawa Barat itu Rp 1,9 miliar rupiah. Di Jawa Barat yang baru lapor itu 21 orang. Kemudian di Lombok Timur ada 1 orang. Kemudian ini saya mendengar hari ini akan ada datang juga korban 20 orang, 20 orang yang ditipu oleh sebuah yayasan,” jelasnya.