← Beranda
Guru Besar UPI Sebut MBG Punya Potensi Besar asalkan Dikelola Manajemen yang Transparan
Dimas ChoirulSabtu, 23 Mei 2026 | 05.44 WIB
Ilustrasi siswa menerika Makan Bergizi Gratis (MBG). (Istimewa)

 

 

JawaPos.com - Di tengah kritik dan kontroversi dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG), banyak ahli dan pengamat menilai dampak program ini masih bisa dioptimalkan. Apabila dikelola dengan tepat, program ini bisa mendorong perkembangan generasi muda bangsa dalam 10–20 tahun ke depan.

Guru Besar Ilmu Politik dan Pengamat Kebijakan Publik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Cecep Darmawan, mengatakan bahwa jika dikelola dengan manajemen yang transparan, tepat sasaran, serta didukung ekosistem pendidikan yang holistik, program ini akan membawa transformasi besar. Program MBG memiliki potensi besar jika tata kelolanya bagus.

’’Apabila anak-anak kita secara fisik sehat karena asupan gizi yang baik, dan diimbangi dengan kognisi serta literasi yang baik dari sekolah, Insyaallah dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, program ini akan melahirkan generasi-generasi unggul yang good and smart,” kata Cecep, Jumat (22/5).

Terkait dinamika di media sosial yang sering memberikan sorotan dan kritik tajam pada implementasi MBG, Cecep menilai hal itu sebagai bentuk kontrol publik yang wajar. Kontrol tersebut harus dilihat sebagai bagian dari proses perbaikan program.

Namun, dia menekankan pentingnya literasi media sosial agar masyarakat bisa membedakan kritik yang membangun dengan cercaan atau hoaks. Literasi ini penting agar kritik menjadi saran yang membangun dan bukan malah memperkeruh suasana.

’’Kita tidak bisa menutup mata bahwa implementasi di lapangan pasti ada kelemahan. Anggap saja kritik itu sebagai obat. Yang kurang baik manajerialnya segera diperbaiki, dapur yang tidak standar diganti. Jangan salahkan programnya, tapi perbaiki implementasinya,” ujarnya.

Dia juga mendorong agar praktik-praktik baik (best practices) dari dapur SPPG dan sekolah yang berhasil menjalankan MBG secara optimal disebarluaskan. Hal ini bisa mengimbangi narasi negatif dan menjadi contoh untuk wilayah lain.

 

Dahulukan Kelompok Rentan

Cecep menegaskan bahwa publik dan pemangku kebijakan harus memisahkan esensi visi program MBG dengan kendala teknis di lapangan. Ide besar memperbaiki gizi bangsa tidak boleh gugur hanya karena masalah manajerial yang belum sempurna.

Dia memberikan rekomendasi taktis bagi pemerintah. Jika keterbatasan anggaran terjadi saat awal implementasi, fokus program dipersempit untuk menyasar kelompok yang paling membutuhkan terlebih dahulu.

’’Jadi jangan salahkan programnya, tapi perbaiki implementasinya. Kalau sekarang programnya itu kalau memang uangnya masih terbatas, kelompok-kelompok rentan saja duluan. Ya, se-Indonesia kelompok rentan aja duluan, termasuk anak-anak jalanan. Nanti jika keuangan negara makin baik, baru bertahap ke sasaran yang lebih luas agar anggaran tepat guna," sarannya.

Meski MBG memiliki visi sangat baik, Cecep mengingatkan program ini tidak bisa berjalan sendiri dan tidak boleh menjadi satu-satunya solusi atas masalah kompleks masyarakat. Program perlu dukungan dari banyak pihak.

Dia menyarankan beberapa aspek strategis yang perlu diperhatikan pemerintah untuk mengoptimalkan MBG. Program butuh kerja sama antara Badan Gizi Nasional (BGN), kementerian terkait, pemerintah daerah, komite sekolah, dan keluarga.

Baca Juga: Analisis KPK Ungkap MBG Tak Tepat Sasaran, Kelompok Miskin Tak Kebagian Jatah

Baca Juga: Dana MBG Rp 12 Triliun Mengendap di Rekening Yayasan, KPK Soroti Tata Kelola Anggaran 

’’Pemerintah juga harus memperkuat sektor ekonomi makro dan penyediaan lapangan kerja agar orang tua mampu melanjutkan estafet pemenuhan gizi di rumah," ujarnya. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan