← Beranda
Kemenkes: 2 Kasus Suspek Hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta Hasilnya Negatif
Tazkia Royyan HikmatiarJumat, 8 Mei 2026 | 22.56 WIB
ILUSTRASI: Hantavirus. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)

JawaPos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan dua kasus suspek hantavirus yang sebelumnya ditemukan di Jakarta Utara dan Kulon Progo, DI Yogyakarta, dinyatakan negatif setelah menjalani pemeriksaan laboratorium.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan, hasil pemeriksaan menunjukkan dua pasien tersebut tidak terinfeksi hantavirus.

“Yang dua terakhir itu sudah negatif hanta semua," ujarnya saat dihubungi JawaPos.com.

Sebelumnya, Kemenkes melaporkan terdapat tambahan dua kasus suspek hantavirus pada pekan ini, masing-masing satu kasus di Kota Jakarta Utara dan satu kasus di Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Selain itu, sebanyak 23 kasus positif hantavirus ditemukan di Indonesia sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026. Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi, dengan jumlah terbanyak berada di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, total terdapat 251 kasus suspek penyakit virus Hanta pada periode 2024-2026. Dari jumlah tersebut, 23 kasus terkonfirmasi positif, 221 kasus dinyatakan negatif, empat kasus masih dalam pemeriksaan, dan tiga kasus tidak dapat diambil spesimen. Tidak terdapat penambahan kasus konfirmasi pada pekan ini.

Baca Juga: Kemenkes Sebut Kasus Hantavirus di Indonesia Berbeda Strain dengan yang di Kapal MV Hondius

Aji juga memastikan bahwa seluruh kasus positif hantavirus tersebut sudah dinyatakan sembuh.

Pengobatan Hantavirus Belum Tersedia
Namun begitu, Aji menjelaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia pengobatan khusus maupun vaksin untuk menangani hantavirus. Penanganan pasien dilakukan dengan terapi suportif untuk meredakan gejala yang muncul.

“Pengobatan dan vaksin belum ada. Penanganan dengan obat-obatan untuk menangani gejala dan sifatnya suportif,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus hantavirus di Indonesia melalui sistem surveilans dan deteksi dini.

Penularan Melalui Tikus dan Hewan Pengerat
Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan melalui kontak dengan hewan pengerat terinfeksi seperti tikus dan celurut. Penularan dapat terjadi melalui gigitan maupun paparan urin, saliva, dan feses hewan yang terinfeksi.

Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui inhalasi aerosol yang berasal dari ekskresi hewan pembawa virus.

Kemenkes mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus, serta memastikan makanan dan minuman tetap higienis guna mencegah penularan hantavirus.

EDITOR: Mohamad Nur Asikin