JawaPos.com – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menilai langkah Presiden Prabowo Subianto membawa kendaraan Maung saat menghadiri KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, merupakan simbol kemandirian sekaligus kemajuan teknologi industri otomotif nasional.
Menurut Qodari, penggunaan kendaraan produksi dalam negeri itu menjadi bentuk komitmen Prabowo dalam mendorong lahirnya industri otomotif Indonesia yang kuat dan kompetitif di pasar global.
“Iya dong. Ini kan Maung ini kan merupakan simbol kemandirian sekaligus kemajuan teknologi bangsa Indonesia. Pak Prabowo ingin agar kita sebagai bangsa itu punya industri otomotif yang bagus dan kompetitif,” kata Qodari kepada Jawapos.com, Jumat (8/5).
Ia menilai Indonesia sebenarnya memiliki pasar otomotif yang sangat besar, sehingga seharusnya mampu melahirkan produk kendaraan nasional yang kuat. Karena itu, diperlukan keberanian untuk melakukan berbagai terobosan teknologi dan industri.
“Suatu ironi bahwa kita setiap tahun membeli mobil baru itu ratusan ribu, bahkan pada masa-masa jayanya itu bisa sampai satu juta per tahun. Masak sih istilahnya, kalau kata beliau tuh, 300.000-400.000 unit saja tidak ada mobil nasional yang dibeli,” ujarnya.
Qodari menegaskan, langkah Prabowo membawa Maung ke forum internasional menjadi salah satu cara menunjukkan kemampuan industri nasional kepada dunia.
“Jadi sebetulnya dari skala ekonomi harusnya bisa dan harus ada keberanian untuk bisa melakukan terobosan-terobosan teknologi dan terobosan industri supaya industri otomotif Indonesia betul-betul maju. Dan itu ditunjukkan antara lain dengan membawa mobil Maung ke acara KTT ASEAN di Cebu, Filipina,” lanjutnya.
Baca Juga: Bakom RI Tegaskan Tak Ada Kontrak dengan New Media, Sebut Hanya Buka Ruang Komunikasi
Sebelumnya, Prabowo tiba di Cebu, Filipina, untuk menghadiri KTT ASEAN ke-48. Ia mendarat di Bandara Benito Ebuen Airbase sekitar pukul 13.30 WIB dan disambut pejabat Filipina serta pertunjukan tarian tradisional.
Selama berada di Filipina, Prabowo menggunakan kendaraan Maung Putih produksi Indonesia untuk menjalani rangkaian agenda kenegaraan, termasuk menghadiri pertemuan BIMP-EAGA dan sejumlah sesi KTT ASEAN.
Saat ditanya kemungkinan penggunaan Maung dalam kunjungan luar negeri lainnya, Qodari menyebut hal itu tetap akan menyesuaikan situasi dan aturan masing-masing negara.
“Tentu harus melihat situasi dan kondisi ya, misalnya jarak gitu ya, terus peraturan yang berada di negara masing-masing. Kebetulan kan Filipina relatif tidak terlalu jauh dari Indonesia, kebetulan juga negara ASEAN, dan ya setiap kesempatan yang bisa dipergunakan untuk membangkitkan semangat, menunjukkan kualitas bangsa Indonesia tentu akan kita optimalkan,” tandasnya.