← Beranda
Menteri PPPA Usul Posisi Gerbong Khusus Perempuan di Tengah, Dirut KAI Beri Respons Menohok
Ryandi ZahdomoRabu, 29 April 2026 | 20.43 WIB
Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com–Usul Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi terkait pemindahan posisi gerbong khusus perempuan pada KRL tengah menjadi sorotan. Wacana ini muncul pasca insiden kecelakaan antara kereta Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur.

Menteri Arifah menyarankan agar gerbong perempuan yang biasanya berada di ujung rangkaian, kini diposisikan di bagian tengah. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan aspek keselamatan penumpang.

”Kalau tadi kita ngobrol dengan KAI, kenapa ditaruh di paling depan atau paling belakang supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah,” ujar Arifah kepada wartawan di RSUD Bekasi, Selasa (28/4).

Baca Juga: Resmi: KRL Kembali Beroperasi Normal di Stasiun Bekasi Timur Siang Ini

Respons KAI: Keselamatan Tanpa Bedakan Gender

Menanggapi usul tersebut, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin menegaskan, pihaknya sangat mengutamakan aspek keselamatan penumpang. Posisi gerbong hanya soal kenyamanan, namun keselamatan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

”Seperti yang saya sampaikan tadi, KAI menjamin keselamatan ya. Bagi kami keselamatan tidak ada toleransinya sama sekali, tidak ada kompromi sama sekali, dan kami tidak membedakan gender laki dan perempuan," ujar Bobby di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4).

Bobby menambahkan, penempatan gerbong khusus perempuan selama ini lebih ditujukan untuk kemudahan akses dan kenyamanan pelanggan.

Baca Juga: Update Kecelakaan KA vs KRL di Stasiun Bekasi Timur: 106 Korban dan Rencana Normalisasi Layanan KRL

”Tentang penempatan (gerbong) laki dan perempuan itu hanya untuk kenyamanan atau kemudahan saja. Jadi selama ini kami mengutamakan perempuan untuk tingkat kenyamanan dan kemudahan akses dan tentunya keamanan di dalam kereta juga,” imbuh Arifah Fauzi.

Hal senada disampaikan pakar psikologi forensic Reza Indragiri Amriel. Menurut dia, dalam situasi kecelakaan seberat ini, penanganan tidak sepatutnya didasarkan pada jenis kelamin penumpang.

”Seolah Menteri ingin mengatakan, ketika terjadi tabrakan kereta, jumlah korban perempuan harus dikurangi dan penumpang lelaki juga patut menjadi korban dengan jumlah yang setara,” papar Reza.

”Saya berempati terhadap penumpang perempuan yang berulang menjadi korban pelecehan seksual, walau kita juga harus insafi bahwa penumpang lelaki juga bisa bahkan telah menjadi korban pidana serupa. Karena itulah Commuter Line sudah mengambil ikhtiar menurunkan risiko yang patut didukung, yakni dengan mengadakan kereta khusus perempuan,” imbuh Reza.

Menurut dia, ketika terjadi benturan fatal yang bisa memakan korban jiwa, lelaki dan perempuan sama-sama memiliki cuma satu nyawa. Menjadi penumpang di kereta yang dihantam rangkaian lain, akan menghadap-hadapkan mereka pada risiko maut yang sama.

”Penumpang lelaki yang berada di kereta paling depan dan paling belakang berhadapan dengan kekritisan yang sama dengan penumpang perempuan di posisi kereta yang sama,” terang Reza.

Baca Juga: KAI Daop 8 Surabaya Kembali Batalkan 5 Perjalanan KA Imbas Tabrakan KRL-Argo Bromo

Sehingga menurut dia, jenis kelamin bukan unsur yang relevan. Keamanan sebagai penumpang kereta adalah hak semua orang, apa pun jenis kelaminnya. Baik di kereta depan, tengah, maupun belakang.

”Dan ketika penumpang perempuan maupun penumpang lelaki menjadi korban, kedukaannya sama. Mereka patut mendapat perhatian yang sama, jaminan asuransi yang sama. Jadi mencari solusi harus dimulai dari kejernihan berpikir,” ujar Reza yang sudah menjadi pelanggan commuterline sejak belasan tahun silam.

Kronologi dan Update Korban Kecelakaan

Peristiwa bermula saat sebuah taksi online Green SM mengalami kendala teknis dan berhenti tepat di perlintasan sebidang Jalan Ampera, Bekasi Timur. Kondisi ini secara langsung menghambat laju KRL yang melintas di jalur tersebut.

Baca Juga: Buntut Kecelakaan KRL Stasiun Bekasi, Kemenhub Sidak Pool Taksi Xanh SM Bekasi

Situasi makin mencekam ketika rangkaian KRL yang berhenti mendadak dihantam keras dari arah belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek jurusan Surabaya Pasar Turi. Tabrakan hebat tersebut mengakibatkan kerusakan fatal pada gerbong serta jatuhnya korban jiwa.

Hingga Rabu (29/4) pukul 11.00 WIB, sebanyak 90 orang mengalami luka-luka, dengan 44 orang di antaranya sudah diperbolehkan pulang, sementara 46 orang lainnya masih dalam perawatan intensif.

Jumlah korban meninggal dunia tercatat bertambah menjadi 16 orang setelah terdapat satu penambahan korban dari RSUD Kota Bekasi.

Baca Juga: Jamin Pengobatan Korban Tabrakan KA Argo Bromo-KRL, Jasaraharja Putera Pastikan Proses Klaim Berjalan Cepat dan Mudah

”Korban meninggal dunia bertambah satu orang, sehingga total menjadi 16 orang. Kami berharap tidak ada lagi penambahan korban,” ujar Kabidhumas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, Rabu (29/4).

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah