← Beranda
3 Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian, SBY Desak PBB Hentikan Penugasan UNIFIL di Lebanon
Muhammad RidwanMinggu, 5 April 2026 | 20.16 WIB
SBY Bangga, Ramalan Ekonomi Indonesia 15 Tahun Lalu Jadi Kenyataan: Kita Sekarang Member G20 dan BRICS. (Istimewa)

JawaPos.com - Sebanyak tiga prajurit TNI gugur dalam misi perdamaian di Lebanon. Insiden yang terjadi di wilayah penugasan pasukan penjaga perdamaian itu juga menyebabkan sejumlah prajurit lainnya mengalami luka berat.

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan duka cita mendalam atas kehilangan prajurit terbaik TNI tersebut. Ia mengaku turut memberikan penghormatan terakhir kepada para prajurit yang gugur, saat jenazah mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta, pada Sabtu (4/4).

“Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenasah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon, hati saya ikut tergetar," kata SBY dalam cuitan pada akun media sosial X, Minggu (5/4).

Baca Juga: 4 Perawatan Sederhana Agar Ban Motor Nggak Berdecit Lagi

Menurutnya, meskipun prajurit telah disumpah untuk siap berkorban, duka keluarga tetap menjadi hal yang paling menyayat hati.

“Memang seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil. Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam," ujarnya.

SBY turut menyampaikan ucapan bela sungkawa kepada para keluarga korban. Ia memahami setiap kesedihan tersebut.

“Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka," tuturnya.

Dalam kesempatan ini, SBY mendukung langkah pemerintah Indonesia yang mendesak investigasi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia juga menekankan pentingnya akuntabilitas dari PBB, khususnya UNIFIL, atas insiden yang menimpa pasukan Indonesia.

“Merasakan ini semua, secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil," tegasnya.

SBY memahami bahwa investigasi di wilayah konflik bukan hal mudah. Namun, pertanggungjawaban itu tetap harus dilakukan.

“Saya tahu bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah. Tetapi, bagaimanapun tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative)," cetusnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dirinya memiliki pengalaman langsung dalam misi PBB. SBY bercerita dirinya pernah mengemban tugas PBB di Bosnia (former Yugoslavia) pada 1995-1996.

"Dengan pangkat Brigadir Jenderal, saya menjadi Kepala Pengamat Militer PBB," bebernya.

Lebih lanjut, SBY menjelaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian sejatinya bukan untuk bertempur. Namun, kini situasi di lapangan kini telah berubah drastis dan membahayakan pasukan Indonesia.

“Satuan pemeliharaan perdamaian PBB, contohnya Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Lebanon saat ini, tugasnya adalah untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan ‘peacemaking’," tuturnya.

“Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar ‘Blue Line’ kini sudah berada di ‘war zone’, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah," sambungnya.

Karena itu, SBY mendesak langkah tegas dari PBB. Ia meminta PBB untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran Dewan Keamanan PBB dalam merespons situasi ini. Namun, SBY turut memberikan semangat kepada para prjurit TNI yang sampai saat ini masih bertugas di Lebanon.

"Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Lebanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air," pungkasnya.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah