← Beranda
Kapolda Riau Pastikan Karhutla di Dumai Mulai Terkendali, Total Luas Lahan Terdampak 87,25 Hektare
Muhammad RidwanSabtu, 28 Maret 2026 | 04.28 WIB
Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, turun langsung ke lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Jumat (27/3)

JawaPos.com - Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, turun langsung ke lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Jumat (27/3). Ia memastikan, kondisi di lapangan menunjukkan tren yang mulai terkendali.

Dalam kunjungan tersebut, Kapolda Riau didampingi oleh Rocky Gerung selaku Founder Tumbuh Institute, serta unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, dan relawan yang terlibat dalam upaya pemadaman.

Berdasarkan data terbaru, wilayah Dumai masih memiliki 11 hotspot, terdiri dari 2 titik di Dumai Timur dan 9 titik di Medang Kampai dengan status kategori medium. Sementara itu, total luas lahan terdampak kebakaran mencapai sekitar 87,25 hektare.

“Hari ini saya hadir langsung di lokasi di Kecamatan Dumai Timur. Saya didampingi oleh Pak Rocky dari Tumbuh Institute yang sejak beberapa hari terakhir terus bersama kami, mulai dari Rupat, Pelalawan, hingga hari ini di Dumai,” kata Herry Heryawan, Jumat (27/3).

Ia mengungkapkan, penurunan jumlah titik api merupakan hasil kerja kolaboratif lintas sektor yang terus dijaga.

Baca Juga: Luis Enrique Dikabarkan Tolak Manchester United, Pilih Bertahan di PSG

“Di Dumai Timur ini ada penurunan yang cukup signifikan. Dari sebelumnya puluhan titik api, alhamdulillah saat ini tinggal delapan titik yang terus kita tangani. Ini adalah hasil kerja bersama seluruh unsur, baik TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Damkar, Manggala Agni, MPA, relawan, hingga dukungan pihak swasta,” jelasnya.

Menurutnya, kunci utama dalam penanganan karhutla tidak lain merupakan kerja sama berkelanjutan, serta respons cepat terhadap berbagai kendala di lapangan.

“Kita tidak bisa bekerja parsial. Semua harus gotong royong. Kendala di lapangan harus segera dijembatani, baik dari sisi peralatan, dukungan water bombing, maupun langkah lain seperti modifikasi cuaca yang sudah kita komunikasikan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan, tantangan ke depan masih cukup berat, terutama menjelang puncak musim kemarau pada pertengahan tahun.

“Menghadapi periode Juni sampai Agustus, kerja kolaboratif ini harus terus kita jaga. Ini bukan kerja satu pihak, melainkan kerja bersama,” tuturnya.

Sementara itu, Rocky Gerung menilai langkah cepat aparat menjadi faktor penting dalam memutus pola karhutla yang berulang setiap tahun.

“Seratus hari ke depan ini adalah fase ujung dari El Nino, artinya akan ada panas ekstra. Ini memang masalah berulang, tetapi saya melihat ada inisiatif baik ketika aparat turun lebih awal untuk memulai penanganan,” ujarnya.

Ia menekankan, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknis, tetapi juga memerlukan kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan. Rocky juga menegaskan, karhutla merupakan refleksi dari hubungan manusia dengan lingkungan.

“Alam punya hukumnya sendiri. Kita bisa memadamkan api, tetapi jika relasi kita dengan alam bermasalah, kebakaran akan terus terjadi. Karena itu dibutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari negara, masyarakat, hingga akademisi,” pungkasnya.

EDITOR: Mohamad Nur Asikin