JawaPos.com — Jarak seng dari wajahnya hanya tiga jari. Itulah detik menegangkan yang dirasakan Taufan Saputra Dewa saat terjebak di reruntuhan bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo.
Santri berusia 13 tahun asal Dupak Pasar Baru, Surabaya itu menceritakan bagaimana dirinya berjuang dalam posisi terlentang. Ia tak bisa bergerak, tak mampu berteriak, dan hanya berharap ada pertolongan datang.
Taufan yang baru empat bulan mondok di Ponpes Al Khoziny itu mengisahkan kejadian nahas itu dengan mata berkaca-kaca.
Meski tubuhnya sakit, ia masih bisa mengingat jelas bagaimana detik-detik bangunan runtuh menimpa dirinya dan teman-teman.
Menurut penuturan Taufan, saat kejadian dirinya sedang menunaikan salat Isya berjamaah. Ia terlambat satu rakaat karena baru saja selesai mengambil air wudhu.
Ketika hendak menyusul rakaat kedua, tiba-tiba terdengar suara keras di atas bangunan. Dalam hitungan detik, atap itu runtuh dan menimpa para santri yang sedang khusyuk salat.
“(Posisinya di dalam) terlentang, iya mau gerak ini sempit, kalau atas ini (depan wajah) ada seng, jaraknya tiga jari seperti ini,” tutur Taufan saat ditemui JawaPos.com, Kamis (2/10/2025).
“(Bangunan runtuh) itu pas rakaat kedua, saya habis ambil wudhu, saya ketinggalan 1 rakaat, mau nyusul, sudah takbir, lalu ada yang kejatuhan, saya mau lari tapi sudah tertimpa.”
Posisinya saat itu sangat sempit. Hanya ada ruang beberapa jari antara wajahnya dengan seng yang menindih, membuat napasnya sesak dan geraknya terbatas.
“Enggak bisa gerak, enggak bisa teriak, pas mau keluar itu baru minum ada selang terus disedot ada airnya,” ujarnya menggambarkan perjuangan bertahan.
Di bawah reruntuhan itu, Taufan sempat mendengar suara teman-temannya. Nama-nama seperti Wahyu, Rosi, Agus, Fatih, dan Zaki masih terngiang dalam ingatannya.
“(Saya masih ingat teman di sana) Wahyu, Rosi, Agus, Fatih, Zaki, banyak lainnya, pas saya sudah keluar saya enggak tahu,” jelas Taufan.
Namun setelah dirinya berhasil keluar, ia tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka. Yang jelas, banyak santri juga mengalami luka dan trauma mendalam akibat peristiwa itu.
Hingga Kamis (2/10/2025), tercatat 13 santri masih menjalani perawatan intensif di RSUD RT Notopuro Sidoarjo. Beberapa di antaranya adalah Wahyudi, Al Fatih, Haikal, dan Abdul Rozi.
Mereka dirawat karena mengalami luka serius mulai dari patah tulang hingga cedera kepala. Tim medis terus memberikan pengawasan ketat demi mempercepat pemulihan.
Kaki Taufan pun terasa ngilu karena terjepit batu dalam waktu lama. “Kaki rasanya habis diborgol, kecepit batu,” kenangnya.
Kendati begitu, semangatnya untuk tetap mondok tidak luntur. Baginya, insiden ini adalah ujian yang harus dihadapi dengan sabar.
“Harapannya semoga tidak ada kejadian ini lagi. Saya tetap ingin mondok,” ungkapnya penuh keyakinan.
Cerita Taufan menjadi gambaran nyata bagaimana maut begitu dekat saat bangunan itu ambruk. Hanya jarak tiga jari antara seng dengan kepalanya yang menjadi saksi bisu perjuangan hidupnya.
Pihak keluarga mengaku sangat terpukul mendengar kabar anak mereka menjadi korban reruntuhan. Namun rasa syukur tak henti diucapkan karena nyawa Taufan masih terselamatkan.
Situasi di Ponpes Al Khoziny pun kini masih menyisakan puing-puing bangunan yang porak-poranda. Aparat setempat bersama relawan terus melakukan proses evakuasi dan evaluasi pascakejadian.
Banyak pihak mendesak agar keselamatan bangunan pondok pesantren lebih diperhatikan. Peristiwa ini seakan menjadi alarm agar standar keamanan tidak diabaikan.
Tragedi tersebut sekaligus meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar pesantren. Para santri yang selamat kini menjalani pemulihan fisik maupun mental.
Sementara doa terus dipanjatkan bagi korban yang masih berjuang di rumah sakit. Solidaritas masyarakat pun mengalir untuk memberikan dukungan dan bantuan.
Kesaksian Taufan Saputra Dewa ini menjadi pengingat hidup bisa berubah dalam sekejap. Hanya karena sebuah atap yang runtuh, puluhan santri harus menanggung derita panjang.
Namun dari balik kisah pilu itu, tersimpan keteguhan hati seorang bocah 13 tahun. Dengan tubuh ringkih, ia tetap berpegang pada niat tulus menuntut ilmu di pesantren.
Jarak tiga jari yang nyaris merenggut nyawanya kini menjadi kisah inspiratif. Bahwa di balik runtuhan, ada tekad kuat untuk bangkit dan melanjutkan perjuangan.