JawaPos.com - Peristiwa tewasnya seorang driver ojek online (ojol) usai diduga dilindas mobil taktis Brimob Polri di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (28/8) malam, memicu sorotan publik. Banyak yang bertanya-tanya: siapa sebenarnya Brimob dan apa bedanya dengan polisi biasa?
Korps Brigade Mobil (Brimob) merupakan satuan elite Polri yang dikenal sebagai pasukan pamungkas, khusus menangani kejahatan berintensitas tinggi, termasuk kerusuhan massa. Berikut sejumlah fakta mengenai sejarah, peran, hingga struktur Brimob, dikutip dari website resmi Korps Brimob, Kamis (28/8).
1. Cikal Bakal dari Masa Pendudukan Jepang
Brimob lahir pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1943–1944 dengan nama Tokubetsu Keisatsu Tai. Satuan ini dibentuk sebagai pasukan polisi cadangan yang terlatih secara militer, memiliki mobilitas tinggi, dan persenjataan lebih lengkap dibanding polisi biasa.
Anggotanya sebagian besar adalah polisi muda yang diasramakan dan mendapat pendidikan tempur langsung dari Jepang.
2. Dari Polisi Istimewa hingga Brimob
Setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka, satuan ini berubah menjadi Polisi Istimewa. Pada 21 Agustus 1945, Mohammad Jasin membacakan proklamasi yang menyatakan Polisi Istimewa sebagai polisi Republik Indonesia.
Selanjutnya, pada 14 November 1946, seluruh kesatuan Polisi Istimewa dilebur menjadi Mobile Brigade (Mobrig). Nama itu kemudian berubah menjadi Brigade Mobil (Brimob) pada 14 November 1961 lewat keputusan Presiden Soekarno. Tanggal tersebut hingga kini diperingati sebagai Hari Brimob.
3. Tugas Utama: Hadapi Ancaman Berkadar Tinggi
Berbeda dengan polisi biasa yang bertugas melayani masyarakat sehari-hari, Brimob diposisikan sebagai satuan pamungkas (striking force) Polri. Tugasnya antara lain:
- Menghadapi kerusuhan massa.
- Menanggulangi kejahatan bersenjata, terorganisasi, hingga terorisme.
- Menghadapi ancaman bahan peledak, kimia, biologi, dan radioaktif.
- Melakukan operasi penyelamatan (SAR) dalam situasi bencana.
4. Bedanya Brimob dengan Polisi Biasa
Polisi reguler yang kita temui sehari-hari (seperti di Polsek atau Polres) berfokus pada pelayanan masyarakat, pengaturan lalu lintas, hingga penegakan hukum umum.
Sedangkan Brimob memiliki kemampuan militeristik, terlatih menggunakan senjata berat, dilatih khusus menghadapi situasi ekstrem, dan sering diterjunkan pada kondisi darurat nasional.
Dengan kata lain, bila polisi biasa menjaga situasi harian, Brimob diturunkan ketika situasi dianggap sudah berada di luar kendali.
5. Peran Brimob di Era Reformasi
Setelah Polri resmi dipisahkan dari TNI pada 1999, Brimob menjadi bagian integral Polri yang tetap memegang peran strategis. Mereka dilibatkan dalam operasi kontra-terorisme, termasuk Operasi Tinombala di Poso, serta mengamankan berbagai konflik sosial.
Selain itu, Brimob juga dikerahkan untuk penanganan bencana dan tugas kemanusiaan. Meski begitu, perannya yang kerap bersentuhan langsung dengan masyarakat sipil membuat satuan ini juga tidak lepas dari kontroversi, terutama saat menghadapi demonstrasi besar.
6. Struktur Organisasi Brimob
Brimob berada langsung di bawah Kapolri dan dipimpin oleh seorang Komandan Korps Brimob (Dankorbrimob). Struktur Brimob terdiri atas dua pasukan utama:
Pasukan Pelopor, dengan kemampuan menghadapi kerusuhan, operasi lapangan, hingga tempur jarak dekat.
Pasukan Gegana, spesialis menangani bom, senjata kimia-biologi, serta operasi penyelamatan sandera.
7. Visi dan Misi Brimob
Brimob memiliki visi menjadi pasukan Profesional, Modern, dan Terpercaya (Promoter). Misinya menekankan disiplin, loyalitas, profesionalisme, serta penggunaan peralatan modern untuk menjaga keamanan dalam negeri dari ancaman berintensitas tinggi.
8. Publik Menyoroti Peran Brimob dalam Demo
Insiden tewasnya driver ojol dalam unjuk rasa buruh di depan DPR membuat sorotan kembali tertuju pada Brimob. Publik mempertanyakan prosedur pengamanan, khususnya penggunaan kendaraan taktis yang justru menimbulkan korban.
Kejadian ini semakin mempertegas jarak antara Brimob dan polisi reguler di mata masyarakat. Bila polisi biasa diharapkan melindungi warga, Brimob kini dituntut membuktikan bahwa perannya sebagai pasukan elite tidak justru mencederai kepercayaan publik.