JawaPos.com - Bea Cukai kembali jadi bulan-bulanan warganet setelah unggahan seorang pengguna X bernama @renzum1 viral.
Ia menampilkan video seorang gamers yang mengaku diminta membayar Rp 8,9 juta untuk sebuah mouse gaming, yang sebenarnya masih berupa sampel produk untuk dites. Belum dijual secara komersial.
Dalam cuitannya, akun @renzum1 bercerita bahwa mouse tersebut dikirim dari luar negeri sebagai bentuk kolaborasi seorang streamer e-sport dengan sebuah brand perangkat gaming.
Barang yang seharusnya hanya digunakan untuk uji coba itu justru ditaksir nilainya oleh Bea Cukai tanpa dasar harga resmi.
“Mousenya dikirim buat test sample, eh dipalak Bea Cukai 8,9 juta buat produk yang bahkan belum ada harganya. Katanya Becuk yang taksir-taksir sendiri harganya,” tulis @renzum1 pada Rabu (27/8).
Kasus ini langsung memicu reaksi keras dari warganet. Banyak yang mengaku jengkel karena kasus serupa berulang kali terjadi.
Mereka menilai Bea Cukai justru mempersulit warga yang mencoba mengembangkan usaha atau menjalin kerja sama internasional. Eh, malah kena palak.
Rasa kesal makin besar karena pungutan dianggap tak transparan, seakan nilai barang hanya 'ditaksir seenaknya'.
Ada pula yang menyinggung soal sistem insentif di lembaga pemerintah, termasuk Bea Cukai, yang membuat petugas seolah berlomba-lomba mengejar angka pungutan demi mendapat bonus.
Di sisi lain, sebagian warganet mencoba memberi pembelaan dengan mengingatkan bahwa aturan memang mewajibkan barang impor dengan nilai di atas USD 3 untuk dikenakan bea masuk dan pajak.
Namun suara itu tenggelam di tengah gelombang komentar sinis yang menilai Bea Cukai selama ini lebih sering menjadi 'penghalang' dari pada pelindung.
Klarifikasi Bea Cukai
Menyadari ramainya perbincangan, akun resmi Bea Cukai pun turun tangan memberikan penjelasan.
“Halo, setiap barang kiriman impor dengan nilai di atas USD 3 dikenakan Bea Masuk dan Pajak. Untuk barang yang bukan hasil transaksi, penetapan nilai barang berdasarkan nilai transaksi barang identik atau serupa,” tulis akun @bravobeacukai.
Sayangnya, klarifikasi tersebut tidak meredam kemarahan publik. Warganet menilai penjelasan itu hanya normatif dan tidak menyentuh persoalan utama: transparansi serta akurasi penentuan nilai barang.
Kasus mouse gaming ini menambah panjang deretan kontroversi Bea Cukai yang kerap viral di media sosial.
Dari barang titipan pribadi, hobi koleksi, hingga donasi, publik merasa proses yang berbelit dan pungutan yang tinggi justru membuat masyarakat kesulitan.
Alih-alih melindungi industri lokal, Bea Cukai kini dipersepsikan sebagian besar warganet sebagai lembaga yang 'memalak' dan menghambat kreativitas warga untuk berkembang.
"Selalu ada drama tiap kali barang impor nyangkut di Bea Cukai. Rasanya lembaga ini bukan mempermudah, malah menghalangi orang berkembang," tulis seorang pengguna X.
Tak sedikit pula netizen yang mempertanyakan transparansi Bea Cukai. Lembaga tersebut memang kerap mendapat sorotan, apalagi memperlakukan beda antara warga biasa dengan pejabat yang justru sering meminta akses barang masuk tanpa kena pajak.
"Transparansi itu kunci. Kalau nilainya jelas dan ada dasar hukum, mungkin orang masih bisa terima. Tapi kalau main taksir, ya wajar orang kesal," tambah akun lainnya.