JawaPos.com - Film Last Witness yang diproduksi CAS Production tidak hanya dipersiapkan sebagai tontonan di YouTube. Proyek ini menjadi bagian dari proses pematangan rumah produksi sekaligus para pemain sebelum nantinya membawa karyanya ke level yang lebih besar, yakni film layar lebar.
Hal tersebut disampaikan tim produksi dalam gelaran konferensi pers yang digelar di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan,Sabtu (5/9). Berbeda dari produksi sebelumnya yang mengusung genre horor, Last Witness menawarkan cerita yang lebih dekat dengan konflik keluarga, luka masa lalu, hingga dendam yang menjadi salah satu penggerak utama alur cerita.
Meski masih memilih YouTube sebagai medium penayangan, tim produksi melihat platform digital sebagai ruang penting untuk menguji kemampuan. Respons penonton sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap kualitas cerita, akting, hingga proses produksi secara keseluruhan.
"Ini masih tahap pembelajaran. Kita ingin mereka mengevaluasi apa yang sudah mereka lakukan, mengoreksi kekurangan masing-masing, supaya ketika nanti disiapkan untuk yang lebih besar lagi, mereka bisa memberikan yang terbaik," ujar perwakilan tim produksi.
Baca Juga: Denny Sumargo Tertahan di Surabaya Akibat Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Kehadiran Yama Carlos dan Catherine Wilson menjadi salah satu bagian penting dalam film Last Witness. Yama memerankan karakter Pak Dharmo, sementara Catherine Wilson dipercaya sebagai Bu Rini. Keduanya menjadi bagian dari jajaran pemain yang turut memperkuat cerita Last Witness.
Selain mereka, film ini turut dibintangi Tsani Prillia sebagai Naya/Nara, Kefan Sj sebagai Raka, Musa Zulfikar sebagai Adit, Dewanti sebagai Tari, Taufik Hidayat sebagai Dion, Fadli sebagai Faris, hingga cucu Elvy Sukaesih, Rumyrach, berperan sebagai Kirana.
Salah satu pendekatan yang diterapkan tim produksi adalah menjaga karakter para pemain agar tetap memiliki kedekatan dengan kepribadian mereka sehari-hari. Cara tersebut diharapkan membuat para pemain, khususnya para pemain muda, lebih mudah beradaptasi dengan karakter yang dimainkan.
"Kita memang ingin mereka lebih siap. Jadi ketika waktunya sudah tepat dan masuk ke layar lebar, mereka sudah mempunyai pengalaman dan lebih matang," lanjut perwakilan tim produksi.
Yama Carlos mengatakan, dirinya senang terlibat dalam film garapan rumah produksi ini karena bukan hanya diberi sebagai aktor, tapi juga diberi kepercayaan mendidik aktor-aktor muda sebagai agar bisa berakting dengan baik di depan layar.
"Dengan latar belakang saya dari teater, saya tertantang memberikan ilmu saya kepada aktor-aktor muda. Saya senang diberikan kepercayaan. Menjadi aktor itu ada ilmunya, tidak bisa asal-asalan," ungkapnya.
Rencana memperluas skala produksi tersebut menunjukkan bahwa YouTube diposisikan bukan sebagai tujuan akhir. Kanal digital justru menjadi ruang untuk membangun portofolio, menguji respons penonton, sekaligus memberikan jam terbang kepada para pemain dan kru.
Ke depan, CAS Production juga membuka peluang untuk mengeksplorasi genre lain, termasuk drama. Eksplorasi tersebut diharapkan dapat memperkaya pengalaman tim sekaligus memperluas kemampuan para pemain dalam menghadapi karakter dan cerita dengan pendekatan yang berbeda.
Baca Juga: Waspada Abu Vulkanik! Badan Geologi Ungkap Bahayanya bagi Paru-paru, Mata, Kulit dan Air
Dengan demikian, Last Witness tidak hanya menjadi film produksi kedua bagi CAS Production. Proyek ini sekaligus menjadi bagian awal dari perjalanan panjang untuk membangun kesiapan sebelum membawa karya ke panggung yang lebih besar.