JawaPos.com - Konser Berani Kita Beda Tour HS Hey Slank memasuki titik ke-9 di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (30/8). Bos HS Muhammad Suryo mengaku sempat putus asa sebelum sampai di titik ini.
Suryo mengatakan, memulai bisnis sejak 2024 dengan karyawan 30 orang. Setahun berjalan bisnisnya masih mentok, tidak membuahkan hasil memuaskan.
“Saya dengan Pak Ipin (salah satu pimpinan di pabrik HS) kemudian umrah ke Tanah Suci, berdoa. Tuhan kalau ini bukan rezekiku saya ikhlas, tapi kalau rezekiku saya mohon dipermudah,” kata Suryo saat sesi jumpa pers.
Usahanya pun mulai menunjukan hasil positif pada 2025. Daya serap terhadap tenaga kerja juga semakin besar.
Baca Juga: AS Batasi Akses TOEFL hingga Duolingo, Mahasiswa Iran Sulit Kuliah ke Luar Negeri
Namun, kebahagiaan itu tak berjalan mulus, Suryo dilanda kecelakaan maut tang menewaskan istrinya, Anis Syarifah pada Ramadhan 2026. Kepergian istrinya menjadi pukulan telak.
Dirinya pun mengalami luka berat sebab mengalami patah tulang di 6 area tubuh. Kondisi ini membuatnya begitu putus asa.
“Sempat putus asa, tapi di pundak saya ada ribuan orang yang harus saya tanggung. Itulah semangat saya, saya harus berbuat baik, berkarya lebih banyak untuk mereka-mereka yang hidupnya bergantung kepada saya,” lanjutnya.
Namun, perlahan dia bangkit. Hingga saat ini HS berhasil mempekerjakan 8.000 orang. 200 penyandang disabilitas juga diberi tempat bekerja.
Bagi Suryo, siapapun berhak mendapat pekerjaan. Bahkan orang tanpa pengalaman kerja pun diterima di bisnisnya.
“Bahkan, istilahnya, bawa KTP sobek pun asalkan masih bisa dibaca, saya terima jadi karyawan,” ungkap pria kelahiran Lampung 27 Maret 1984 itu.
Sementara, pada konser menggandeng Slank dan band lokal Purwokerto hingga Yogyakarta di Purwokerto itu, Suryo menyebut itu jadi salah satu cara bermanfaat bagi sesama menggunakan cara kreatif.
Baca Juga: Safrizal ZA Sebut Aceh Dibangun dari Ketabahan yang Mengakar
Ketika konser digelar, wilayah sekitar terutama masyarakatnya akan merasakan manfaatnya. Salah satunya UMKM. Lokasi pentas menyediakan tenda-tenda UMKM untuk berjualan, termasuk secara khusus para Slankers melalui program Slankerspreneur.
Basis Slank Ivan Kurniawan (Ivanka) menambahkan, Slankerspreneur jadi salah satu wadah Slankers yang tertarik wirausaha. Itu disebutnya sebagai gerakan tidak terstruktur.
“Slankers ini sudah membersamai lebih dari 30 tahun, saat ini usianya sudah dewasa, sudah punya anak, punya tanggung jawab. Tercetuslah ide ini, mereka berkreasi sesuai bakatnya masing-masing,” kata Ivanka.