JawaPos.com - Stigma negatif sering kali melekat pada kehidupan di balik jeruji besi. Melalui film pendek berjudul "SINTAS", rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Salemba Jakarta Pusat mencoba membantah pandangan tersebut dengan menunjukkan bahwa harapan dan kesempatan kedua itu nyata adanya.
Menariknya, film yang diangkat dari kisah nyata ini diperankan langsung oleh Reza Bukan, yang juga merupakan mantan warga binaan. Tak hanya itu, aktor-aktor lainnya yang terlibat juga berasal dari lingkungan lapas. Mulai dari sipir hingga tokoh agama yang berkhutbah di dalam lapas.
Film itu sendiri disutradari oleh Irfan Verdia Kasran dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Kolaborasi antara Rutan Jakarta Pusat dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan ini menjadi bukti bahwa sistem pidana kini fokus pada pembinaan, bukan sekadar kurungan fisik.
Di balik sistem pengamanan, terdapat berbagai program pembinaan yang memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan keterampilan, menjaga kesehatan fisik dan mental, membangun karakter, serta mempersiapkan diri untuk kembali menjalankan fungsi sosial di tengah masyarakat.
Nilai kekeluargaan, kepedulian, dan kesempatan kedua menjadi pesan utama yang ingin disampaikan kepada publik melalui film ini.
Dari Pengalaman Pribadi Menjadi Film Pendek
Reza Bukan mengungkapkan bahwa seluruh alur cerita dalam film tersebut berakar dari pengalaman pribadinya saat menjalani masa pembinaan. Bagi Reza, karya ini adalah refleksi jujur mengenai sebuah proses perubahan.
"Film ini bukan soal manusia yang sempurna, tapi bagaimana saya yang pernah salah, pernah menjalani, dan pernah masuk dalam sebuah sistem pemasyarakatan," ujar Reza.
Ia juga menegaskan, proses kembali ke masyarakat bukanlah sesuatu yang instan. Perlu ada kesadaran atas konsekuensi dari kesalahan masa lalu, serta keberanian untuk mengambil kesempatan baru.
"Pesan utamanya adalah harapan selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin memperbaiki diri. Segelap-gelap apa pun, tetap masih ada harapan selama mereka masih hidup," tambah Reza.
Sinergi di Balik Tembok Rutan
Direktur Teknologi Informasi dan Kerja Sama Pemasyarakatan Kadiyono menilai, film ini berhasil memotret kondisi riil program pembinaan kemandirian dan kepribadian di dalam rutan.
Kadiyono memuji bagaimana para warga binaan dan petugas rutan berkolaborasi mengasah bakat terpendam mereka di bawah arahan sutradara profesional.
"Film ini mampu menggambarkan proses pemasyarakatan dengan baik sehingga bisa membangun perspektif yang positif di tengah masyarakat," kata Kadiyono.
Namun, ia mengingatkan bahwa suksesnya reintegrasi sosial mantan narapidana tidak bisa bertumpu pada petugas semata. Dibutuhkan dukungan penuh dari keluarga, masyarakat, hingga pemerintah daerah agar mereka diterima kembali dengan baik.
Investasi Kemanusiaan dan Kesempatan Kedua
Kepala Rutan Kelas I Jakarta Pusat Wahyu Trah Utomo, menegaskan bahwa film pendek ini merupakan dokumen hidup dari proses transformasi para warga binaan.
Pihak rutan ingin publik melihat secara objektif bahwa di dalam rutan, terdapat aktivitas positif mulai dari pendidikan, pelatihan keterampilan, hingga manajemen kesehatan mental.
"Kami ingin masyarakat melihat bahwa di balik tembok rumah tahanan terdapat proses belajar, perubahan, dan harapan yang terus dibangun," kata Wahyu.
Baca Juga: Wanita Selundupkan 15 Gram Sabu di Rutan Salemba, Berhasil Digagalkan
Melalui film "SINTAS", Rutan Jakarta Pusat berharap dapat menghapus dinding pembatas psikologis antara mantan warga binaan dan masyarakat luas demi masa depan yang lebih inklusif. (*)