JawaPos.com - Para prajurit KRI Karel Satsuitubun-356 pernah melaksanakan operasi pembebasan sandera di Selat Malaka pada 2004 silam. Sebanyak 36 awak kapal MT Pematang berhasil diselamatkan tanpa satu pun korban. Kisah heroik tersebut diangkat menjadi film berjudul The Hostage’s Hero. Mulai 2 April mendatang, masyarakat bisa menyaksikan langsung film di bioskop.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali dan jajaran menyaksikan langsung film tersebut di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan (Jaksel), pada Senin malam (30/3). Turut hadir pula sejumlah aktor dalam film tersebut. Yakni Donny Alamsyah, Rifky Balweel, Aditya Herpavi, hingga Choky Sitohang.
”Kejadian (dalam film) ini terjadi 22 tahun yang lalu, saat saya masih berpangkat sebagai letnan kolonel dan dihadapkan pada suatu situasi pilihan untuk maju dengan segala risiko,” kata Laksamana TNI (Purn) Achmad Taufiqoerrochman dalam keterangan resmi pada Selasa (31/3).
Taufiq merupakan purnawirawan perwira tinggi (pati) TNI AL yang menjadi komandan KRI Karel Satsuitubun-356 saat operasi pembebasan sandera tersebut berlangsung. Dalam film The Hostage’s Hero, Taufiq diperankan oleh Donny Alamsyah.
Baca Juga: Bukan Cedera, Ini Alasan Rafinha Tak Dimainkan di Laga PSIS vs Persipal
”Pada saat itu, apabila kami tidak bertindak, maka hal tersebut dapat menjadi justifikasi bahwa Indonesia tidak mampu mengamankan wilayahnya. Dari pengalaman tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa yang terpenting adalah meluruskan niat. InsyaAllah, hasil akan mengikuti. Jadi, bukan semata-mata karena kita hebat,” ucap dia.
Pembebasan sandera MT Pematang di Selat Malaka memang fenomenal. Operasi itu dilakukan oleh awak KRI Karel Satsuitubun-356 tanpa bantuan pasukan khusus. Selain itu, seluruh sandera berhasil diselamatkan. Sementara para perompak dilumpuhkan. Karena itu, TNI AL mengangkat kisah tersebut dalam film layar lebar.
”TNI Angkatan Laut bekerja sama dengan rumah produksi Iswara Films menggelar Gala Premiere film aksi-patriotik The Hostage’s Hero sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat juang prajurit TNI AL sekaligus sarana edukasi kepada masyarakat melalui media perfilman,” kata Kadispenal Laksamana Pertama TNI Tunggul dalam keterangannya.
Tunggul pun menekankan kembali, film tersebut berdasar pada kisah nyata operasi pembebasan sandera MT Pematang di Selat Malaka. Operasi berisiko tinggi dilaksanakan demi menyelamatkan para korban. Untuk mendukung produksi film tersebut, TNI AL mengerahkan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista).
”TNI AL memberikan dukungan penuh berupa penggunaan alutsista seperti KRI, Helikopter Bell, serta perahu karet taktis (RHIB), dan melibatkan personel aktif sejumlah 73 prajurit TNI AL dalam proses produksi, mulai dari prajurit, Marinir hingga Kopaska,” jelasnya.
Beberapa prajurit memerankan karakter antagonis yang bertolak belakang dengan peran mereka sebagai penjaga kedaulatan negara. Mereka terdiri atas Kolonel Juang Pawana, Kolonel Anugerah Auliadi, Letkol Yudo Ponco, Kapten Wahyu Prasetyo, Serda Aris Dewanto, Serda Hoksian Mien, Kopka Aris Wanhuri, Kls Fajar, hingga Kls Ahmad Reksa.