← Beranda
Sinopsis Film Horor Tarot: Kutukan Kartu Mistis yang Menjerat Mahasiswa dalam Ramalan Kematian
Arif SaputroSelasa, 16 September 2025 | 21.23 WIB
Cuplikan dalam film horor Tarot (IMDb)

JawaPos.com - Film Tarot merupakan sajian horor Amerika yang menggabungkan elemen supranatural dan kutukan kartu tarot dalam kisah menegangkan tentang takdir dan pilihan.

Dilansir dari variety.com, film ini disutradarai secara kolaboratif oleh Spenser Cohen dan Anna Halberg, yang sebelumnya dikenal lewat proyek-proyek berani genre fiksi ilmiah dan horor ringan.

Premisnya sederhana namun efektif, yakni sekelompok mahasiswa menemukan dek tarot terkutuk, lalu melepas dosa masa lalu dalam pertarungan melawan kematian yang diramalkan kartu-kartu itu.

Film ini diadaptasi dari novel Horrorscope karya Nicholas Adams yang terbit pada tahun 1992. Novel tersebut memadukan kisah kutukan dan okultisme dengan gaya bertutur yang menekankan ketegangan psikologis, kemudian dirombak menjadi naskah film berdurasi di bawah dua jam oleh Cohen dan Halberg.

Adaptasi ini mempertahankan rasa ngeri versi cetaknya, sembari menambahkan visual kartu hidup yang memukau layar lebar.

Kisah dibuka ketika sekelompok mahasiswa menyewa sebuah rumah tua di Catskills untuk merayakan ulang tahun Elise.

Saat bersantai, mereka menemukan dek tarot berdebu di loteng dan memutuskan untuk memainkan permainan pembacaan yang mereka kira hanya lelucon malam mingguan biasa.

Tanpa menyadari peringatan tersembunyi, dek itu membawa mereka pada kutukan yang tak terhindarkan.

Di balik kemewahan gambar-gambar kartu, terdapat peraturan tertulis yang melarang siapa pun menggunakan dek milik orang lain.

Larangan ini diabaikan olehlah Haley dan teman-temannya, sehingga mereka memicu kekuatan gelap yang terperangkap dalam setiap Arcana.

Kesalahan pertama ini membuka gerbang kutukan yang menjebak mereka dalam ramalan kematian setiap karakter dalam kelompok mereka.

Pusat kutukan Tarot adalah sosok The Astrologer, seorang petani wanita yang mengikat jiwanya ke dek pada akhir abad ke-18 sebagai balas dendam atas kematian putrinya.

Baca Juga: Tayang Oktober 2025, Film Religi 'Jangan Panggil Mama Kafir' Angkat Kisah Tentang Cinta, Perbedaan, dan Keteguhan Hati Seorang Ibu

Ritual gelap dan darah menjadikan tarot ini tak dapat dihancurkan siapa pun yang berani mengacaukan dek, tak akan mampu melarikan diri dari takdir yang digariskan olehnya.

Keesokan harinya, Elise menjadi korban pertama ketika ia dijepit di tangga sesuai petunjuk kartu The Hierophant.

Detik-detik kematiannya terekam layaknya adegan mimpi buruk yang lepas kendali, menandai babak horor sejati bagi siapa saja yang waspada terhadap ramalan tarot ini.

Tidak lama setelah itu, Lucas menemukan nasib serupa. Ia membaca kartu The Hermit dan meninggal dunia di stasiun kereta bawah tanah, tubuhnya tersangka di antara rel dengan ekspresi penuh kebingungan, sebuah kematian yang persis dengan ilustrasi isolasi dan keheningan pada kartu corak Hermit itu sendiri.

Haley, yang awalnya hanya berniat bersenang-senang, terpaksa berjuang menerjemahkan setiap petunjuk kartu untuk menyelamatkan nyawanya dan teman-temannya.

Bersama beberapa yang masih hidup, ia mencoba menghentikan rantai kutukan dengan mematuhi ritual yang benar dan menebus kesalahan menggunakan empati sebagai kunci pembebasan roh The Astrologer.

Tarot pertama kali tayang di Amerika Serikat pada 3 Mei 2024 dan mendapat respons beragam dari kritikus. Selanjutnya, film ini didistribusikan secara global melalui Netflix sejak 1 Agustus 2024, menambah aksesibilitas bagi penonton genre horor di berbagai belahan dunia.

Durasi film sekitar 92 menit dengan rating PG-13, memberikan keseimbangan antara ketegangan intens dan batas konten yang masih bisa dinikmati oleh penonton dewasa muda. Setiap adegan dipenuhi dengan nuansa gelap dan atmosfer menyesakkan, cocok bagi penikmat sensasi horor klasik dan modern sekaligus.

Pemeran film ini terdiri dari Harriet Slater sebagai Haley, Adain Bradley sebagai Lucas, Avantika Vandanapu, Wolfgang Novogratz, Humberly González, Larsen Thompson, dan Jacob Batalon.

Perpaduan talenta muda Hollywood ini membawa dinamika emosional yang kuat, dari ketakutan murni hingga keputusasaan menghadapi takdir yang tak bisa diprediksi.

Sinematografi ditangani oleh Elie Smolkin, berhasil menciptakan estetika gelap dengan pencahayaan remang-remang dan komposisi simetris yang menonjolkan ilustrasi kartu tarot.

Meskipun mendapat rating rendah di berbagai situs, IMDb 4.8/10, Rotten Tomatoes 17%, dan Metacritic 36. Visual kartu hidup dan konsep kutukan tetap menjadi daya tarik utama bagi penonton setia horor.

Secara finansial, Tarot mencatat pendapatan 11 juta dolar AS pada pekan pertama penayangan globalnya.

Angka ini menunjukkan bahwa meski kritik membandingkannya dengan film horor bertema serupa, antusiasme penonton terhadap kisah okultisme dan takdir masih sangat tinggi di pasaran internasional. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah