← Beranda
Oppenheimer: Karya Agung Christopher Nolan yang Menakjubkan Sekaligus Melelahkan
Banu AdikaraKamis, 20 Juli 2023 | 22.00 WIB
Adegan dalam film Oppenheimer. (Universal Pictures)

Review film oleh Banu Adikara

 

JawaPos.com - Christopher Nolan selama ini dikenal sebagai seorang sineas brilian yang kerap melahirkan film-film ciamik. Sebut saja Memento (2000), trilogi The Dark Knight (2005, 2008 dan 2012), Inception (2010), Interstellar (2014), Dunkirk (2017) dan Tenet (2020).

Dari yang bergenre science fiction hingga drama perang yang diadaptasi dari peristiwa nyata, ada benang merah yang selalu hadir di film-film karya Nolan: Dialog yang sangat detail nan berbobot, serta visual yang luar biasa.

Hal ini dihadirkan dalam karya terbarunya, Oppenheimer yang sudah tayang di bioskop pada 19 Juli 2023.

Sesuai judulnya, Oppenheimer merupakan sebuah film biopik tentang Julius Robert Oppenheimer, seorang fisikawan Amerika Serikat yang kelak dikenal sebagai Bapak Bom Atom.

Dalam Oppenheimer, Nolan kembali menggaet aktor Cillian Murphy, yang sudah beberapa kali ia libatkan di film-film terdahulunya, untuk memerankan sosok bersejarah yang paling bertanggungjawab atas luluh lantaknya kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada 1945 silam.

Beberapa nama tenar lain seperti Robert Downey Jr, Florence Pugh, Emily Blunt, Matt Damon, Rami Malek, Gary Oldman, dan Dane DeHaan juga ikut dilibatkan dalam film berdurasi 3 jam ini.

Oppenheimer mengajak penonton untuk menyelami pergulatan batin Oppenheimer dalam menciptakan sebuah senjata nuklir maha dahsyat di masa Perang Dunia II.

Bersama timnya yang tergabung dalam Manhattan Project, Oppenheimer juga harus berkutat dengan kehidupan pribadinya sebagai seorang womanizer serta menghadapi intrik spionase yang dilancarkan oleh Uni Soviet untuk menjatuhkan dirinya.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa Oppenheimer adalah film berdurasi 3 jam dengan dialog yang begitu padat dan intens. Banyaknya penggunaan istilah fisika dan banyaknya karakter yang berkecimpung di dalamnya membuat rangkaian dialog antar karakter dalam Oppenheimer menjadi betul-betul padat dan nyaris tanpa jeda.

Proses dialog pun tidak berjalan secara linear atau dalam satu timeline. Di sini, Nolan beberapa kali melakukan adegan flashback dan fast forward yang cukup unik. Jika di film-film lain adegan masa lampau digambarkan dalam suasana hitam-putih, Nolan melakukan hal sebaliknya di Oppenheimer. Ia justru membuat adegan-adegan masa lampau dengan gambar berwarna, sementara adegan pasca Perang Dunia II digambarkan dalam hitam-putih.

Adanya sequence pre dan post Perang Dunia II ini membuat penonton harus betul-betul fokus menyimak setiap kalimat yang ada untuk memahami apa yang terjadi. Bengong sedikit saja, maka dipastikan kita akan lost track dan tenggelam dalam kebingungan, baik secara alur cerita maupun nama-nama karakter dan perannya di sana.

Dari penjelasan di atas, sudah bisa disimpulkan bahwa Oppenheimer adalah film yang sangat serius dan sangat berbobot. Adalah hal yang jujur untuk mengatakan bahwa film ini tidak akan bisa dinikmati oleh Anda yang menggemari film ringan dengan plot sederhana.

Oppenheimer juga bukan film penuh aksi layaknya film-film Nolan yang lain. Jika Anda berharap bakal ada adegan-adegan baku hantam, sudah pasti Oppenheimer akan jadi film yang mengecewakan.

Namun, terlepas dari film ini merupakan hasil buah pikir dan tangan dingin Nolan, jelas tidak fair jika langsung menilai bahwa Oppenheimer adalah sebuah film yang flop. Film ini punya banyak sekali nilai plus, meskipun cara menikmatinya memang tergantung sudut pandang yang sangat subjektif.

Kualitas akting para lakon di dalamnya jelas harus diacungkan dua jempol. Cillian Murphy yang didapuk menjadi sosok utama dalam film ini boleh dibilang sangat berhasil menggambarkan sosok Oppenheimer yang begitu cerdas namun juga problematik.

Robert Downey Jr yang didaulat memerankan Lewis Strauss, seorang pebisnis dan pemimpin proyek Atomic Energy Commission yang mengundang Oppenheimer untuk terlibat dalam Manhattan Project juga layak dipuji. Persona Downey Jr. yang selama ini kadung lekat dengan image Tony Stark/Iron Man betul-betul hilang lewat kemampuan aktingnya yang apik.

Dalam durasi film yang lama, Nolan juga membuat para karakter lain mendapatkan spotlight meski dalam tempo yang singkat. Hal ini lah yang membuat Oppenheimer menjadi sebuah karya yang 'berdaging'. Gubahan musik dari Ludwig Goransson juga sukses membuat setiap adegan dalam Oppenheimer begitu bernyawa.

Gong utama Oppenheimer tentu saja terletak pada adegan uji coba bom yang dilakukan secara real dan tanpa efek CGI sama sekali. Walau cuma beberapa menit, adegan yang menjadi inti dari Oppenheimer tersebut harus diakui berhasil membuat penonton terpukau.

Adegan itu juga sekaligus membayar lunas segala kefrustrasian dan kejenuhan penonton setelah diberondong adegan dialog yang begitu berat dicerna. Sama seperti Oppenheimer dan timnya yang begitu mengharu biru, penonton pun juga merasakan hal serupa ketika bom tersebut akhirnya meledak.

Adegan itu juga menunjukkan betapa seriusnya Nolan dalam menggarap Oppenheimer. Ia tidak mau film ini cuma sekadar menjadi film Hollywood biasa yang terus bergantung pada green screen. Sebuah pola pikir dari seorang sineas sejati di era modern.

Secara keseluruhan, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Oppenheimer adalah sebuah film yang menakjubkan dari sisi teknis dan proses penggarapan. Bagi Anda yang menyukai film-film serius dan terbiasa digempur oleh rentetan dialog yang berbobot, Oppenheimer akan jadi film yang cocok untuk Anda.

Namun, jika Anda lebih memilih untuk menyaksikan film-film yang ringan dan tidak menuntut otak untuk bekerja keras, ada baiknya menghindari film ini jika tidak ingin rugi uang dan waktu, karena Oppenheimer hanya akan menjadi film yang melelahkan.

EDITOR: Banu Adikara