JawaPos.com-In This Economy, apakah anda menjalani sehari-hari dalam kondisi survival mode?.
Survival mode dapat mengubah cara seseorang dalam menjalani kehidupan, meskipun jarang disadari.
Pada awalnya, mungkin anda hanya merasa stres dan kelelahan. Namun, lama kelamaan tubuh dan pikiran terus berada dalam kondisi terancam.
Kondisi ini berkaitan dengan sistem syaraf untuk memproses situasi perlindungan diri. Meskipun kehidupan terasa aman, mekanisme perlindungan diri tersebut tidak mampu berhenti untuk bekerja.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari laman aconsciousrethink pada (17/10) berikut tanda-tanda psikologis yang menunjukkan bahwa seseorang sedang berada dalam survival mode.
-
Selalu waspada
Seseorang yang berada di mode survival untuk bertahan hidup kerap mengalami hypervigilance. Kondisi tersebut berarti anda berada di mode waspada secara berlebihan terhadap berbagai kemungkinan ancaman.
-
Sulit rileks
Bagi seseorang yang terjebak di dalam survival mode, bersantai justru membuat mereka gelisah. Mereka terus menyibukkan diri dengan pekerjaan, membersihkan rumah, ataupun scrolling HP untuk menghindari perasaan yang tidak nyaman saat sendiri.
-
Mati rasa
Kewaspadaan yang berlangsung secara terus menerus dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosional. Mereka sulit merasakan kebahagiaan,kesedihan, ataupun antusiasme, sehingga merasa terputus dari emosi dan kehidupannya sendiri.
-
Mudah marah
Seseorang yang sedang berada dalam survival mode cenderung beraksi berlebih terhadap masalah sepele. Setelah itu, mereka mungkin akan merasa bersalah atas ledakan emosi yang dialami.
-
Membesarkan masalah kecil
Kesalahan kecil, keterlambatan, ataupun masalah lain dapat terasa seperti bencana. Hal ini terjadi karena otak merasa sulit untuk membedakan ancaman nyata dan ketidaknyamanan yang dirasakan sehari-hari.
-
Sulit mengambil keputusan
Menentukan rencana sederhana bisa terasa membebani bagi seseorang yang berada pada tahap survival mode. Pikiran mereka terus berfokus pada ancaman. Kesulitan ini berdampak pada mereka untuk mempertimbangkan dan menentukan keputusan secara rasional.
-
Tidak memiliki gambaran masa depan yang cerah
Seseorang yang berada dalam survival mode merasa kesulitan menetapkan tujuan jangka panjang. Energi mereka terkuras untuk menghadapi persoalan hidup sehari-hari. Akibatnya, rencana masa depan terasa tidak jelas ataupun sulit dijangkau.
-
Ansos
Mereka mulai membatalkan janji, mengabaikan pesan, dan mengurangi interaksi dengan orang lain. Bahkan disaat berada di tengah-tengah kerumunan, mereka bisa merasa terasing secara emosional.
-
Sulit beristirahat
Menerima bantuan dapat terasa seperti kehilangan kendali. Sementara itu, beristirahat justru memicu kecemasan. Mereka akan merasa harus terus melakukan sesuatu supaya keadaan berjalan sesuai dengan kendali.
-
Overwhelmed
Kelelahan pada survival mode bukan sekadar rasa kantuk yang biasa. Seseorang dapat merasa lelah meskipun sudah tidur dan beristirahat. Mereka terus menerus menghadapi tekanan mental dan berusaha mengabaikan emosinya.