JawaPos.com - Seni tidak selalu lahir di galeri atau museum. Bagi seniman Amerika Serikat Keith Haring, ruang publik seperti jalanan, kereta bawah tanah, dan klub malam justru menjadi tempat untuk mengembangkan gagasan sekaligus menjangkau masyarakat luas.
Melalui garis tegas, figur sederhana, dan simbol visual yang mudah dikenali, pria yang lahir pada 1958 dan tutup usia di 1990 ini menjadikan seni sebagai medium untuk menyampaikan gagasan tentang kehidupan dan manusia.
Ketika tiba di New York City pada usia 19 tahun untuk belajar di School of Visual Arts, Haring menemukan dunia seni alternatif yang berkembang di luar institusi formal. Terinspirasi oleh seniman grafiti yang menghiasi gerbong kereta bawah tanah, ia mulai menggambar menggunakan kapur putih di atas kertas hitam yang menutupi panel iklan kosong di stasiun.
Baca Juga: Aktor Senior Yadi Timo Meninggal, Penulis Skenario Joko Nugroho Kenang Sosoknya
Aktivitas tersebut menjadi semacam laboratorium kreatif bagi Haring. Ia dapat bereksperimen dengan gagasan visual sekaligus berinteraksi dengan audiens dari berbagai latar belakang.
Dari proses itu lahir sejumlah motif khas, seperti radiant baby, barking dog, dan running figure, yang kemudian berkembang menjadi bahasa visual yang dikenal luas.
Sejak 1982, Haring mulai memamerkan karyanya di galeri dan museum di berbagai negara tanpa meninggalkan proyek seni publik.
Baca Juga: Seniman Susilo Nugroho Meninggal Dunia, Dikenal Lewat Pemeran Den Baguse Ngarsa
Ia menggunakan beragam media, dari permukaan benda sehari-hari hingga mural berskala besar, untuk menyampaikan tema-tema mendasar seperti kelahiran, kematian, cinta, dan perang. Karyanya juga terhubung dengan isu sosial, termasuk kampanye literasi dan peningkatan kesadaran terhadap AIDS.
Setelah didiagnosis mengidap AIDS pada 1988, Haring mendirikan Keith Haring Foundation pada 1989.
Yayasan tersebut dibentuk untuk mendukung organisasi yang bergerak di bidang AIDS melalui pendanaan dan materi visual, sekaligus memastikan warisan seni dan filantropinya terus berlanjut. Hingga kini, yayasan itu memberikan hibah untuk program layanan bagi kaum muda, pendidikan, serta perawatan HIV/AIDS.
Baca Juga: Eksklusif! 24 Seniman Bangun Monumen Digital Timnas Indonesia, Kisah Haru di Balik GARUDA 2026
Haring meninggal dunia pada 1990, tetapi karya-karyanya terus hadir dalam pameran retrospektif internasional dan berbagai koleksi publik maupun pribadi. Perjalanan kariernya yang relatif singkat memperlihatkan bagaimana seni dapat melampaui batas ruang pamer dan menjadi bahasa visual yang menjangkau beragam kalangan.
Bagi Haring, kreativitas bukan hak eksklusif kalangan tertentu, melainkan sesuatu yang dapat diakses dan diekspresikan oleh siapa pun.
Gagasan tersebut kembali diangkat melalui kolaborasi FitFlop dan Keith Haring dalam koleksi Autumn/Winter 2026, yang diluncurkan pada 24 September 2026. Koleksi ini menerjemahkan sejumlah motif ikonik Haring ke dalam desain alas kaki, sekaligus memberi ruang bagi pemakainya untuk mengekspresikan karakter personal melalui pilihan detail.
“Keith Haring percaya bahwa seni adalah milik semua orang. Warisan inilah yang kami bawa ke dalam proses pengembangan dan kurasi koleksi ini. Musim Autumn/Winter memberi kami kesempatan untuk mengeksplorasi karakter desain Haring melalui siluet baru, grafis yang berani, serta detail yang dapat dipersonalisasi. Semuanya dirancang untuk terasa menyenangkan, ekspresif, dan tetap mencerminkan semangat asli Keith Haring,” ujar Chief Product and Brand Officer FitFlop, Louise Noble.
Dalam koleksi ini, ekspresi diri diterjemahkan melalui enamel charm yang dapat dilepas dan dipasang kembali pada sejumlah model sepatu. Detail tersebut memungkinkan pemakai memadukan elemen visual sesuai selera. Dengan demikian, desain tidak hanya berfungsi sebagai pilihan mode, tetapi juga menjadi ruang personal untuk bermain dengan warna, simbol, dan identitas.
Lebih dari sekadar mempertahankan popularitas motif visualnya, warisan Haring mengingatkan bahwa seni dapat hadir dalam berbagai bentuk dan ruang kehidupan. Dari gambar di kereta bawah tanah hingga desain yang dikenakan sehari-hari, ekspresi kreatif tidak harus mengikuti satu standar atau terbatas pada ruang tertentu. Seni dapat menjadi cara bagi setiap orang untuk mengenali, merayakan, dan menyampaikan dirinya kepada dunia.
Koleksi tersebut tersedia di lima toko FitFlop, yaitu Pondok Indah Mall, Kota Kasablanka, Mall of Indonesia, Tunjungan Plaza, dan Deli Park Medan. Produk juga dapat dibeli melalui situs resmi FitFlop Indonesia dan e-commerce.