JawaPos.com – Saat sedang menjalani pengobatan, perhatian biasanya hanya tertuju pada dosis dan jadwal minum obat. Padahal, makanan maupun minuman yang dikonsumsi sehari-hari juga dapat memengaruhi cara kerja obat tertentu.
Interaksi antara obat dan makanan dapat terjadi ketika suatu kandungan dalam makanan atau minuman memengaruhi penyerapan, metabolisme, maupun efektivitas obat. Pada kondisi tertentu, interaksi tersebut bahkan dapat meningkatkan risiko munculnya efek samping.
Karena itu, penting untuk mengetahui jenis makanan dan minuman yang perlu diperhatikan ketika sedang mengonsumsi obat tertentu. Terlebih, beberapa di antaranya merupakan konsumsi sehari-hari yang mungkin tidak dianggap berisiko.
Dilansir dari English Jagran, berikut lima makanan dan minuman yang perlu diwaspadai karena dapat berinteraksi dengan obat tertentu.
Baca Juga: Wajib Dibatasi, 4 Jenis Makanan Ini Bisa Mengganggu Kesehatan Pencernaan
1. Jus Buah Tertentu
Tidak semua jus buah aman dikonsumsi bersamaan dengan obat. Beberapa jenis jus diketahui dapat memengaruhi proses tubuh dalam menyerap atau memetabolisme obat.
Jus grapefruit, misalnya, dapat berinteraksi dengan sejumlah obat, termasuk beberapa jenis statin dan obat penghambat saluran kalsium. Sementara itu, jenis jus buah lainnya juga dapat memengaruhi proses metabolisme obat melalui kerja enzim di dalam tubuh.
Oleh sebab itu, sebaiknya periksa aturan konsumsi obat dan tanyakan kepada dokter atau apoteker sebelum menggabungkannya dengan jus tertentu.
2. Jus Cranberry
Jus cranberry juga perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang menggunakan warfarin, yaitu obat pengencer darah yang digunakan untuk membantu mencegah terbentuknya gumpalan darah.
Konsumsi cranberry dalam jumlah tertentu disebut dapat memengaruhi kerja warfarin dan berpotensi mengubah efek obat tersebut. Perubahan pola makan secara mendadak juga sebaiknya dihindari selama menjalani terapi warfarin.
Pasien yang menggunakan obat ini dianjurkan menjaga pola makan tetap konsisten dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila ingin mengubah konsumsi makanan atau minuman tertentu.
3. Keju
Keju dan sejumlah makanan lain yang memiliki kandungan tiramin cukup tinggi perlu diwaspadai oleh orang yang mengonsumsi obat golongan MAOI.
Kombinasi tersebut dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah secara signifikan pada kondisi tertentu. Karena itu, orang yang mendapatkan resep MAOI biasanya perlu mendapatkan panduan mengenai makanan yang sebaiknya dibatasi selama pengobatan.
4. Sayuran Hijau dan Sayuran Silangan
Sayuran berdaun hijau serta beberapa sayuran lain mengandung vitamin K yang berperan dalam proses pembekuan darah.
Bagi pengguna warfarin, perubahan konsumsi makanan tinggi vitamin K secara tiba-tiba dapat memengaruhi efektivitas terapi. Bukan berarti makanan tersebut harus selalu dihindari, tetapi jumlah konsumsinya perlu diperhatikan dan dijaga konsistensinya.
Jika sedang menjalani terapi warfarin, perubahan pola makan sebaiknya dibicarakan terlebih dahulu dengansi keduanya secara bersamaan dapat meningkatkan efek samping pada sebagian orang. Keluhan yang mungkin muncul antara lain mual, sakit kepala, gelisah, dokter atau apoteker.
5. Kopi
Kopi juga perlu diperhatikan oleh orang yang mengonsumsi teofilin, obat yang antara lain digunakan untuk membantu menangani gangguan pernapasan tertentu.
Kafein dan teofilin sama-sama memiliki efek stimulasi sehingga konsumsi keduanya secara bersamaan dapat meningkatkan efek samping pada sebagian orang. Keluhan yang mungkin muncul antara lain mual, sakit kepala, gelisah, atau mudah mengalami iritasi.
Karena respons setiap orang terhadap obat berbeda, aturan akhirnya, tidak semua makanan atau minuman di atas otomatis harus dihindari oleh setiap orang yang sedang minum obat. konsumsi kopi sebaiknya disesuaikan dengan jenis obat dan kondisi masing-masing.
Pada akhirnya, tidak semua makanan atau minuman di atas otomatis harus dihindari oleh setiap orang yang sedang minum obat. Interaksi sangat bergantung pada jenis obat, dosis, kondisi kesehatan, serta jumlah makanan atau minuman yang dikonsumsi. Jika ragu, konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum mengubah pola makan selama masa pengobatan.