JawaPos.com - Psikologi generasi kerja menunjukkan perbedaan besar antara generasi Z dan generasi sebelumnya dalam memandang budaya kerja keras.
Setiap generasi memasuki dunia kerja dengan pemahaman berbeda tentang apa yang seharusnya mereka terima dan tolerir.
Generasi sebelumnya cenderung bersyukur memiliki pekerjaan tanpa banyak mempertanyakan keadilan yang mereka terima di tempat kerja.
Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (24/9), berikut enam sikap kerja generasi Z yang menolak budaya kerja keras yang dulu diterima begitu saja oleh generasi sebelumnya.
1. Menolak anggapan bahwa lembur menunjukkan dedikasi tinggi
Generasi sebelumnya menganggap bertahan lebih lama di kantor sebagai bukti nyata dedikasi seorang karyawan.
Kebiasaan membalas pesan kerja setelah jam kantor dulu dianggap sebagai tanda semangat dan loyalitas tinggi.
Generasi Z justru mempertanyakan anggapan tersebut karena produktivitas seharusnya tidak diukur dari waktu tambahan.
Mereka meyakini bahwa produktivitas tinggi tetap bisa dicapai tanpa harus mengorbankan waktu istirahat pribadi.
2. Menolak anggapan bahwa perasaan tertekan di kerja adalah hal wajar
Generasi sebelumnya menerima kesengsaraan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang dewasa yang bekerja.
Mereka rela menjalani jam kerja panjang tanpa bayaran tambahan demi bertahan hidup sehari-hari.
Generasi Z tetap memahami bahwa pekerjaan bisa membosankan, namun menolak anggapan penderitaan sebagai hal terhormat.
Mereka lebih memilih mencari pekerjaan baru dibanding bertahan di lingkungan yang tidak mendukung fleksibilitas.
3. Menolak menerima perlakuan tidak hormat dari atasan
Generasi sebelumnya menerima hierarki ketat di tempat kerja tanpa berani mempertanyakan keputusan atasan mereka.
Ketika atasan bersikap kasar, mereka cenderung diam dan menerima perlakuan tersebut tanpa perlawanan.
Generasi Z justru meyakini bahwa rasa hormat seharusnya berlaku dua arah antara atasan dan karyawan.
Mereka tetap menerima kritik membangun, namun menolak diperlakukan secara tidak sopan oleh siapa pun.
4. Menolak keharusan membalas pesan kerja di luar jam kantor
Generasi sebelumnya mengenal masa ketika meninggalkan kantor benar-benar berarti berhenti memikirkan pekerjaan.
Kehadiran teknologi mengubah kebiasaan tersebut karena pesan kerja bisa masuk kapan saja tanpa henti.
Generasi Z lebih sadar akan dampak teknologi ini sehingga memilih mengabaikan notifikasi di luar jam kerja.
Mereka menegaskan bahwa pekerjaan seharusnya tetap berada di kantor, bukan mengganggu waktu pribadi mereka.
5. Menolak mengorbankan seluruh hidup pribadi demi loyalitas kerja
Generasi sebelumnya didorong menunjukkan loyalitas dengan mendedikasikan seluruh hidupnya kepada satu perusahaan saja.
Mereka bertahan puluhan tahun dan berkorban besar dengan harapan mendapat imbalan yang setimpal kelak.
Generasi Z justru memandang pekerjaan sebagai bentuk pertukaran, bukan komitmen seumur hidup yang mengikat.
Mereka tidak merasa bersalah berpindah pekerjaan demi mendapatkan gaji atau peluang karier yang lebih baik.
6. Menolak anggapan bahwa kelelahan adalah harga dari kesuksesan
Generasi sebelumnya meyakini bahwa kelelahan menjadi bukti ambisi sekaligus bentuk pencapaian dalam berkarier.
Kurangnya waktu berlibur dulu dianggap sebagai tanda dedikasi tinggi terhadap pekerjaan yang dijalani.
Generasi Z lebih mengutamakan kesehatan mental dan menolak bekerja hingga titik kelelahan yang ekstrem.
Mereka meyakini bahwa kesuksesan tetap bisa diraih tanpa harus mengorbankan seluruh aspek kehidupan pribadi.
***