← Beranda
Bukan Sekadar Menulis, Journaling Bisa Bantu Kelola Emosi dan Stres
Mustika PertiwiRabu, 16 September 2026 | 19.45 WIB
Bagi sebagian orang, menuangkannya dalam tulisan dapat menjadi cara sederhana untuk memahami apa yang sedang dirasakan. Kegiatan ini dikenal sebagai journaling. (getty image)

JawaPos.com - Pikiran yang penuh tidak selalu mudah diceritakan kepada orang lain. Bagi sebagian orang, menuangkannya dalam tulisan dapat menjadi cara sederhana untuk memahami apa yang sedang dirasakan. Kegiatan ini dikenal sebagai journaling.

Secara sederhana, journaling merupakan aktivitas menuangkan ide, pikiran, perasaan, emosi atau pengalaman ke dalam bentuk tulisan. Journaling dapat dilakukan menggunakan buku dan alat tulis, mengetik melalui komputer atau ponsel, maupun menggunakan gambar dan bentuk visual lainnya. Tidak ada aturan khusus mengenai bentuk maupun isi jurnal sehingga setiap orang dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan.

Dalam penelitian psikologi, kegiatan menulis untuk mengungkapkan pengalaman dan emosi juga dikenal dengan istilah expressive writing. Praktik ini pertama kali banyak dikembangkan melalui penelitian psikolog James W. Pennebaker mengenai hubungan antara mengungkapkan pengalaman emosional melalui tulisan dan kesehatan. 

Baca Juga: Dorong Intervensi Nyeri Dicover BPJS, ISAPM Gelar Indoanalgesia Summit 2026 dan Cetak Rekor MURI

Lantas, apa saja manfaat yang bisa diperoleh dari kebiasaan journaling?

Membantu Mengelola Emosi

Salah satu manfaat journaling adalah memberikan ruang bagi seseorang untuk mengekspresikan perasaan. Emosi seperti kecewa, sedih, marah atau cemas dapat dituangkan melalui tulisan tanpa harus khawatir mendapatkan penilaian dari orang lain. Menuliskan perasaan juga dapat membantu seseorang mengamati emosi yang muncul pada situasi tertentu. 

Membantu Meredakan Stres

Ketika menghadapi berbagai persoalan dalam waktu bersamaan, pikiran dapat terasa penuh. Menuliskan hal-hal yang sedang dipikirkan dapat menjadi salah satu cara untuk mengorganisasi pikiran tersebut.

Membantu Mengenali Diri

Journaling juga dapat menjadi ruang untuk melakukan refleksi. Melalui tulisan, seseorang dapat melihat kembali kebiasaan, pengalaman, keinginan, hingga hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupannya.

Misalnya, seseorang dapat mencatat aktivitas yang membuatnya bersemangat dan keadaan yang justru membuatnya merasa lelah. Jika dilakukan secara rutin, catatan tersebut dapat membantu melihat pola dalam kehidupan sehari-hari. Dari sana, journaling dapat digunakan untuk membantu seseorang memahami kesukaan, tujuan, harapan, maupun hal-hal yang ingin diperbaiki.

Membantu Mengurai Pikiran yang Rumit

Baca Juga: LPK Politeknik Bhakti Kencana Diresmikan Link and Match Dunia Pendidikan dan Kerja

Ketika berbagai pikiran muncul secara bersamaan, seseorang terkadang kesulitan menentukan apa yang sebenarnya sedang dipikirkan. Menulis dapat menjadi cara untuk mengeluarkan pikiran tersebut secara lebih terstruktur.

Tidak perlu menggunakan kalimat yang sempurna. Menulis secara spontan, membuat daftar atau bahkan menggambar dapat menjadi bagian dari proses journaling. Bagi sebagian orang, proses tersebut dapat membantu melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda..

Cara Memulai Journaling

Bagi pemula, memulai journaling tidak harus dengan tulisan panjang. Beberapa langkah sederhana berikut dapat dicoba:

1. Tentukan waktu yang nyaman

Pilih waktu yang paling memungkinkan untuk menulis. Pagi hari dapat digunakan untuk menuliskan rencana dan perasaan sebelum beraktivitas, sedangkan malam hari dapat menjadi waktu untuk melakukan refleksi.

2. Pilih media yang sesuai

Baca Juga: Komisi III DPR Minta Polri Bongkar Aktor Intelektual Kasus Uang Dolar Singapura Palsu

Gunakan buku catatan jika lebih nyaman menulis menggunakan tangan. Jika lebih praktis menggunakan ponsel atau laptop, jurnal digital juga dapat digunakan.

3. Mulai dengan pertanyaan sederhana

Jika bingung harus menulis apa, gunakan pertanyaan sebagai pemantik. Misalnya, “Apa yang saya rasakan hari ini?”, “Apa yang membuat saya bahagia?” atau “Apa yang sedang mengganggu pikiran saya?”

4. Tulis tanpa terlalu memikirkan bentuknya

Journaling bukan tugas sekolah sehingga tidak membutuhkan struktur tulisan yang sempurna. Tuliskan apa yang sedang muncul dalam pikiran dengan bahasa yang paling nyaman.

5. Jangan takut menuliskan perasaan negatif

Rasa kecewa, marah, sedih, maupun cemas juga dapat dituliskan. Menuliskan emosi tersebut dapat menjadi bagian dari proses mengenali apa yang sedang dirasakan.

Baca Juga: Otoritas Bandara Juanda Gagalkan Penyelundupan Satwa Langka

6. Sisihkan waktu untuk refleksi

Setelah menulis, kamu dapat membaca kembali catatanmu jika merasa nyaman. Perhatikan apakah terdapat pola tertentu dari pikiran, emosi atau pengalaman yang berulang.

7. Lakukan secara konsisten

Journaling tidak harus dilakukan berjam-jam atau menghasilkan banyak halaman. Beberapa menit dengan tulisan singkat pun dapat menjadi awal untuk membangun kebiasaan refleksi.

Pada akhirnya, journaling bukan sekadar aktivitas menulis cerita sehari-hari. Bagi sebagian orang, kegiatan ini dapat menjadi ruang pribadi untuk mengekspresikan perasaan, memahami diri, dan menata berbagai pikiran.

EDITOR: Bintang Pradewo