← Beranda
6 Hal yang Keliru Dipahami Orang Tua tentang Penelitian Mengenai Durasi Screen Time Anak-anak
Irfan FerdiansyahKamis, 10 September 2026 | 15.00 WIB
seseorang yang keliru tentang screen time. (Magnific)
 
 
JawaPos.com - Di tengah kehidupan digital saat ini, screen time menjadi salah satu topik yang sering membuat orang tua merasa bersalah. Anak menonton YouTube terlalu lama, bermain gim di tablet, menggunakan ponsel untuk belajar, atau meminta tambahan waktu menonton televisi, semuanya dapat menimbulkan kekhawatiran.


Tidak sedikit orang tua yang kemudian berpegang pada satu kesimpulan sederhana: semakin lama anak berada di depan layar, semakin buruk dampaknya bagi perkembangan psikologisnya.

Namun, penelitian psikologi mengenai penggunaan layar sebenarnya jauh lebih kompleks.

Durasi memang penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah penggunaan layar bermanfaat, netral, atau berpotensi merugikan. Apa yang dilakukan anak di depan layar, kapan dilakukan, bersama siapa, untuk tujuan apa, serta apa yang dikorbankan akibat penggunaan layar juga memiliki peran besar.

Dengan kata lain, dua anak yang sama-sama menghabiskan dua jam di depan layar belum tentu mengalami dampak yang sama.

Seorang anak mungkin menghabiskan dua jam untuk melakukan panggilan video dengan anggota keluarga, mengerjakan tugas sekolah, dan menonton program edukatif. Anak lain mungkin menghabiskan waktu yang sama dengan bermain gim secara pasif sambil tidur larut malam dan hampir tidak melakukan aktivitas fisik.

Durasi keduanya sama. Konteksnya berbeda.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (9/9), ada beberapa kesalahpahaman mengenai penelitian screen time anak yang penting diluruskan.

1. Keliru jika menganggap penelitian hanya mengatakan “semakin lama screen time, semakin buruk”

Ini mungkin merupakan salah satu kesalahpahaman paling umum.

Ketika membaca berita mengenai penelitian tentang penggunaan layar, orang tua terkadang menemukan kalimat seperti “screen time tinggi berkaitan dengan masalah kesehatan mental” atau “anak yang menggunakan layar lebih lama memiliki perkembangan yang lebih rendah”.

Masalahnya, hubungan semacam itu sering kali kemudian disederhanakan menjadi:

“Layar menyebabkan masalah.”

Padahal, penelitian psikologi sering kali menemukan hubungan atau korelasi, bukan selalu hubungan sebab-akibat yang sederhana.

Misalnya, penelitian menemukan bahwa anak yang menggunakan perangkat digital dalam waktu lebih lama cenderung memiliki kualitas tidur yang lebih buruk. Hal tersebut tidak otomatis berarti layar merupakan satu-satunya penyebab.

Bisa saja hubungan tersebut berlangsung dua arah.

Anak yang mengalami kesulitan tidur mungkin menggunakan gawai lebih lama pada malam hari karena belum mengantuk. Sebaliknya, penggunaan gawai hingga larut malam juga dapat membuat waktu tidur semakin mundur.

Artinya, kita perlu berhati-hati dalam membaca hasil penelitian.

Selain itu, anak yang mengalami stres, kesepian, kecemasan, atau masalah dalam hubungan sosial mungkin juga lebih banyak mencari hiburan melalui perangkat digital. Dalam kondisi tersebut, screen time bisa menjadi gejala dari masalah yang lebih luas, bukan satu-satunya penyebab masalah.

Ini bukan berarti penggunaan layar tidak memiliki risiko.

Penggunaan layar yang berlebihan memang dapat mengganggu tidur, aktivitas fisik, interaksi sosial, atau rutinitas keluarga. Namun, psikologi tidak melihat layar sebagai sesuatu yang secara otomatis buruk dalam jumlah berapa pun.

Yang lebih penting adalah melihat pola penggunaan secara keseluruhan.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Berapa jam anak menggunakan layar?”

Tetapi juga:

“Apa yang terjadi selama jam-jam tersebut?”

Apakah anak belajar? Berkomunikasi? Bermain bersama teman? Menonton hiburan? Bermain gim? Atau menggunakan layar untuk menghindari aktivitas lain yang sebenarnya penting?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memberikan gambaran yang jauh lebih bermakna.

2. Keliru jika menganggap semua screen time memiliki dampak psikologis yang sama

Tidak semua aktivitas di depan layar memiliki karakteristik yang sama.

Ini merupakan hal penting yang sering hilang ketika orang tua terlalu fokus pada angka durasi.

Bayangkan tiga aktivitas berikut.

Anak pertama melakukan panggilan video dengan neneknya selama satu jam.

Anak kedua mengikuti kelas daring selama satu jam.

Anak ketiga menonton video pendek secara terus-menerus selama satu jam tanpa banyak berinteraksi atau melakukan aktivitas lain.

Ketiganya sama-sama menggunakan layar selama satu jam.

Tetapi pengalaman psikologisnya jelas berbeda.

Dalam psikologi perkembangan, kualitas pengalaman anak menjadi bagian penting dalam memahami dampak teknologi.

Aktivitas yang melibatkan interaksi, komunikasi, kreativitas, pemecahan masalah, atau pembelajaran aktif dapat memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan konsumsi konten secara pasif.

Bahkan bermain gim pun tidak selalu dapat dimasukkan ke dalam satu kategori.

Beberapa gim menuntut anak memecahkan masalah, bekerja sama dengan orang lain, membuat strategi, atau mengembangkan keterampilan tertentu. Sebaliknya, penggunaan gim yang tidak terkendali hingga mengorbankan tidur, sekolah, aktivitas fisik, dan hubungan sosial merupakan situasi yang berbeda.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya menghitung waktu.

Cobalah bertanya:

Apa yang sedang dilakukan anak?
Apakah aktivitas tersebut aktif atau pasif?
Apakah anak berinteraksi dengan orang lain?
Apakah kontennya sesuai usia?
Apakah anak memperoleh sesuatu dari aktivitas tersebut?
Bagaimana perasaan anak setelah menggunakannya?
Apakah penggunaan layar menggantikan kegiatan penting lainnya?

Pertanyaan semacam ini jauh lebih informatif dibandingkan sekadar melihat angka pada penghitung waktu layar.

3. Keliru jika menganggap batas waktu adalah “angka ajaib” yang berlaku sama untuk semua anak

Banyak orang tua mencari satu angka pasti.

“Berapa jam screen time yang aman?”

Pertanyaan tersebut memang wajar. Orang tua membutuhkan pedoman yang praktis.

Namun, perkembangan anak tidak bekerja seperti kalkulator.

Tidak ada satu angka ajaib yang dapat menjamin bahwa anak akan baik-baik saja selama berada di bawah batas tersebut dan pasti bermasalah jika melewatinya.

Usia anak tentu penting. Anak usia prasekolah memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda dibandingkan anak sekolah dasar atau remaja.

Namun, bahkan anak-anak dengan usia yang sama dapat memiliki kebutuhan dan situasi berbeda.

Seorang anak mungkin menggunakan komputer selama beberapa jam untuk mengerjakan proyek sekolah, tetapi tetap tidur cukup, aktif bergerak, memiliki hubungan sosial yang sehat, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Anak lainnya mungkin hanya menggunakan layar selama satu atau dua jam, tetapi selalu menggunakannya menjelang tidur, sulit berhenti ketika diminta, menjadi mudah marah ketika aksesnya dihentikan, dan mulai meninggalkan kegiatan penting lainnya.

Melihat angka saja dapat membuat orang tua kehilangan konteks.

Karena itu, batas waktu dapat digunakan sebagai alat bantu, tetapi bukan satu-satunya ukuran kesehatan psikologis anak.

Orang tua juga perlu melihat apakah penggunaan layar mulai mengganggu:

tidur,
aktivitas fisik,
sekolah,
interaksi keluarga,
pertemanan,
hobi,
tanggung jawab sehari-hari,
dan kemampuan anak mengatur dirinya sendiri.

Jika layar mulai mengambil alih sebagian besar aktivitas tersebut, masalahnya bukan semata-mata jumlah menit.

Masalahnya adalah ketidakseimbangan.

4. Keliru jika menganggap penelitian tentang screen time membuktikan bahwa setiap anak akan mengalami dampak yang sama

Penelitian psikologi umumnya berbicara mengenai pola pada kelompok manusia.

Misalnya, suatu penelitian dapat menemukan bahwa rata-rata anak dengan penggunaan layar yang sangat tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami masalah tertentu.

Namun, hal tersebut tidak berarti setiap anak yang menggunakan layar dalam jumlah tinggi akan mengalami masalah yang sama.

Begitu pula sebaliknya.

Ada anak yang cukup sering menggunakan teknologi tetapi tetap memiliki perkembangan sosial dan emosional yang baik.

Mengapa?

Karena perkembangan anak dipengaruhi oleh banyak faktor.

Genetik, temperamen, hubungan dengan orang tua, kualitas tidur, kondisi keluarga, lingkungan sekolah, status sosial ekonomi, aktivitas fisik, hubungan pertemanan, dan pengalaman hidup semuanya dapat berinteraksi.

Teknologi hanyalah salah satu bagian dari lingkungan tersebut.

Dalam psikologi perkembangan, kita sering kali tidak dapat memahami perilaku anak dengan melihat satu variabel secara terpisah.

Misalnya, seorang anak menjadi lebih mudah marah setelah mulai menggunakan tablet.

Orang tua mungkin langsung menyimpulkan:

“Tablet membuat anak saya agresif.”

Tetapi kita juga perlu melihat apakah anak sedang kurang tidur, menghadapi masalah di sekolah, mengalami perubahan dalam keluarga, atau memang sedang berada dalam tahap perkembangan tertentu.

Layar mungkin berkontribusi, tetapi belum tentu menjadi satu-satunya penjelasan.

Inilah alasan mengapa orang tua sebaiknya menghindari kesimpulan ekstrem berdasarkan satu penelitian atau satu pengalaman pribadi.

5. Keliru jika menganggap teknologi hanya membawa dampak negatif bagi perkembangan anak

Kekhawatiran terhadap teknologi bukan tanpa alasan.

Penggunaan yang tidak terkontrol memang dapat menjadi masalah.

Namun, menganggap semua penggunaan teknologi sebagai ancaman juga merupakan penyederhanaan.

Teknologi dapat memberikan banyak kesempatan bagi anak.

Anak dapat mengakses informasi, mempelajari keterampilan baru, berkomunikasi dengan keluarga yang tinggal jauh, mengikuti pembelajaran, mengembangkan kreativitas, membuat karya digital, dan menemukan komunitas yang memiliki minat serupa.

Bagi sebagian anak, teknologi bahkan dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan diri.

Misalnya, anak yang menyukai menggambar dapat belajar menggunakan perangkat lunak desain. Anak yang tertarik pada musik dapat mempelajari produksi musik digital. Anak yang senang memecahkan masalah dapat memperoleh tantangan melalui permainan atau aplikasi edukatif.

Karena itu, pertanyaan yang lebih produktif bukan:

“Bagaimana cara menjauhkan anak dari layar?”

Melainkan:

“Bagaimana membantu anak menggunakan teknologi dengan cara yang sehat?”

Perubahan sudut pandang ini penting.

Tujuan pengasuhan di era digital bukan selalu menghilangkan teknologi dari kehidupan anak. Tujuannya adalah membantu anak membangun kemampuan regulasi diri.

Anak perlu belajar bahwa teknologi dapat digunakan untuk bersenang-senang, tetapi bukan satu-satunya sumber kesenangan.

Anak juga perlu belajar bahwa merasa bosan bukan sesuatu yang harus selalu segera dihilangkan dengan membuka ponsel.

Mereka perlu memiliki pengalaman bermain, bergerak, berbicara, membaca, berimajinasi, berinteraksi secara langsung, dan menyelesaikan masalah tanpa bantuan layar.

Dengan demikian, masalah utamanya bukan keberadaan teknologi.

Yang penting adalah hubungan anak dengan teknologi.

6. Keliru jika orang tua hanya mengawasi durasi, tetapi mengabaikan kebiasaan keluarga

Ini mungkin merupakan bagian yang paling penting.

Anak tidak tumbuh dalam ruang kosong.

Kebiasaan mereka dipengaruhi oleh lingkungan.

Termasuk kebiasaan orang tua.

Sulit meminta anak meletakkan ponsel ketika orang tua sendiri terus memeriksa layar saat makan malam.

Sulit meminta anak tidak membawa perangkat ke tempat tidur ketika seluruh keluarga terbiasa menggunakan ponsel hingga larut malam.

Anak belajar bukan hanya dari aturan yang diberikan kepadanya, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari.

Karena itu, pengaturan screen time akan jauh lebih efektif jika menjadi bagian dari kebiasaan keluarga, bukan hanya aturan untuk anak.

Misalnya, keluarga dapat membuat kesepakatan bahwa:

tidak ada ponsel selama makan bersama,
perangkat tidak digunakan di tempat tidur,
aktivitas fisik tetap menjadi bagian dari rutinitas harian,
waktu keluarga tidak selalu ditemani oleh layar,
orang tua juga berusaha memberikan contoh penggunaan teknologi yang sehat,
dan anak diberi kesempatan untuk belajar mengatur penggunaan perangkat secara bertahap.

Pendekatan ini berbeda dari sekadar mengatakan:

“Kamu sudah memakai HP dua jam. Matikan sekarang!”

Anak mungkin mematuhi perintah tersebut, tetapi belum tentu belajar mengapa pengaturan diri itu penting.

Tujuan jangka panjang pengasuhan adalah membantu anak mengembangkan kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri, bukan membuat orang tua harus selalu menjadi “polisi layar”.

Jadi, Berapa Lama Anak Boleh Menggunakan Layar?

Pertanyaan ini tetap penting.

Orang tua tentu membutuhkan batas yang praktis. Pedoman berdasarkan usia dan kebutuhan perkembangan dapat membantu keluarga membuat aturan yang masuk akal.

Namun, angka tersebut sebaiknya dipandang sebagai panduan, bukan garis pemisah mutlak antara “aman” dan “berbahaya”.

Daripada hanya menghitung menit, orang tua dapat menggunakan beberapa pertanyaan sederhana.

1. Apakah anak tidur cukup?

Jika penggunaan layar membuat anak tidur terlalu larut atau mengganggu rutinitas tidur, ini perlu diperhatikan.

2. Apakah anak tetap aktif bergerak?

Anak tetap membutuhkan aktivitas fisik dan kesempatan bermain secara langsung.

3. Apakah hubungan sosialnya tetap sehat?

Perhatikan apakah anak masih menikmati interaksi dengan keluarga dan teman.

4. Apakah sekolah dan tanggung jawabnya terganggu?

Jika penggunaan layar membuat pekerjaan sekolah atau kewajiban sehari-hari terbengkalai, batas perlu dievaluasi.

5. Apakah anak dapat berhenti?

Kemampuan untuk berhenti menggunakan perangkat merupakan indikator yang penting.

Anak yang kecewa ketika waktunya selesai adalah hal yang cukup normal.

Namun, jika setiap penghentian layar selalu menghasilkan konflik ekstrem, anak tidak dapat melakukan aktivitas lain tanpa layar, atau penggunaan teknologi semakin sulit dikendalikan, orang tua perlu melihat pola tersebut secara lebih serius.

6. Apa yang sebenarnya dilakukan anak di depan layar?

Ini mungkin pertanyaan paling penting.

Konten, konteks, kualitas interaksi, dan tujuan penggunaan perlu dipertimbangkan bersama durasi.

Psikologi Tidak Mengajarkan Orang Tua untuk Menjadi “Penghitung Menit”

Pada akhirnya, penelitian mengenai screen time seharusnya tidak membuat orang tua terjebak dalam kecemasan mengenai angka.

Tujuannya bukan membuat orang tua merasa gagal setiap kali anak menggunakan tablet lebih lama dari rencana.

Pengasuhan digital yang sehat lebih menyerupai proses mencari keseimbangan.

Anak membutuhkan teknologi.

Tetapi anak juga membutuhkan tidur.

Anak membutuhkan hiburan.

Tetapi anak juga membutuhkan aktivitas fisik.

Anak membutuhkan dunia digital.

Tetapi mereka juga membutuhkan hubungan sosial secara langsung.

Anak membutuhkan kesempatan memilih.

Tetapi mereka juga membutuhkan batas.

Dan yang tidak kalah penting, anak membutuhkan orang tua yang membantu mereka memahami bagaimana menggunakan teknologi dengan bijaksana.

Karena itu, enam kesalahpahaman tentang screen time tadi pada akhirnya mengarah pada satu prinsip sederhana:

Bukan hanya berapa lama anak berada di depan layar yang penting, tetapi apa yang layar tersebut gantikan, apa yang anak lakukan selama menggunakannya, dan bagaimana penggunaan tersebut memengaruhi kehidupannya secara keseluruhan.

Jika seorang anak menggunakan layar tetapi tetap tidur cukup, aktif bergerak, belajar, bermain, berinteraksi dengan orang lain, menjalankan tanggung jawab, dan mampu berhenti ketika waktunya selesai, gambaran tersebut sangat berbeda dari anak yang kehidupannya mulai berputar hampir sepenuhnya di sekitar perangkat digital.

Jadi, daripada hanya bertanya:

“Berapa jam anak saya boleh menggunakan HP?”

mungkin pertanyaan yang lebih bermanfaat adalah:

“Apakah penggunaan layar membantu atau mulai mengganggu kehidupan anak saya?”

Itulah pertanyaan yang lebih dekat dengan cara psikologi memahami perkembangan anak: bukan dengan melihat satu angka secara terpisah, melainkan dengan melihat anak sebagai manusia secara utuh, di dalam konteks kehidupannya.***
EDITOR: Novia Tri Astuti