← Beranda
10 Hal yang Dianggap Normal Saat Kerja WFH, tapi Terdengar Buruk Saat Diceritakan kepada Orang Lain
Vindi Rayinda AyudyaKamis, 10 September 2026 | 00.11 WIB
Ilustrasi bekerja dari rumah atau WFH (magnific)

 

 

JawaPos.com - Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sering dianggap sebagai salah satu bentuk fleksibilitas kerja yang paling nyaman. 

Tidak perlu menghadapi kemacetan, tidak harus mengenakan pakaian formal sepanjang hari, dan pekerjaan bisa dilakukan dari tempat yang jauh lebih santai dibandingkan kantor.

Namun, kebebasan tersebut juga menciptakan sejumlah kebiasaan yang mungkin terdengar aneh, tidak profesional, bahkan buruk jika diceritakan kepada orang yang terbiasa bekerja di kantor. 

Misalnya, mengikuti rapat sambil masih mengenakan piyama, membalas email dari tempat tidur, hingga menggunakan waktu istirahat untuk melipat pakaian.

Padahal, bagi sebagian pekerja remote, kebiasaan tersebut tidak selalu berarti mereka malas atau tidak bertanggung jawab. 

Selama pekerjaan selesai tepat waktu, komunikasi tetap berjalan, dan target terpenuhi, fleksibilitas menjadi salah satu keuntungan utama bekerja dari rumah.

Seperti dirangkum dari laman YourTango, bekerja dari rumah punya kebiasaan unik yang mungkin terdengar buruk bagi orang lain. Berikut 10 hal yang sebenarnya normal dilakukan pekerja remote.

1. Mengikuti rapat sambil masih mengenakan piyama

Bagi sebagian orang, mengikuti rapat kerja menggunakan piyama mungkin terdengar sangat tidak profesional. Bayangkan jika seseorang mengatakan bahwa ia baru saja mengikuti rapat penting dengan atasan sambil masih mengenakan pakaian tidur. Kesan pertama yang muncul bisa saja adalah bahwa orang tersebut tidak menghargai pekerjaannya.

Namun, bekerja dari rumah membuat pakaian tidak selalu berkaitan langsung dengan produktivitas. Selama rapat tidak mengharuskan kamera menyala atau perusahaan memiliki aturan khusus mengenai penampilan, seseorang mungkin merasa jauh lebih nyaman menggunakan pakaian santai.

Kenyamanan juga dapat membantu seseorang mengurangi ketegangan selama bekerja. Bagi pekerja remote, lingkungan rumah memang memberikan ruang untuk mengatur suasana kerja sesuai kebutuhan pribadi.

Yang perlu dibedakan adalah kenyamanan dengan kelalaian profesional. Mengenakan piyama ketika bekerja tidak otomatis berarti seseorang malas. Masalah baru muncul apabila kebiasaan tersebut membuat pekerjaan terbengkalai, seseorang tidak siap ketika harus mengikuti rapat mendadak, atau melanggar aturan perusahaan.

Jadi, jika ada pekerja WFH yang sesekali menjalani rapat dari rumah dengan pakaian santai, hal tersebut sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Yang terpenting bukan apa yang dikenakan selama bekerja, melainkan bagaimana tanggung jawab pekerjaan tetap dijalankan.

2. Sarapan sambil membalas email pekerjaan

Bekerja dari rumah sering kali menghilangkan kebutuhan untuk melakukan perjalanan panjang menuju kantor. Waktu yang biasanya digunakan untuk perjalanan dapat berubah menjadi kesempatan untuk tidur sedikit lebih lama, menyiapkan sarapan, atau memulai pekerjaan secara perlahan.

Akibatnya, tidak sedikit pekerja remote yang akhirnya menikmati sarapan sambil membuka laptop dan membalas beberapa email. Dari sudut pandang orang yang bekerja di kantor, kebiasaan ini mungkin terlihat seperti mencampurkan waktu pribadi dengan pekerjaan.

Namun, sistem kerja dari rumah memang memberikan fleksibilitas yang berbeda. Seseorang bisa saja menyelesaikan beberapa pekerjaan ringan sambil menikmati sarapan, kemudian mengatur waktu istirahat pada bagian lain dari hari tersebut.

Tentu, kebiasaan ini sebaiknya tidak berubah menjadi pola bekerja tanpa batas. Jika setiap waktu makan selalu digunakan untuk bekerja, fleksibilitas justru dapat berubah menjadi kelelahan.

Karena itu, makan sambil bekerja dapat menjadi hal yang wajar selama dilakukan sesekali dan tidak mengganggu kesehatan maupun produktivitas. Dalam konteks WFH, yang lebih penting adalah kemampuan mengelola waktu dan menetapkan batas antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi.

3. Mematikan mikrofon untuk menegur anggota keluarga

Salah satu tantangan terbesar bekerja dari rumah adalah berbagi ruang dengan anggota keluarga. Ketika sedang mengikuti rapat penting, suara televisi, anak-anak yang bermain, pasangan yang berbicara, atau aktivitas rumah tangga lainnya bisa muncul secara tiba-tiba.

Dalam situasi seperti itu, pekerja remote mungkin melakukan sesuatu yang terdengar buruk ketika diceritakan kepada orang lain: mematikan mikrofon rapat untuk menegur anggota keluarga agar lebih tenang.

Bagi orang yang bekerja di kantor, kebiasaan tersebut mungkin terdengar seperti seseorang sedang marah-marah kepada keluarganya di tengah jam kerja. Padahal, situasi rumah memang memiliki dinamika yang berbeda dengan ruang kantor.

Bekerja dari rumah bukan berarti seseorang mempunyai ruangan kantor kedap suara. Banyak orang harus berbagi ruang kerja dengan pasangan, anak, hewan peliharaan, atau anggota keluarga lainnya.

Meski demikian, penting untuk tetap menjaga cara berkomunikasi. Tekanan pekerjaan bukan alasan untuk terus-menerus melampiaskan emosi kepada keluarga.

Dengan kata lain, kebutuhan untuk meminta keluarga menjaga ketenangan sebenarnya cukup normal. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang menyampaikannya agar tuntutan pekerjaan tidak berubah menjadi konflik rumah tangga.

4. Curhat kepada hewan peliharaan seperti kepada rekan kerja

Bekerja di kantor memberikan kesempatan untuk berbicara dengan rekan kerja hampir setiap hari. Ada obrolan singkat di meja kerja, makan siang bersama, percakapan sebelum rapat, atau sekadar mengeluh tentang pekerjaan yang menumpuk.

Ketika bekerja dari rumah, interaksi spontan seperti itu bisa berkurang drastis. Rumah memang nyaman, tetapi suasananya bisa terasa sangat sunyi.

Tidak mengherankan jika hewan peliharaan kemudian menjadi “rekan kerja” tidak resmi. Pemiliknya mungkin berbicara kepada kucing atau anjing tentang pekerjaan yang melelahkan, rapat yang membuat frustrasi, atau tugas yang belum selesai.

Jika diceritakan kepada orang lain, kebiasaan tersebut mungkin terdengar lucu atau bahkan aneh. Namun, berbicara sendiri atau kepada hewan peliharaan dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari seseorang ketika bekerja sendirian.

Tentu saja, hewan peliharaan tidak dapat memberikan solusi seperti manusia. Namun, keberadaan mereka dapat membuat suasana rumah terasa lebih hidup.

Yang perlu dijaga adalah tetap memiliki hubungan sosial di luar interaksi dengan hewan peliharaan. Pekerja WFH tetap membutuhkan komunikasi dan koneksi dengan manusia lain agar kehidupan sosial tidak sepenuhnya terputus.

5. Menjadwalkan waktu mandi berdasarkan kalender kerja

Bagi pekerja kantor, mandi biasanya dilakukan sebelum berangkat atau setelah pulang kerja. Sementara itu, pekerja dari rumah memiliki fleksibilitas yang jauh lebih besar dalam menentukan kapan mereka akan mandi.

Jika tidak ada rapat selama beberapa jam, seseorang mungkin memutuskan untuk menggunakan waktu tersebut untuk mandi. Bahkan, ada yang sengaja menunggu semua rapat selesai sebelum meninggalkan meja kerja sebentar.

Jika diceritakan kepada orang lain, kalimat seperti “Saya mandi berdasarkan jadwal meeting” memang bisa terdengar buruk. Namun, sebenarnya kebiasaan tersebut merupakan salah satu konsekuensi dari fleksibilitas kerja remote.

Selama pekerjaan tetap selesai dan tidak ada kewajiban untuk selalu berada di depan kamera, mengatur waktu mandi secara fleksibel bukanlah masalah besar.

Bahkan bagi orang tua yang bekerja dari rumah, fleksibilitas semacam ini bisa sangat membantu. Mereka dapat menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu, kemudian menggunakan jeda waktu untuk mengurus kebutuhan pribadi.

Pada akhirnya, WFH membuat seseorang lebih bebas mengatur ritme harian. Selama fleksibilitas tersebut tidak mengurangi profesionalisme dan tanggung jawab, mandi di tengah jam kerja tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang buruk.

6. Baru sadar bahwa sudah berjam-jam tidak berbicara

Ada satu pengalaman unik yang mungkin dialami pekerja remote: tiba-tiba menyadari bahwa selama beberapa jam terakhir dirinya tidak berbicara kepada siapa pun.

Jika pekerjaan dilakukan secara mandiri dan tidak ada rapat, seseorang dapat menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan mengetik, membaca dokumen, atau menatap layar komputer.

Bagi pekerja kantor, kondisi tersebut mungkin terdengar menyedihkan. Bagaimana seseorang bisa bekerja sepanjang hari tanpa berbicara dengan rekan kerja?

Namun, bagi sebagian pekerja WFH, keheningan justru merupakan salah satu keuntungan terbesar. Mereka tidak harus terlibat dalam percakapan kecil, gangguan spontan, atau interupsi yang sering terjadi di lingkungan kantor.

Meski begitu, bukan berarti isolasi sosial harus dianggap ideal. Manusia tetap membutuhkan hubungan sosial dan interaksi dengan orang lain.

Karena itu, pekerja remote perlu menemukan keseimbangan. Tidak berbicara selama beberapa jam ketika sedang fokus bekerja mungkin sepenuhnya normal. Tetapi setelah pekerjaan selesai, tetap penting untuk berkomunikasi dengan keluarga, teman, atau komunitas agar kehidupan sosial tetap terjaga.

7. Membalas email sambil berbaring di tempat tidur

Kalimat “Saya membalas email kantor sambil tiduran di tempat tidur” mungkin terdengar seperti pengakuan bahwa seseorang malas bekerja.

Namun, bekerja dari rumah memang memungkinkan seseorang menentukan lokasi kerja yang paling nyaman. Selama tugas selesai, email terjawab, rapat diikuti, dan target tercapai, posisi tubuh tidak selalu menentukan kualitas pekerjaan.

Bagi sebagian pekerja, bahkan duduk di tempat tidur selama beberapa menit untuk menjawab pesan sederhana terasa lebih praktis dibandingkan kembali duduk di meja kerja.

Meski demikian, kebiasaan ini sebaiknya tidak dilakukan untuk semua jenis pekerjaan. Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi mungkin tetap lebih efektif dilakukan di meja kerja dengan postur yang baik.

Selain itu, menjadikan tempat tidur sebagai ruang kerja utama dapat membuat batas antara waktu bekerja dan waktu beristirahat semakin kabur.

Jadi, membalas email dari tempat tidur sesekali bukan berarti seseorang tidak profesional. Yang jauh lebih penting adalah hasil pekerjaan, kemampuan memenuhi tanggung jawab, dan bagaimana seseorang menjaga batas agar fleksibilitas WFH tidak berubah menjadi kebiasaan bekerja tanpa struktur.

8. Terburu-buru mengenakan pakaian ketika ada panggilan kerja mendadak

Salah satu mimpi buruk pekerja remote adalah menerima pesan, “Bisa ikut call sebentar?” ketika sedang mengenakan pakaian rumahan.

Situasi tersebut sering membuat seseorang buru-buru mencari pakaian yang pantas, merapikan rambut, kemudian menyalakan kamera beberapa menit kemudian.

Bagi orang lain, kebiasaan ini mungkin terdengar tidak profesional. Tetapi bagi pekerja WFH, panggilan mendadak merupakan bagian dari dinamika kerja remote.

Tidak semua rapat direncanakan jauh-jauh hari. Kadang ada masalah yang membutuhkan diskusi cepat atau keputusan yang tidak bisa menunggu jadwal berikutnya.

Dalam situasi seperti itu, seseorang mungkin memang tidak sepenuhnya siap secara visual. Yang terpenting adalah memastikan komunikasi tetap berjalan dan kebutuhan pekerjaan dapat diselesaikan.

Kebiasaan ini juga menunjukkan mengapa pekerja remote perlu memiliki strategi sederhana untuk menghadapi panggilan mendadak. Misalnya, menyiapkan pakaian yang mudah dikenakan atau menjaga area kerja tetap cukup rapi untuk kebutuhan konferensi video.

Jadi, buru-buru mengenakan pakaian sebelum video call bukan selalu tanda ketidaksiapan. Bisa jadi itu hanya konsekuensi dari fleksibilitas kehidupan kerja dari rumah.

9. Memasak makan malam meskipun secara teknis masih jam kerja

Salah satu keuntungan terbesar bekerja dari rumah adalah seseorang bisa melakukan pekerjaan rumah tangga di sela-sela aktivitas profesional.

Misalnya, ketika pekerjaan utama hari itu sudah selesai tetapi jam kerja resmi belum benar-benar berakhir, seorang pekerja mungkin mulai menyiapkan makan malam.

Jika diceritakan kepada rekan kerja yang berada di kantor, hal tersebut bisa terdengar seperti penyalahgunaan jam kerja. Namun, kenyataannya pekerjaan tidak selalu memiliki intensitas yang sama dari pagi hingga sore.

Ada periode ketika tugas menumpuk dan membutuhkan konsentrasi penuh. Ada pula waktu ketika seseorang hanya menunggu beberapa menit sebelum pekerjaan benar-benar selesai.

Dalam kondisi tertentu, menggunakan jeda tersebut untuk menyiapkan makanan dapat membantu menghemat waktu setelah jam kerja. Setelah pekerjaan selesai, seseorang tidak perlu lagi menghabiskan waktu panjang di dapur.

Namun, batas profesional tetap penting. Memasak bukan alasan untuk mengabaikan pesan penting, melewatkan rapat, atau meninggalkan tanggung jawab yang belum selesai.

Selama pekerjaan tetap terkontrol dan aktivitas rumah tangga tidak mengganggu kewajiban profesional, fleksibilitas semacam ini merupakan salah satu karakteristik unik dari bekerja dari rumah.

10. Menggunakan waktu istirahat untuk melipat pakaian

Bagi pekerja kantor, waktu istirahat biasanya digunakan untuk makan, minum kopi, berjalan-jalan, atau berbincang dengan rekan kerja. Sementara itu, pekerja dari rumah memiliki pilihan yang jauh lebih luas.

Sebagian orang menggunakan waktu istirahat untuk melakukan pekerjaan rumah tangga sederhana seperti melipat pakaian, mencuci piring, merapikan meja, atau menyiapkan kebutuhan keluarga.

Jika diceritakan kepada orang lain, kebiasaan ini mungkin terdengar seperti seseorang tidak benar-benar beristirahat. Namun, bagi pekerja WFH, menyelesaikan pekerjaan rumah yang ringan saat jeda justru dapat membantu mengurangi beban setelah jam kerja.

Meski demikian, konsep “istirahat” tetap perlu diperhatikan. Tidak semua waktu jeda harus diisi dengan pekerjaan rumah. Tubuh dan pikiran juga membutuhkan kesempatan untuk benar-benar berhenti dari aktivitas.

Karena itu, melipat pakaian ketika istirahat bukan sesuatu yang otomatis buruk. Jika aktivitas tersebut terasa ringan dan tidak membuat seseorang semakin lelah, hal itu bisa menjadi bagian dari fleksibilitas bekerja dari rumah.

Pada akhirnya, WFH bukan hanya tentang memindahkan meja kantor ke rumah. Sistem ini juga mengubah cara seseorang mengatur waktu, pekerjaan, keluarga, dan kehidupan pribadi secara bersamaan.

Bekerja dari Rumah Memang Punya Aturan yang Berbeda

Sepuluh kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan pekerja dari rumah memang sering terlihat berbeda dari kehidupan pekerja kantoran. Mengikuti rapat dengan pakaian santai, bekerja dari tempat tidur, berbicara kepada hewan peliharaan, hingga melipat pakaian saat istirahat mungkin terdengar buruk jika dilihat tanpa konteks.

Namun, penilaian terhadap pekerja sebaiknya tidak hanya didasarkan pada bagaimana mereka terlihat bekerja. Produktivitas, kualitas hasil, kemampuan berkomunikasi, kedisiplinan, dan tanggung jawab tetap menjadi ukuran yang jauh lebih relevan.

Seperti dirangkum dari YourTango, fleksibilitas merupakan salah satu daya tarik utama bekerja dari rumah. Selama seseorang mampu menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta tetap memenuhi tanggung jawab profesional, beberapa kebiasaan yang terlihat “aneh” sebenarnya hanyalah bagian dari cara baru bekerja.

Jadi, jika Anda pernah membalas email dari tempat tidur, mengikuti rapat dengan pakaian rumahan, atau melipat pakaian saat jam istirahat, jangan buru-buru menganggap diri sendiri sebagai pekerja yang buruk. Bisa jadi, Anda hanya sedang menemukan cara paling praktis untuk menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

***

 

EDITOR: Novia Tri Astuti