← Beranda
7 Kebiasaan Sederhana yang Dipraktikkan Orang Tua dengan Kesabaran Luar Biasa
Vindi Rayinda Ayudya• Rabu, 9 September 2026 | 03.24 WIB
Ilustrasi orang tua sabar (magnific)

 

 

JawaPos.com - Menjadi orang tua yang sabar bukan berarti tidak pernah merasa lelah, kesal, atau kewalahan. 

Justru, kesabaran dalam mengasuh anak sering kali terlihat dari kemampuan seseorang untuk berhenti sejenak, memahami situasi, kemudian memilih respons yang tidak memperburuk keadaan.

Ketika anak mulai rewel, menangis, membantah, atau mengalami tantrum, reaksi spontan orang dewasa sangat mudah berubah menjadi kemarahan. 

Namun, ada orang tua yang mampu menghadapi momen tersebut dengan lebih tenang karena mereka membangun kebiasaan tertentu dalam kehidupan sehari-hari.

Dirangkum dari laman YourTango, artikel ini membahas sejumlah kebiasaan yang dapat membantu orang tua membangun empati dan kesabaran ketika menghadapi anak dalam situasi sulit.

Berikut tujuh kebiasaan yang menarik untuk diperhatikan.

1. Berusaha Memutus Pola Pengasuhan yang Tidak Sehat

Orang tua yang sabar biasanya tidak hanya bertanya, “Bagaimana supaya anak menurut?” Mereka juga berani bertanya kepada diri sendiri, “Apakah cara saya memperlakukan anak sudah benar?”

Pertanyaan tersebut penting karena cara seseorang mengasuh anak sering kali dipengaruhi pengalaman masa kecilnya sendiri. 

Seseorang yang dahulu dibesarkan dengan hukuman keras, bentakan, atau tuntutan untuk selalu patuh bisa saja tanpa sadar mengulangi pola yang sama ketika memiliki anak.

Menurut pembahasan YourTango, orang tua yang ingin lebih sabar perlu berani mengevaluasi kembali keyakinan tentang disiplin yang mereka dapatkan sejak kecil. 

Kesadaran tersebut membantu mereka membedakan antara mendisiplinkan anak dan melampiaskan frustrasi kepada anak.

Misalnya, ketika anak melakukan kesalahan, orang tua tidak langsung berpikir bahwa hukuman adalah satu-satunya jalan. 

Mereka mencoba memahami mengapa perilaku tersebut terjadi, apa yang sedang dirasakan anak, dan batasan apa yang sebenarnya perlu diberikan.

Memutus pola lama memang tidak mudah. Namun, setiap kali orang tua memilih respons yang lebih tenang daripada reaksi spontan, mereka sebenarnya sedang menciptakan pola pengasuhan baru.

Kesabaran akhirnya bukan sekadar sifat bawaan, melainkan keterampilan yang terus dilatih.

2. Mau Belajar Cara Mengasuh Anak yang Lebih Baik

Orang tua yang sabar tidak selalu tahu harus melakukan apa ketika anak menangis atau melakukan kesalahan. Perbedaannya, mereka tidak berhenti mencari cara yang lebih efektif.

YourTango menyoroti bahwa frustrasi orang tua terkadang muncul karena mereka hanya mengetahui metode pengasuhan yang pernah mereka lihat ketika tumbuh besar. 

Ketika metode tersebut tidak berhasil menghadapi anak, rasa bingung akhirnya berubah menjadi ketidaksabaran.

Karena itu, orang tua yang ingin membangun kesabaran biasanya bersedia belajar. 

Mereka dapat membaca buku parenting, berdiskusi dengan orang tua lain, mengikuti informasi perkembangan anak, atau mempelajari pendekatan disiplin yang lebih konstruktif.

Kebiasaan sederhana ini sebenarnya sangat penting. Ketika orang tua memiliki lebih banyak pilihan dalam menghadapi perilaku anak, mereka tidak mudah merasa bahwa satu-satunya cara adalah membentak atau memberikan hukuman.

Contohnya, anak yang terus menolak mandi tidak selalu membutuhkan ancaman. 

Orang tua dapat mencoba memahami apakah anak sedang lelah, ingin bermain, takut air, atau sekadar kesulitan berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Semakin banyak strategi yang dimiliki orang tua, semakin besar kemungkinan mereka mampu memilih respons yang sesuai dengan situasi.

3. Memperhatikan Ketika Anak Sedang Berusaha Terhubung

Anak tidak selalu mengatakan secara langsung bahwa mereka membutuhkan perhatian orang tua.

Terkadang, mereka menunjukkan kebutuhan tersebut dengan cara sederhana: mengajak bermain, menunjukkan gambar, menceritakan sesuatu yang menurut mereka menarik, bertanya berkali-kali, atau sekadar ingin duduk dekat dengan orang tua.

Menurut sumber YourTango, orang tua yang sabar berusaha lebih peka terhadap berbagai upaya anak untuk membangun koneksi. 

Mereka menyadari bahwa perilaku tersebut tidak selalu sekadar mencari perhatian, tetapi dapat menjadi cara anak mengatakan, “Aku ingin dekat denganmu.”

Hal ini tidak berarti orang tua harus selalu meninggalkan pekerjaannya setiap kali anak meminta perhatian. 

Kemudian yang lebih penting adalah memberikan respons yang menunjukkan bahwa anak didengar dan dihargai.

Misalnya, ketika sedang sibuk memasak, orang tua bisa mengatakan, “Mama dengar ceritamu. Tunggu sebentar, setelah selesai memasak kita ngobrol, ya.”

Respons sederhana seperti itu berbeda dengan langsung mengabaikan atau membentak anak.

Ketika dilakukan berulang kali, perhatian semacam ini dapat membantu membangun rasa aman dalam hubungan orang tua dan anak. 

Anak belajar bahwa dirinya memiliki tempat untuk berbicara dan mencari koneksi.

4. Mengubah Cara Pandang terhadap Tantrum Anak

Tantrum merupakan salah satu situasi yang paling mudah menguji kesabaran orang tua.

Anak menangis, berteriak, menjatuhkan diri, menolak arahan, atau tampak tidak bisa diajak berkomunikasi. 

Dalam kondisi seperti itu, orang tua mungkin spontan menganggap anak sedang sengaja mencari masalah.

Namun, salah satu kebiasaan yang dibahas YourTango adalah mengubah cara pandang terhadap tantrum. 

Alih-alih langsung menganggapnya sebagai manipulasi, orang tua dapat melihat tantrum sebagai tanda bahwa anak sedang mengalami tekanan atau kesulitan mengelola emosi.

Perubahan cara pandang tersebut dapat mengubah respons orang tua secara signifikan.

Jika tantrum dianggap sebagai bentuk perlawanan yang harus segera dihentikan, respons yang muncul mungkin berupa bentakan. 

Sebaliknya, jika orang tua melihatnya sebagai kondisi emosional yang sedang memuncak, mereka dapat lebih fokus pada keamanan dan membantu anak kembali tenang.

Tentu saja, memahami tantrum bukan berarti membiarkan semua perilaku anak. Batasan tetap diperlukan.

Bedanya, batasan dapat disampaikan tanpa mempermalukan atau menakut-nakuti anak. 

Orang tua bisa tetap tegas sambil menunjukkan bahwa emosi anak diterima, sedangkan perilaku tertentu tetap memiliki konsekuensi.

Inilah salah satu bentuk kesabaran yang paling nyata dalam pengasuhan.

5. Belajar Membaca Emosi Anak dari Bahasa Tubuhnya

Tidak semua anak mampu mengatakan, “Aku sedang kecewa,” atau “Aku merasa terlalu banyak tekanan.”

Anak mungkin hanya diam, menghindari kontak mata, menjadi lebih mudah marah, menangis, atau tiba-tiba menolak melakukan sesuatu. 

Orang tua yang sabar berusaha membaca tanda-tanda tersebut sebelum buru-buru memberikan penilaian.

YourTango menekankan pentingnya memperhatikan ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta perubahan emosi anak. 

Kepekaan seperti ini dapat membantu orang tua merespons kebutuhan anak dengan lebih tepat.

Misalnya, anak yang tiba-tiba marah setelah pulang sekolah belum tentu sedang menjadi “anak nakal”. 

Bisa saja ia kelelahan, lapar, mengalami konflik dengan teman, atau terlalu banyak menerima stimulasi sepanjang hari.

Ketika orang tua berhenti sejenak untuk mencari penyebab di balik perilaku, komunikasi menjadi lebih terbuka.

Kebiasaan ini juga membantu orang tua mengenali bahwa perilaku anak sering kali merupakan bentuk komunikasi.

Anak mungkin belum mempunyai kosakata emosional yang cukup untuk menjelaskan perasaannya. 

Karena itu, orang tua dapat membantu dengan memberikan nama pada emosi tersebut: “Kamu kelihatannya kecewa karena permainannya harus berhenti, ya?”

Kalimat sederhana dapat menjadi awal bagi anak untuk belajar mengenali emosinya sendiri.

6. Tidak Lupa Menikmati Keseruan dan Kegembiraan Anak

Menjadi orang tua sering membuat seseorang terlalu fokus pada aturan, jadwal, pekerjaan rumah, sekolah, makanan, tidur, dan berbagai tanggung jawab lainnya.

Akibatnya, perilaku anak yang sebenarnya merupakan bentuk kegembiraan terkadang justru dianggap merepotkan.

Menurut YourTango, orang tua yang sabar berusaha melihat kembali sisi menyenangkan dari dunia anak. 

Mereka tidak selalu memandang suara berisik, rasa ingin tahu, atau antusiasme anak sebagai gangguan yang harus segera dihentikan.

Tentu ada waktu ketika anak memang harus diarahkan. Anak tidak bisa dibiarkan berteriak di tempat umum atau mengganggu orang lain tanpa batas.

Namun, ada perbedaan antara mengajarkan batasan dan mematikan spontanitas anak.

Anak yang tertawa keras ketika bermain, berlari-lari di rumah, atau terlalu antusias menceritakan sesuatu sebenarnya sedang menunjukkan kegembiraan. 

Sesekali ikut tertawa, mendengarkan cerita mereka, atau memberikan waktu untuk bermain dapat membuat hubungan orang tua dan anak terasa lebih hangat.

Orang tua juga mendapatkan manfaatnya. Ketika terlalu fokus pada tugas dan kewajiban, orang dewasa bisa lupa bahwa masa kanak-kanak berlangsung sangat singkat. 

Momen sederhana yang hari ini terasa melelahkan mungkin justru menjadi kenangan yang paling dirindukan di kemudian hari.

7. Meluangkan Waktu untuk Tertawa dan Bermain Bersama

Kebiasaan terakhir terlihat sederhana, tetapi sering kali justru terlupakan: bermain dan tertawa bersama anak.

YourTango mengutip pandangan Yolanda Renteria bahwa sebagian orang dewasa tidak terbiasa bermain bersama orang dewasa ketika mereka masih kecil. 

Akibatnya, bermain dengan anak sendiri terkadang terasa asing atau canggung. Padahal, aktivitas tersebut dapat memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak.

Bermain tidak harus berarti membeli mainan mahal atau menyediakan waktu berjam-jam.

Orang tua bisa bermain tebak-tebakan, membaca buku bersama, membuat suara lucu, bermain peran, menggambar, atau sekadar bercanda selama beberapa menit.

Lalu yang penting adalah kehadiran. Ketika orang tua benar-benar ikut masuk ke dunia anak, anak mendapatkan pesan bahwa dirinya menarik, menyenangkan, dan layak mendapatkan perhatian.

Bagi orang tua, bermain juga dapat menjadi kesempatan untuk melepaskan sejenak tekanan kehidupan sehari-hari. 

Tertawa bersama anak dapat membuat hubungan terasa lebih ringan dan tidak hanya dipenuhi instruksi seperti “jangan”, “cepat”, atau “kamu harus”.

Pada akhirnya, kesabaran dalam parenting tidak selalu terlihat dari kemampuan orang tua menghadapi situasi besar. Sering kali, kesabaran justru dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Kesabaran dalam Parenting Dibangun dari Kebiasaan Kecil

Menjadi orang tua yang sabar bukan berarti tidak pernah marah. Tidak ada orang tua yang mampu menjaga ketenangan setiap saat.

Namun, orang tua dapat belajar untuk mengenali pemicu emosinya, memperbaiki cara merespons anak, dan membangun kebiasaan yang membuat hubungan keluarga lebih sehat.

Tujuh kebiasaan yang dirangkum dari YourTango tersebut menunjukkan bahwa kesabaran dapat dimulai dari hal sederhana: memutus pola pengasuhan yang tidak sehat, terus belajar, memperhatikan upaya anak untuk terhubung, memahami tantrum, membaca emosi, menikmati kegembiraan, serta meluangkan waktu untuk bermain.

Pada akhirnya, anak mungkin tidak akan mengingat setiap nasihat yang diberikan orang tua. Namun, mereka sangat mungkin mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekat orang tua.

Karena itu, rumah yang penuh kesabaran bukan berarti rumah tanpa konflik. Rumah yang penuh kesabaran adalah tempat di mana setiap orang, termasuk anak, memiliki kesempatan untuk belajar, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan tetap merasa dicintai.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti